Industri Agro Nasional Ditargetkan Tumbuh 7,5%

NERACA

Jakarta – Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto menargetkan pertumbuhan industri agro nasional pada tahun 2015 akan mencapai 7,5% dengan kontribusi terhadap PDB industri pengolahan non-migas sebesar 46%. Panggah mengharapkan target tersebut dapat mengakselerasi pengembangan industri agro di dalam negeri sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara industri yang tangguh dan berdaya saing.

“Pengembangan industri agro memerlukan komitmen dan dukungan dari seluruh pihak (stakeholders) yang terlibat, baik dari instansi pemerintah pusat, daerah dan dunia usaha,” tegasnya pada Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Penyusunan Program Kebijakan Pengembangan Industri Agro Tahun 2015 di Kementerian Perindustrian di Jakarta, dikutip dari keterangan resmi Kemenperin, Rabu (11/3).

Dapat disampaikan, kontribusi industri agro terhadap PDB industri pengolahan non migas pada tahun 2014 sebesar 45,74% atau naik dibandingkan tahun 2013 sebesar 44,64%. Sedangkan, laju pertumbuhan industri agro tahun 2014 mencapai 7,12% atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 4,23%. “Diperkirakan pertumbuhan industri agro akan terus meningkat pada tahun 2015 dengan target sebesar 7,5%, sedangkan pada tahun 2019 kami optimistis mampu mencapai 8%,” tegas Panggah.

Selanjutnya Panggah juga menargetkan nilai ekspor industri agro pada tahun 2015 akan mencapai USD 35,42 Miliar. Sementara itu, nilai investasi PMDN sebesar Rp. 60 triliun dan PMA sebesar USD 20 Miliar serta penyerapan tenaga kerja sektor industri agro sebanyak 2 juta orang.

Dalam upaya mencapai target-target yang telah ditetapkan tersebut, strategi utama yang dilakukan Kementerian Perindustrian dalam pengembangan industri agro nasional, meliputi 4 kategori yaitu: (1) Regulasi, seperti pengenaan bea keluar, larangan ekspor bahan baku serta pemberian insentif tax holiday dan tax allowance; (2) Intervensi, seperti bantuan peralatan dan mesin, bantuan sertifikasi SVLK dan V-legal, serta promosi pasar melalui pameran di dalam maupun luar negeri; (3) Fasilitasi/Pendampingan, seperti pelatihan desain, peningkatan kompetensi SDM, kualitas dan mutu, serta pendampingan teknologi; (4) Sosialisasi melalui peraturan-peraturan dan standardisasi.

Panggah memastikan, strategi dan kebijakan pengembangan industri agro tetap diarahkan pada kebijakan hilirisasi, yang merupakan salah satu strategi dasar peningkatan nilai tambah produk agro nasional. “Pemberian insentif pajak berupa tax holiday dan tax-allowance serta fasilitas Bea Keluar akan tetap dipertahankan untuk merangsang industri dalam negeri berproduksi menggunakan sumber daya alam yang tersedia,” ujarnya.

Di samping itu, ditetapkan juga prioritas pengembangan industri agro dalam dokumen Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), antara lain: (1) Industri Berdaya Saing Kuat, meliputi industri berbasis minyak sawit, berbasis karet, berbasis rumput laut, berbasis pulp dan kertas serta industri pengeolahan kakao; (2) Industri Berdaya Saing Moderat, meliputi industri pengolahan kayu dan rotan, kopi, teh dan ikan; (3) Industri Penunjang Pangan, meliputi industri gula berbasis tebu, tepung terigu, pakan ternak, pengolahan susu, dan pengolahan buah; (4) Industri Yang Dikendalikan, meliputi industri hasil tembakau dan industri minuman beralkohol.

Panggah juga menegaskan, Kementerian Perindustrian terus mendorong pertumbuhan dan peningkatan daya saing industri agro nasional. Pasalnya, Indonesia sebagai negara yang sedang tumbuh mempunyai prospek cukup besar untuk pengembangan industri agro di dalam negeri karena didukung dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan beragam, ketersediaan SDM industri karena jumlah penduduk yang besar dan terus bertambah, serta peningkatan daya beli masyarakat yang semakin tinggi dengan bertambahnya masyarakat kelas menengah di Indonesia.

Hingga saat ini Indonesia merupakan produsen produk pertanian utama dengan komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, karet, dan rotan. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia dengan produksi minyak sawit (CPO dan CPKO) tahun 2014 mencapai 31 juta ton, kakao sekitar 450 ribu ton dan karet sekitar 3,23 juta ton. Indonesia juga merupakan produsen rotan yang sangat potensial, lebih dari 85% populasi rotan dunia berasal dari Indonesia dengan produksi sebesar 143 ribu ton.

Menurut Panggah, strategi pembinaan dan pengembangan industri agro nasional akan berhasil dengan baik apabila dilakukan koordinasi dan sinkronisasi yang sinergis antar instansi terkait baik pusat maupun daerah dalam perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan industri agro secara keseluruhan.

Related posts