Meskipun Rupiah Loyo, IHSG Masih Perkasa

NERACA

Jakarta – Sempat tertekan di awal perdagangan, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa akhirnya berhasil ditutup menguat 18,294 poin (0,34%) ke level 5.462,928. Sementara Indeks LQ45 ditutup tumbuh 2,851 poin (0,30%) ke level 949,396. IHSG BEI pada hari ini (10/3) bergerak bervariasi akibat aksi spekulasi pelaku pasar menyusul mata uang domestik yang cenderung tertekan hingga menembus level Rp13.000 per dolar AS," ujar Analis Senior LBP Enterprise Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Selasa (10/3).

Lucky mengemukakan bahwa sepanjang perdagangan Selasa, indeks BEI sempat tertekan, namun kembali berbalik arah ke area positif. Bervariasinya IHSG BEI itu menunjukkan pelaku pasar saham cenderung melakukan transaksi jangka pendek,”Aksi pelaku pasar itu mencerminkan IHSG BEI belum mewakili kondisi ekonomi domestik. Untuk menjaga tren positif pasar saham, pemerintah harus melakukan intervensi salah satunya dengan menjaga harga bahan pokok, hal itu nantinya akan memberikan sinyal positif bagi fundamental ekonomi domestik," katanya.

Di sisi lain, lanjut Lucky Bayu Purnomo, diharapkan Bank Indonesia kembali menurunkan tingkat suku bunga (BI rate) untuk mendorong perekonomian domestik melalui jalur kredit. Sementara analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Haryanto menambahkan, potensi IHSG BEI menguat masih cukup terbuka, valuasi IHSG saat ini masih cukup atraktif dengan "price to earning ratio" (PER) saat ini sekitar 16 kali,”Valuasi IHSG BEI masih bersaing dengan bursa saham di kawasan Asia yang berkisar 14-17 kali. Dengan asumsi tersebut, potensi IHSG melanjutkan kenaikan masih terbuka," kata Tri.

Selanjutnya pada perdagangan Rabu, indeks BEI diproyeksikan masih bertahan di zona hijau seiring dengan optimisme pelaku pasar bila BI bakal kembali menurunkan BI Rate. Pada perdagangan kemarin, sTop of Form

Bottom of Form

aham-saham tambang dan infrastruktur jadi sasaran aksi jual. Koreksi saham di sektor tersebut bisa tertutupi oleh penguatan saham finansial, konstruksi, dan konsumer.

Dana asing masih mengalir ke luar lantai BEI. Transaksi investor asing hingga sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net buy) senilai Rp 484,958 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 269.032 kali dengan volume 7,794 miliar lembar saham senilai Rp 6,178 triliun. Sebanyak 142 saham naik, 140 turun, dan 98 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia merespons pelemahan Wall Street dengan mengekor ke zona merah sampai penutupan perdagangan. Tak satu pun bursa Asia yang ditutup positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah United Tractor (UNTR) naik Rp 725 ke Rp 21.450, Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 500 ke Rp 10.000, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 500 ke Rp 54.475, dan Mayora (MYOR) naik Rp 450 ke Rp 25.300.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Metropolitan Kentjana (MKPI) turun Rp 1.300 ke Rp 14.000, Matahari (LPPF) turun Rp 250 ke Rp 17.850, Buana Finance (BBLD) turun Rp 245 ke Rp 755, dan Indocement (INTP) turun Rp 200 ke Rp 23.800.

Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG naik 16,405 poin (0,30%) ke level 5.461,039. Sementara Indeks LQ45 menguat 3,288 poin (0,35%) ke level 949,833. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 158.059 kali dengan volume 4,577 miliar lembar saham senilai Rp 3,466 triliun. Sebanyak 134 saham naik, 100 turun, dan 97 saham stagnan.

Bursa-bursa regional siang bergerak fluktuatif cenderung melemah. Hanya bursa saham Singapura yang bisa menemani BEI di teritori positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah United Tractor (UNTR) naik Rp 600 ke Rp 21.225, Matahari (LPPF) naik Rp 450 ke Rp 18.550, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 425 ke Rp 54.400, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 400 ke Rp 12.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 325 ke Rp 37.175, Indocement (INTP) turun Rp 300 ke Rp 23.700, Golden Energy (GEMS) turun Rp 270 ke Rp 1.680, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 150 ke Rp 16.650.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah sebesar 7,50 poin atau 0,14% menjadi 5.437,13. Sementara kelompok 45 saham unggulan(indeks LQ45) turun 1,89 poin (0,20%) ke level 944,65,”Bursa saham Indonesia masih dibayangi oleh kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp13.000 per dolar AS. Melemahnya rupiah seiring membaiknya perekonomian AS, hal itu terlihat dari mulai meningkatkan pertambahan jumlah tenaga kerja," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah..

Alfiansyah mengemukakan jumlah penambahan pekerja AS diluar sektor pertanian mencapai sekitar 295.000 pekerja, itu melebihi perkiraan analis sebanyak 240 ribu pekerja. Tingkat pengangguran AS juga turun ke 5,5% di bulan Februari dari 5,7% pada bulan sebelumnya. Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 49,34 poin (0,20%) ke 24.073,71, indeks Bursa Nikkei naik 71,94 poin (0,38%) ke 18.863,07, dan Straits Times menguat 5,82 poin (0,18%) ke posisi 3.411,50. (bani)

Related posts