AKR Land Optimis Hadapi Tantangan - Industri Properti

NERACA

Jakarta - AKR Land mengaku optimis dalam menghadapi tahun 2015. Meskipun di tahun ini banyak yang menduga bahwa industri properti dalam negeri akan bergerak lamban karena banyaknya aturan pemerintah, seperti yang terbaru adalah rencana mengenakan PPh pasal 22 UU No 36 tahun 2008 tentang pemungutan pajak barang mewah (apartemen). Dalam aturan tersebut menjelaskan jika semula pajak itu hanya untuk rumah atau apartemen dengan harga jual diatas Rp10 miliar kini dengan aturan tersebut akan diturunkan menjadi diatas harga Rp2 miliar.

Menganggapi hal itu yang akan mengganggu industri properti, CEO AKR Land Widijanto yang ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (10/3) mengatakan bahwa pihaknya mengaku tetap optimis meskipun pemerintah mempunyai aturan pengenaan pajak atas barang mewah (PPnBM). Bahkan AKR Land tengah mempersiapkan untuk membuat rumah sebanyak 25 ribu unit di Surabaya dengan harga yang terjangkau.

Meskipun nantinya pemerintah menjalankan aturan tersebut, Widijanto menilai demand terhadap rumah maupun apartemen tetap tinggi. Karena menurut dia, saat ini Indonesia kekurangan 1,3 miliar rumah dan hampir setiap bulan permintaan terhadap rumah semakin meningkat. “Saat ini kita punya middle class sebanyak 90 juta orang dan rata-rata mereka adalah orang yang taat terhadap pajak,” katanya.

Ia menilai pemerintah yang tengah fokus pada pembangunan infrastruktur juga akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan industri properti di Indonesia. Pemerintah saat ini mengalokasikan dana sebesar Rp290,3 triliun untuk infrastruktur diantaranya membuat lapangan udara, pelabuhan laut dalam, jaringan kereta api, serta infrastruktur lainnya. “Secara tidak langsung, infrastruktur tersebut akan memberikan dampak positif terhadap industri properti,” ucapnya.

Perkiraan industri properti yang bakal melambat, justru AKR Land tengah mempersiapkan sebuah kawasan distrik baru di Surabaya yang berdekatan dengan pelabuhan. “Kami akan membuat rumah sebanyak 25 ribu unit dengan harga yang terjangkau. Tak hanya rumah saja, namun juga kawasan dengan seluas 800 hektar itu akan dilengkapi dengan sekolah, rumah sakit dan lapangan golf,” tuturnya.

Sejauh in, AKR Land mempunyai beberapa proyek yang tengah dijalankannya, baik itu di Jakarta, Surabaya maupun di Manado. Yang teranyar adalah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kawasan yang dinamakan sebagai New Central Businnes District (CBD), AKR Land sedang mengembangkan komplek properti super block dengan luas tanah sekitar 2 hektar ini nantinya akan dilengkapi dengan apartemen, perkantoran, hotel bertaraf internasional, museum galeri seni dan comercial area.

Di Jakarta Barat sendiri, AKR Land tidak hanya sendiri dalam mengembangkan kawasan segitiga emas tersebut namun juga telah masuk beberapa pengembang properti lainnya seperti Ciputra, Metropolitan dan Lippo. Atas munculnya beberapa pengembang disatu kawasan tersebut tersebut, Widijanto menilai bahwa hal itu merupakan nilai tambah untuk AKR Land untuk berkompetisi dalam menyajikan hunian yang inovatif dan disukai oleh masyarakat.

Berbicara soal kualitas hunian, Widijanto menegaskan bahwa pihaknya bermitra dengan kontraktor ternama yaitu Tata Mulia Nusantara. Kontraktor tersebut dinilai sangat memperhatikan ketangguhan bangunan melalui Standard Operating Procedure (SOP) pembangunan yang sangat ketat. Karena Tata Mulia Nusantara telah berkarya selama 30 tahun dan cukup terpercaya, terbaik dan profesional. “Dengan demikian, bangunan yang disajikan oleh AKR Land akan mampu berdiri tangguh dan dengan kualitas bangunan yang lebih baik,” ucapnya.

Widijanto mengingatkan, mungkin saja di 2015 merupakan tahun yang penuh tantangan baru namun pada dasarnya setiap pelaku usaha harus selalu siap sehingga pada saat perekonomian membaik dan tumbuh dengan cepat maka pelaku usaha siap untuk berlari kencang. “Saya setuju jika sekarang saatnya menanam. Ambilah kesempatan untuk memulai melakukan investasi yang berarti, memang sebaiknya tidak berharap bisa memetik hasil secara instan namun lakukan semuanya dengan perlahan dan pasti,” pungkasnya seraya optimis.

Diprediksi Lesu

Pada kesempatan sebelumnya, Direktur Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghada memprediksi di tahun 2015 akan menjadi titik terendah pasar properti indonesia. Pasalnya industri properti ini akan kembali diuji mulai dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) karena dilepas ke pasar hingga potensi adanya kenaikan suku bunga acuan atau BI rate.

Ia memaparkan pada 2014, lantaran ada kenaikan BBM dan dibarengan dengan kenaikan BI rate, maka sampai triwulan ke III 2014 telah terjadi penurunan penjualan properti lebih dari 69% dibandingkan triwulan ke III di 2013. Ia memperkirakan setiap kenaikan 1% suku bunga maka akan menurunkan daya beli sebesar 4-5%. Ditambah dengan kenaikan harga BBM maka multiplier effectnya bisa menurun minimal 30%.

Ia menghimbau agar di 2015 para pengembang bisa waspada utk ekspansi untk segmen menengak atau atas. Penurunan industri ini juga bisa dikaitkan dgn rencana pemerintah mengenakan pph pasal 22 uu no 36 tahun 2008 tentang pemungutan pajak barang mewah (apartemen). Jika semula pajak hanya dikenakan utk rumah dan apartemen yg dijual diatas Rp10 miliar, rencananya akan duturunkan utk rumah dan apartemen ddr harga Rp2 miliar.

Related posts