Terkoreksi, Penjualan Semen Lokal Anjlok 8,2% - Dampak Curah Hujan Tinggi

NERACA

Jakarta - Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyatakan, penjualan semen domestik turun 8,2% menjadi 4,13 juta ton pada Februari 2015, dibanding realisasi bulan yang sama tahun lalu sebesar 4,5 juta ton karena dipicu tingginya curah hujan dan belum direalisasikannya proyek infrastruktur pemerintah.

“Aktivitas pembangunan sulit dilakukan di tengah tingginya curah hujan. Selain itu, harga komoditas perkebunan dan pertambangan belum stabil, sehingga daya beli masyarakat masih tertekan dan kondisi ini membuat penjualan semen turun,” kata Ketua ASI, Widodo Santoso, di Jakarta, Selasa (10/3).

Penjualan semen di Sumatera pada Februari 2015, menurut Widodo, turun 10,7% dibanding bulan sebelumnya, dari 924.000 ton menjadi 864.000 ton, Jawa turun 7,7% dari 2,5 juta ton menjadi 2,2 juta ton, Kalimantan turun 8,7% dari 327.000 ton menjadi 320.000 ton, Sulawesi turun 8,5% dari 334.000 ton menjadi 312.000 ton, dan Bali Nusa Tenggara turun 14,1% menjadi 264.000 ton. Selanjutnya, penjualan semen di Maluku dan Papua naik 3,3% menjadi 95.000 ton. “Penjualan semen diperkirakan meningkat pada April mendatang, karena banyak proyek infrastruktur pemerintah yang akan dimulai,” paparnya.

Widodo menambahkan, maraknya pembangunan pembangkit listrik di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi juga akan menyerap banyak semen. Selama ini, penjualan semen banyak diserap proyek infrastruktur, properti, dan perumahan masyarakat. “Per Februari 2015, akumulasi penjualan semen mencapai 8,6 juta ton. Semoga cuaca pada April mendatang lebih bagus, sehingga penjualan semen naik,” tuturnya.

Sebelumnya, penjualan semen pada Januari 2015 turun 2,9 persen menjadi 4,5 juta ton dibanding bulan sama 2014. Penurunan penjualan tersebut terjadi di hampir semua pulau besar di Indonesia. “Hal itu kemungkinan terjadi karena tingginya intensitas hujan, serta harga-harga komoditas pertambangan dan perkebunan belum menggeliat,” kata dia.

Widodo memaparkan, penurunan terparah terjadi di pulau Kalimantan. Sepanjang bulan lalu, penjualan semen di pulau tersebut turun hingga 12,8 persen dibanding Januari 2014 menjadi 327 ribu ton. Penurunan penjualan cukup besar juga terjadi di pulau Sumatera yang sebesar 9,6 persen menjadi 924 ribu ton.

“Di Bali dan Nusa Tenggara, penjualan semen turun 4,6 persen menjadi 245 ribu ton, disusul Sulawesi yang merosot 4,1 persen menjadi 334 ribu ton. Adapun di pulau Jawa, penjualan semen stagnan di posisi 2,55 juta ton,” jelas Widodo.

Dia melanjutkan, kenaikan penjualan hanya terjadi di Maluku dan Papua. Sepanjang Januari 2015, penjualan semen di wilayah tersebut naik 42,5 persen menjadi 125 ribu ton. Widodo memperkirakan, penjualan semen masih sama pada Februari 2015. “Jika pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur pertengahan Maret mendatang, ada potens penjualan semen meningkat,” ujar dia.

Sementara itu, sejumlah produsen semen dalam negeri berencana menambah kapasitas produksi tahun ini. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menyiapkan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 6 triliun tahun ini untuk mendanai ekspansi pabrik di Rembang (Jawa Tengah) dan Padang (Sumatera Barat). Perusahaan pelat merah ini menargetkan mampu mencapai produksi 31 juta ton semen pada 2015.

Sementara itu, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) juga berniat meningkatkan kapasitas produksi menjadi 3,85 juta ton hingga 2017. Peningkatan kapasitas produksi ini akan dilakukan secara bertahap baik melalui ekspansi pabrik yang sudah ada maupun dengan penambahan pabrik baru.

“Kami terus berupaya meningkatkan produksi semen untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat. Kapasitas produksi terpasang pabrik secara bertahap akan ditingkatkan dari 1,2 juta ton, kemudian 2 juta ton, dan menjadi 3,85 juta ton per tahun," kata Kepala Bagian Humas Semen Baturaja Sahadi.

Sahadi menjelaskan, peningkatan kapasitas pabrik akan dilakukan di pabrik Baturaja, Kabupaten OKU, Palembang, dan pabrik di Panjang, Lampung, serta membangun pabrik baru Baturaja II. "Pabrik Baturaja II segera dibangun tahun ini," ujar dia.

Menurut dia, proyek ini dikerjakan selama beberapa tahun (multiyears), mulai 2015 hingga kuarta I-2017. Pabrik semen baru ini akan memiliki kapasitas produksi 1,85 juta ton per tahun dan membutuhkan investasi senilai Rp 3,2 triliun.

Tahun lalu, penjualan semen domestik mencapai 59,9 juta ton, tumbuh 3,3 persen dari 2013. Jumlah itu di bawah target pertumbuhan yang dipatok Asosiasi Semen Indonesia (ASI) sebesar 3,5-4 persen. Awalnya, ASI mematok target pertumbuhan penjualan tahun ini sebesar 6 persen menjadi 61,5 juta ton.

Related posts