Laba Kimia Farma Capai Rp 234,62 Miliar

NERACA

Jakarta – Sepanjang tahun 2014 lalu, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencetak laba bersih Rp 234,62 miliar atau naik 9,69% dibandingkan tahun 2013,”Perolehan laba bersih sejalan dengan naiknya penjualan 3,9% menjadi Rp 4,52 triliun dibandingkan setahun sebelumnya Rp 4,35 triliun," kata Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Farida Astuti di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, kenaikan laba dan penjualan juga mengerek beban pokok menjadi Rp 3,13 triliun atau naik tipis 2,62% dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 3,05 triliun. Sedangkan laba usaha tercatat naik 16,58% menjadi Rp 342,48 miliar dari Rp 293,76 miliar. Kinerja tersebut menyebabkan laba bersih per saham mencapai Rp 42,24 miliar per saham atau naik 9,75% dibandingakan Rp 38,63 per saham.

Farida menambahkan, total aset 2014 naik 20,08 persen menjadi Rp 496 miliar dengan liabilitas naik 36,5% menjadi Rp 309 miliar. "Kenaikan lialibilitas tidak memengaruhi kegiatan operasional perseroan,” ungkap dia.

Dia mengatakan, kenaikan tersebut disebabkan peningkatan kas dan setara kas yang lebih tinggi dari kenaikan pembayaran kepada pemasok, karyawan, dan beban usaha. Peningkatan tersebut tercatat sebesar 45,47% atau sebesar Rp 179 miliar yang disebabkan penerimaan dari pelanggan naik Rp 295 miliar.

Selain itu, perseroan juga melakukan investasi Rp 165 miliar kepada PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia. Investasi tersebut menyebabkann naiknya investasi pada entitas asosiasi. Utang perseroan tercatat membengkak 177,60% yang disebabkan pinjaman paada PT Bank Central Asia yang jatuh tempo pada Januari 2015.

Penerbitan pinjaman jangka menengah (medium term notes/MTN) sebesar Rp 200 miliar yang dialokasikan untuk modal kerja dan pengembangan usaha pada Oktober 2014 lalu juga berdampak pada kenaikan pembayaran beban bunga. “MTN dengan jangka waktu 18 bulan menyebabkan pembayaran beban bunga naik hingga 178% atau Rp 17 miliar,” terang Farida.

Tahun ini, perusahaan farmasi plat merah ini menargetkan laba bersih Rp 260 miliar atau tumbuh dari pencapaian laba 2014. Kemudian untuk belanja modal, Kimia Farma mengalokasikan dana sebesar Rp 590 miliar yang digunakan untuk membangun pabrik baru di Banjaran, Bandung Jawa Barat. Kemudian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, rupanya memberikan dampak yang berarti terhadap performance kinerja keuangan perseroan. Pasalnya, sebagian besar bahan baku farmasi masih impor.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Rusdi Rosman pernah bilang, jika nilai tukar rupiah terus melemah, maka perseroan akan menaikkan harga jual produk di kuartal pertama tahun ini. Kebijakan ini terutama akan diterapkan terhadap produk-prodyuk yang marginnya sudah sangat tipis atau bahkan merugi,”Mungkin sekitar 40 produk yang akan kami naikkan harganya,”ujarnya.

Kata Rusdi, besaran kenaikan harga ini berada di kisaran antara 5% hingga 10%. Menurutnya, depresiasi rupiah bukan satu-satunya faktor yang membuat Kimia Farma mengambil kebijakan tersebut. Namun tarif dasar listrik dan upah buruh juga menjadi salah satu pertimbangan perseroan. (bani)

Related posts