PLN Telan Rugi Kurs Rp 1,3 T - DAMPAK PELEMAHAN KURS RUPIAH TERHADAP DOLAR AS

Jakarta – Dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS mulai terasa di BUMN yang menderita rugi hingga Rp 1,3 triliun dalam 4-5 bulan terakhir ini. Sementara penyebab makin terdepresiasinya rupiah diakui oleh Wapres Jusuf Kalla dan Menkeu Bambang PS Brodjonegoro, ada faktor internal yang harus dibenahi secara perlahan di samping faktor eksternal.

NERACA

Terpuruknya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS akhirnya membuat BUMN Perusahaan Listrik Negara (PLN) menderita rugi Rp 1,3 triliun dalam 4 sampai 5 bulan terakhir. "Selama 4 bulan karena pelemahan rupiah kan harusnya ada price adjustment. Tekanannya 4-5 bulan sekitar Rp 1,3 triliun," ujar Dirut PLN Sofyan Basir di Kantor BUMN di Jakarta, Sabtu (7/3).

Masalah pelemahan kurs rupiah ini juga diakui oleh Wapres Jusuf Kalla, ada faktor internal yang mempengaruhinya dalam beberapa waktu belakangan ini. "Ada faktor internal justru karena mengurangnya ekspor, mengurangnya devisa, orang bayar utang, sehingga dollar dicari. Artinya rupiah mencari apa itu, orang banyak membeli dollar, berarti dolarnya mengut, pastilah, kalau ekspor kita menurun kemudian banyak orang butuh dollar, pasti terjadi juga itu," kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, akhir pekan lalu.

Secara terpisah, Menkeu Bambang PS Brodjonegoro menegaskan, tidak ada cara instan yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kurs ripiah. Lain halnya dari Bank Indonesia (BI) yang bisa melakukan intervensi di pasar uang, pemerintah harus perlahan-lahan menurunan defisit transaksi berjalan.

“Kalau ditanya apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk bisa memperbaiki nilai rupiah? Jawabannya memang bukan jawaban instan. Bukan dengan mengucurkan uang seperti BI intervensi di pasar uang. Tapi pemerintah harus memperbaiki kondisi makro,” ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun berbeda alasan yang disampaikan Gubernur BI Agus Martowardojo. Dia mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan oleh membaiknya ekonomi Amerika Serikat. Kendati begitu, Agus meminta agar masyarakat tidak khawatir dengan rupiah yang masih berputar di kisaran Rp 13.000. "Rupiah memang sedang berfluktuasi. Namun, kondisi keuangan dan makro ekonomi secara umum masih bagus. Jadi, enggak perlu khawatir," ujarnya.

Menurut data BI kemarin, kurs rupiah ditutup pada posisi Rp 13.050 per US$, lebih rendah dibandingkan akhir pekan lalu yang tercatat Rp 12.982 per US$.

Defisit Neraca Perdagangan

Pengamat ekonomi UI Telisa Aulia Falianty menilai pelemahan rupiah karena faktor eksternal maupun internal. Dari sisi internal, menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia yang tidak membaik ikut menyumbangkan pelemahan terhadap rupiah. Sementara dari sisi eksternal, ekonomi Amerika yang mulai pulih dan India yang mulai menurukan suku bunganya membuat dampak terhadap ekonomi Indonesia, serta pelemahan ekonomi Tiongkok yang masih berlangsung saat ini.

“Dari internal sendiri, banyak sekali kebijakan pemerintah yang membuat harga mengalami kenaikan, mulai dari BBM, gas, listrik dan terakhir tarif tol. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia yang defisit juga menjadi tanda bahwa kita masih mengandalkan impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibatnya, fundamental ekonomi jadi lemah dan mata uang rupiah rentan terkoreksi dengan dolar,” ujarnya kepada Neraca, Senin (9/2).

Selain itu, Telisa juga menyatakan permintaan US$ yang tinggi ikut membuat rupiah semakin loyo. Itu terjadi karena masih banyaknya penggunaan dolar AS di dalam negeri. “Di Indonesia masih ada saja yang melakukan transaksi masih menggunakan dolar padahal yang melakukan transaksi adalah antar orang atau perusahaan Indonesia. Di sisi lain, pemerintah masih mengandalkan utang luar negeri,” ujarnya.

Soal BUMN yang merugi akibat pelemahan rupiah ini, Telisa menyebutkan BUMN-BUMN akan merugi ketika masih mengandalkan impor untuk bahan baku, dan BUMN yang melakukan transaksi menggunakan dolar AS namun pendapatan dalam bentuk rupiah. “Misalnya PLN, karena PLN menggunakan dolar untuk membeli alat-alat namun pendapatan mereka dalam rupiah. Selain itu juga PT Garuda Indonesia karena dia membeli dan menyicil pesawat dalam bentuk dolar AS namun pendapatannya dalam rupiah. Serta BUMN yang masih memiliki utang luar negeri,” ujarnya.

Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai, depresiasi rupiah terhadap dolar AS memang karena faktor eksternal dimana kondisi ekonomi Amerika yang membaik mengakibatkan banyak dana asing ke luar. Tapi perlu dicatat depresiasi rupiah ini juga karena faktor internal karena memang fundamental dalam negeri yang rapuh. “Depresiasi rupiah ini memang karena factor eksternal, tapi internal juga sangat kuat karena ekonomi Indonesia yang sedang lesu, ditambah fundamental ekonomi yang rapuh,” katanya.

Selain itu, faktor lain yang mengakibatkan depresiasi rupiah salah satunya adalah kegaduhan politik yang memperngaruhi investasi. Investor melihat kondisi politik yang kurang kondusif menjadikan mereka tidak nyaman. “Situasi politik nasional yang tidak kondusif juga salah satu faktor investasi berjalan lamban, yang berakibat rupiah kian terdepresiasi,” ujarnya.

Terhadap dampak depresiasi rupiah terhadap PLN merugi, apakah berpotensi menyebar ke BUMN lainnya? Menurut dia, kerugian yang membelit PLN dikarenakan memang banyak utang PLN yang menggunakan US$, makanya perlu adanya rekstrukturisasi utang PLN, dan BUMN yang berpotensi bisa merugi yang memang banyak utang dengan menggunakan US$ seperti Pertamina, meski Pertamina banyak meraup untung atas penurunan harga minyak kemarin.

Pengamat ekonomi Universitas Atma Jaya A Prasetyantoko mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot, bahkan rupiah menyentuh level 13.000 per US$, karena adanya dua faktor dominan baik eksternal maupun internal yang menekan rupiah.

Dari eksternal, disebabkan membaiknya kondisi ekonomi di Amerika. Selain itu, pelemahan juga dipicu oleh krisis di Yunani yang menyebabkan melemahnya euro. Kemudian dari dalam negeri kondisi perekonomian RI memang belum benar-benar positif. Hal ini terlihat dari neraca transaksi berjalan yang masih tercatat defisit.

"Saya berharap Rp13.000 per US$ merupakan titik terendah rupiah. Agak sulit untuk memproyeksikan. Saya berharap Rp13.000 titik terendah. Moga-moga balik ke Rp12.500. Karena fundamental rupiah di Rp12.500 per U$," kata dia.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya Wira Yudha mengatakan, terpuruknya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS terjadi dalam sepekan ini, menimbulkan kekhawatiran dari semua kalangan alan terpuruknya perekonomian Indonesia.

"Faktor internal dan eksternal ini menjadi penyebab utama terpuruknya dan melemahnya nilai tukar uang rupiah terhadap dolar AS,” ujarnya kemarin.

Menurut dia, faktor internal ditandai dengan tingginya permintaan US$ saat ini di dalam negeri. Penyebab tingginya permintaan dolar itu, karena banyaknya korporasi di dalam negeri yang harus membayar utang bank dari luar negeri. Selama ini, banyak korporasi dalam negeri yang meminjam US$ dari bank luar negeri.

"Sementara ekspor kita tahun ini defisit dan impor meningkat tajam. Sudah bisa diduga dengan tingginya impor, maka kebutuhan terhadap US$ pun meningkat," katanya. iwan/bari/agus/mohar

Related posts