Mayoritas Pengaduan tentang Kartu Kredit

NERACA

Jakarta - Divisi Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran Bank Indonesia menyebutkan bahwa hingga Januari 2015, dari 2.157 pengaduan sebanyak 78% mengenai kartu kredit. "Pengaduan paling banyak masih mengenai kartu kredit yang hilang dan digunakan pihak lain, 'debt collector' dan penyalahgunaan data," kata Direktur Kepala Grup Pengawasan Sistem Pembayaran dan PVA Bank Indonesia, Ida Nuryanti di Jakarta, Selasa (10/3).

Dia mengatakan kasus kartu kredit itu terjadi karena berbagai faktor seperti kelalaian pemegang lalu dicuri, bisa juga digunakan keluarga dan lainnya. Mengenai "debt collector" pihaknya telah memberikan aturan ketat dan pemberian sanksi dari peneguran hingga pencabutan izin.

Pengaduan lainnya mengenai kartu ATM/Debet sebanyak 13%, transfer dana sebanyak lima persen, penyediaan dan penyetoran uang sebanyak satu persen, uang elektronik sebanyak satu persen, daftar hitam nasional sebanyak satu persen dan lain-lain terkait sistem pembayaran sebanyak satu persen.

Sementara itu total permintaan informasi hingga Januari 2015 mencapai 6465 permintaan sebanyak 70% terkait penyediaan dan penyetoran uang. "Permintaan informasi terkait penyediaan dan penyetoran uang paling banyak mengenai uang rusak, uang yang telah dicabut peredarannya dan lokasi penukaran uang," kata Ida.

Menurut Ida, teknologi yang maju membuat kegiatan sistem pembayaran juga tumbuh sangat cepat sehingga pengawasannya juga lebih kompleks oleh sebab itu banyak cakupan sistem pembayaran yang memerlukan koordinasi dengan instansi terkait.

Dia juga mengatakan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi dalam memberikan edukasi dan sosialisasi bersama kepada masyarakat, menangani penyelesaian pengaduan sesuai dengan kewenangan masing-masing institusi dan prinsip pengaturan dalam perlindungan konsumen yang relatif sama. [ardi]

Related posts