IHSG Masih Dihantui Aksi Ambil Untung

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 70,153 poin (1,27%) ke level 5.444,634. Sementara Indeks LQ45 anjlok 14,236 poin (1,48%) ke level 946,545. Aksi ambil untung investor membuat seharian IHSG berada di zona merah.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Haryanto mengatakan, IHSG BEI mendapat imbas negatif dari bursa saham Asia yang bergerak melemah menyusul ekspektasi bank sentral AS (the Fed) akan menaikan suku bunganya (Fed fund rate) lebih cepat dari perkiraan setelah data tenaga kerja non-pertanian AS tumbuh,”Kenaikan Fed fund rate akan memicu aset dalam bentuk dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor sehingga dapat mendorong dana investasi di pasar negara berisiko berpindah ke AS, situasi itu akan berdampak negatif di pasar saham," katanya di Jakarta, Senin (9/3).

Kendati demikian, menurut dia, sentimen the Fed itu hanya bersifat sementara, investor tentu akan melakukan perhitungan ulang investasinya. Investor akan melihat fundamental negara-negara berkembang yang dinilai mencatatkan pertumbuhan.

Menurutnya, sejauh ini Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi bagi investor. Dia mengemukakan bahwa valuasi IHSG juga masih cukup atraktif dengan "price to earning ratio" (PER) sekitar 16 kali. Valuasi IHSG BEI itu masih bersaing dengan bursa saham di kawasan Asia yang berkisar 14-17 kali. Dengan asumsi tersebut, maka potensi IHSG melanjutkan kenaikan masih terbuka.

Sementara analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menambahkan, koreksi yang terjadi pada saham-saham di dalam negeri pada awal pekan ini dapat dijadikan peluang untuk melakukan akumulasi pembelian,”Secara teknikal, IHSG masih menunjukan potensi penguatan menuju level batas atas 5.547 poin. Potensi penguatan IHSG BEI juga masih didukung oleh ekonomi Indonesia yang stabil, sehingga belum ada hal hal yang perlu di khawatirkan,”tandasnya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih akan terkoreksi. Namun koreksi ini, dinilai masih dalam tahap wajar. Traansaksi investor asing hingga sore kemarin, tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 283,247 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 261.184 kali dengan volume 5,355 miliar lembar saham senilai Rp 6,204 triliun. Sebanyak 66 saham naik, 226 turun, dan 85 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia sore menutup perdagangan dengan mixed cenderung melemah. Hanya bursa saham China yang masih menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Merck (MERK) naik Rp 1.500 ke Rp 146.500, Siloam (SILO) naik Rp 600 ke Rp 13.700, Inti Agri (IIKP) naik Rp 350 ke Rp 2.500, dan HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 200 ke Rp 65.975. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 1.125 ke Rp 20.625, Jembo Cable (JECC) turun Rp 590 ke Rp 2.360, Acset (ACST) turun Rp 400 ke Rp 5.100, dan Blue Bird (BIRD) turun Rp 325 ke Rp 10.250.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup anjlok 68,94 poin atau 1,25% ke level 5.445,84 seiring dengan derasnya aksi jual investor yang memanfaatkan penguatan IHSG yang sempat menyentuh rekor baru 5.500. Tekanan yang dialami IHSG juga dirasakan bursa Asia yang ikut ditutup melemah pada perdagangan sesi siang.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 30,92 poin atau 0,56% menjadi 5.483,85, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 7,81 poin (0,81%) menjadi 952,96,”Mayoritas bursa saham Asia yang melemah, nilai tukar rupiah yang terdepresiasi serta mulai berkurangnya transaksi investor asing di pasar saham domestik menjadi salah satu pendorong IHSG mengalami tekanan," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Menurut dia, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed fund rate) yang diperkirakan lebih cepat menghalangi laju mayoritas bursa saham di Asia, termasuk IHSG BEI untuk melanjutkan kenaikan,”Munculnya spekulasi di pasar bahwa bank sentral AS akan menaikan Fed fund rate lebih cepat dari perkiraan setelah dirilisnya kenaikan 'government payrolls' dan 'non-farm payrolls' (data yang melaporkan jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja AS, diluar pemerintah), serta turunnya angka pengangguran, menjadi penahan laju bursa saham," paparnya.

Dari dalam negeri, dia menambahkan bahwa tren nilai tukar rupiah yang cenderung melemah menambah kekhawatiran investor terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya,”Meski kami mengharapkan masih ada peluang bagi IHSG untuk bertahan di area positif, namun juga perlu untuk mewaspadai aksi 'profit taking' pasca IHSG menyentuh level tertinggi pada akhir pekan lalu (Jumat, 6/3)," katanya.

Head of research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berakibat pada meningkatnya laju inflasi, serta meningkatnya defisit transaksi perdagangan,”Kami merekomendasikan saham yang terkait dengan sektor infrastruktur, seperti sektor konstruksi dan pendukungnya, yaitu semen, beton pracetak, besi-baja dan alat berat," tuturnya.

Menurut dia, jika program pembangunan infrastruktur berjalan seperti yang ditargetkan maka sektor-sektor itu diprediksikan akan mencatatkan kinerja positif. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 186,82 poin (0,77%) ke 23.977,18, indeks Bursa Nikkei turun 82148,23 poin (0,78%) ke 18.822,64, dan Straits Times melemah 29,98 poin (0,88%) ke posisi 3.387,5. (bani)

Related posts