Gurihnya Bisnis Energi Milik AKR Corporindo - Bikin Perusahaan Baru

NERACA

Jakarta – Besarnya permintaan tenaga listrik untuk industri seiring besarnya pertumbuhan industri dalam negeri, rupanya memacu pemerintah untuk terus memperbesar pembangkit tenaga listrik di tanah Air guna memberikan pasokan energi yang stabil. Kondisi ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebagai perusahaan distribusi energi dengan mendirikan cucu perusahaan yang bergerak di bidang industri, perdagangan dan jasa pembangkit tenaga listrik.

Presiden Direktur AKRA dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (9/3) Haryanto Adikoesoemo mengatakan, pendiriaan cucu perusahaan tersebut dilakukan melalui dua anak perusahaannya, yakni PT Santiniluwansa Lestari dan PT Amanah Indo Invest,”Penandatanganan akta pendirian tersebut telah dilakukan antara perseroan dengan anak perusahaannya pada 5 Maret 2015," kata dia.

Adapun cucu perusahaan yang diberi nama PT Energi Manyar Sejahtera itu berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur. Dia menegaskan bahwa transaksi tersebut bukan merupakan transaksi material dan afiliasi maupun benturan kepentingan berdasarkan regulasi yang berlaku.Tahun 2014 lalu, PT AKR Corporindo Tbk dalam bisnisnya dipercaya pemerintah untuk mendistribusikan BBM bersubsidi setelah menang dalam lelang yang digelar Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Kepala BPH Migas Andi N. Sommeng pernah bilang, pihaknya kembali menunjuk PT AKR Corporindo Tbk sebagai perusahaan yang menang dalam lelang untuk distribusi BBM, selain PT Pertamina,”Untuk dua tahun kedepan, AKRA akan menjadi distributor BBM setelah memenangkan beauty contest dari tujuh perusahaan yang mengajukan,”ungkapnya.

Keberhasilan AKR memenangkan lelang pendistribusian BBM bersubsidi mengulangi hasil lelang tahun 2014 dimana AKR dipercaya pemerintah mendistribusikan BBM bersubsidi sebanyak 600 ribu kiloliter (kl) dan Pertamina mendapat jatah distribusi sebanyak 45,4 juta kl.

Lantaran jumlah penyaluran BBM bersubsidi oleh AKR sampai saat ini tak lebih dari 300 ribu kl, BPH kemudian menjadikan wanprestasi tersebut sebagai acuan kedepan. Kesulitan AKR dalam mendistribusikan BBM bersubsidi ke masyarakat karena pereroan baru memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tak lebih dari 300 unit sementara Pertamina melebihi 6 ribu unit."Itu (wanprestasi) juga yang akan kami pertimbangan karena infrastruktur AKR belum banyak yang selesai," kata Andi.

Sebagai informasi, dari total pendapatan AKRA hingga kuartal III (Q3) 2014 yang mencapai Rp. 16,989 triliun, sebanyak Rp, 13,542 triliun atau 79,7% diantaranya datang dari perdagangan dan distribusi BBM. Sementara total pendapatan Q3 tahun 2013 lalu mencapai Rp. 16,170 triliun. Nilai perdaganganBBM AKRA Q3 2014 tersebut naik 6% dari Q3 2013 yang mencapai Rp. 12,775 triliun.

Sepanjang tahun 2014, AKRA memproyeksikan bisa mencatat kenaikan penjualan dan pendapatan 6%-8% year on year (yoy). Tahun 2013, AKRA membukukan penjualan dan pendapatan Rp. 22,337 triliun. Berarti, hingga akhir tahun 2014 AKRA memperkirakan penjualan dan pendapatan berada di kisaran Rp. 23,677 trilun – Rp. 24,123 triliun. (bani)

Related posts