Jangan Bergantung pada Tambang dan Perkebunan

NERACA

Jakarta – Selama ini Indonesia masih ketergantungan terhadap komoditi ekstraktif berupa sektor pertambangan dan perkebunan, ini dinilai membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi terpuruk. Sehingga, berdampak signifikan terhadap masyarakat kalangan berpenghasilan rendah.

Ketua Lingkaran Kajian Ekonomi Nusantara, Didin S Damanhuri mengatakan, jika seharusnya Indonesia mulai memikirkan untuk beralih mengembangkan ke sektor lain Di antaranya adalah sektor manufaktur, yang memiliki potensi untuk dijalankan.

"Dengan adanya komoditi sektor pertambangan dan perkebunan ini yang menjadi sumber kalau harganya jatuh maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terpukul. Warga miskin yang tadinya mendapatkan aliran dana dari komoditi tersebut, hanya mendapatkan dana yang kecil," kata Didin di Jakarta, Senin (9/3).

Didin menjelaskan, bila Indonesia hanya mengandalkan komoditi dari kedua sektor tersebut, maka akan terus berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang juga memukul nilai tukar rupiah.

"Tapi tidak boleh komoditi lebih produktif, harusnya kita lebih berbasis ke industri manufaktur, agar pertumbuhan ekonomi menjadi berkualitas dan mampu menggerakkan serta dinikmati masyarakat bawah khususnya," jelasnya.

"Kalau komoditi sektor pertambangan dan perkebunan, yang menjadi konsep sejak Pemerintahan kemarin hanya segelintir manusia yang menikmatinya," imbuh dia.

Didin mengungkapkan, selain sektor manufaktur, industri dalam negeri juga berpotensi mendapatkan kontribusi dari sektor agro industri. Namun, penggarapan kedua sektor tersebut, harus menjadi sektor yang berbasis kerakyatan bukanlah hanya kepentingan penguasa semata.

"Kalau sektor manufaktur diseriuskan bisa menurunkan kemiskinan, kemarin kan dari jaman yang lalu 18% ke 12% sedangkan kalau sektor agro industri hanya enam persen turun kalau ini serius dijalankan," tandasnya.

Sementara itu, Bank Dunia memperkirakan penurunan harga komoditas berlanjut tahun ini. Saat harga minyak terjungkal dramatis, terdalam ketiga sejak Perang Dunia II, komoditas lainnya pun melanjutkan pelemahan dalam beberapa bulan terakhir.

Bank Dunia dalam laporan yang berjudulCommodity Market Outlookmenyebutkan pertumbuhan produksishale oil,penurunan permintaan, apresiasi dolar AS, risiko geopolitik yang menyurut, dan arahan Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) untuk mempertahankan pangsa pasar ketimbang harga, tersebut telah mendatangkan 'badai' yang menjerumuskan harga minyak.

Harga minyak anjlok 55% dalam 7 bulan dari puncaknya US$108 per barel pada medio Juni 2014 ke US$47 per barel pekan lalu. Jika penurunan berlanjut maka itu dapat melampaui rekor koreksi 67% dalam tujuh bulan pada 1985-1986, dan 75% pada 2008.

Proyeksi saat ini melihat harga minyak rerata tahun ini akan US$53 per barel, 45% lebih rendah dari 2014.

Indeks harga komoditas tiga industri yang dihimpun Bank Dunia, yakni energi, logam dan mineral serta produk pertanian, yang menurun sejak awal 2011 hingga akhir 2014 masing-masing lebih dari 35%, akan melanjutkan kontraksi tahun ini.

Harga logam diprediksi melemah 3% pada 2015 setelah jatuh 12% pada 2014. Pasokan yang melimpah, permintaan yang lemah, dan penguatan dolar AS, juga memperberat harga komoditas ini.

Harga komoditas pangan yang sudah anjlok 20% sejak 2011, diproyeksi turun 4% pada 2015, sejalan dengan prospek panen biji-bijian, minyak goreng dan makanan, serta kopi, yang baik sepanjang 2014-2015.

Adapun pada 2016, pemulihan harga beberapa komoditas cenderung berlangsung meskipun peningkatan itu akan tipis dibandingkan dengan kejatuhan harga yang telah terjadi. [agus]

Related posts