Rupiah Melemah Harga Obat Melambung

NERACA

Penurunan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ini membuat sejumlah sektor sudah mulai berdampak, seperti halnya dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berpengaruh terhadap harga obat. Terutama harga obat impor bisa mengalami kenaikan.

"Tentu posisi ini juga akan berpengaruh pada kenaikan pembangunan fasilitas kesehatan atau Rumah Sakit (RS) yang peralatannya masih juga impor," kata anggota Komisi IX DPR Siti Masrifah di Jakarta, Selasa (10/03/2015).

Selain kurs rupiah, kata anggota F-PKB DPR ini, memang ada beberapa hal yang mempengaruhi harga obat sebenarnya. "Industri farmasi dibebani macam-macam mulai PPN, pajak alat kesehatan perizinan yang rumit dan macam-macam," terang dia.

Ketua DPP Perempuan Bangsa ini khawatir jika rupiah terus melemah bisa membuat harga obat industri farmasi Indonesia lebih mahal dari obat Industri negara-negara Asean lainnya. "Ini akan menguntungkan industri farmasi negara lain hingga bisa menjual obatnya di negara kita dengan harga yang lebih murah," imbuhnya.

Kemudian, lanjut dia, alasan lainnya ialah nilai tukar rupiah dengan mata uang asing yang masih belum stabil.

Sedangkan Ketua Komite Eksekutif, International Pharmaceutical Manufactures Group (IPMG), Luthfi Mardiansyah, mengatakan, harga obat di Indonesia terlampau tinggi, hal ini disebabkan 90 persen bahan baku obat masih harus didatangkan dari luar negeri.

"Ada persepsi di masyarakat kalau harga obat mahal karena ada biaya tambahan. Menurut kami bukan. Obat mahal karena bahan bakunya 90 persen masih impor," ujar Luthfi dalam temu media di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan, hal ini bahkan menyebabkan pihak pelaku industri farmasi tidak mampu menyiapkan stok bahan baku untuk dua tahun ke depan. "Kita tidak bisa beli stok bahan baku untuk dua tahun ke depan. Kalau kita beli dengan harga sekarang dua tahun kemudian bisa berubah, karena rupiah masih gonjang- ganjing," kata dia.

Kendati demikian, menurut Luthfi, keberadaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membantu masyarakat mendapatkan obat dengan harga lebih murah dari pasaran. Di samping itu, JKN juga berpengaruh meningkatkan pasar farmasi terutama kebutuhan masyarakat pada obat berkualitas dan inovatif. "Harga obat di JKN, 40 persen lebih rendah dari di pasaran," pungkas dia.

Related posts