Industri Penerbangan Paling Terpukul Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta - Industri penerbangan paling terpukul saat melemahnya rupiah terhadap dolar AS seperti saat ini yang mencapai Rp13 ribu. Dr. Deddy Marciano Dosen Management Finance Ubaya mengatakan, industri penerbangan termasuk paling terpukul karena transaksi pinjaman banyak dalam bentuk dolar AS. "Mereka beli pesawat dalam bentuk dolar AS, tapi pendapatan dalam bentuk rupiah. Usaha seperti inilah yang paling terpengaruh pada melemahnya rupiah," kata dia, Senin (9/3).

Sebaliknya, industri yang justru mengalami peningkatan saat melemahnya rupiah ini, lanjut dia, adalah usaha ekspor. Pengusaha akan memperoleh pendapatan yang meningkat meskipun kuantitas barang yang dijual tetap. Dr. Deddy menjelaskan, faktor penyebab pelemahan rupiah ini adalah faktor eksternal dan internal. Dalam hal ini faktor eksternal lebih dominan daripada faktor internal. Misalnya pelemahan ekonomi di China dan Jepang. "Ekspor ke China cukup tinggi sehingga pelemahan ekonomi China berdampak ke Indonesia. Jika ekspor menurun maka devisa juga menurun," ujar dia.

Kata Dr. Deddy, pelemahan ekonomi di China dan menguatnya ekonomi di AS tidak hanya berdampak bagi rupiah. Beberapa mata uang asing lainnya juga mengalami pelemahan. Deddy menambahkan, yang dilakukan Bank Indonesia saat ini adalah menahan agar pelemahan itu tidak drastis. "Ini dilakukan agar pasar tidak panik dan ekonomi segera punya adjusment pada kurs," paparnya.

Sementara itu, industri penerbangan domestik meminta uluran tangan dari pemerintah supaya bisa terbang lebih tinggi lagi. Salah satunya adalah permintaan menghapus bea masuk impor komponen pesawat.

Menurut Arif Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), perbaikan pesawat merupakan salah satu item ongkos yang harus maskapai tanggung. Sejauh ini ada sekitar 300 komponen pesawat terbang yang harus didatangkan dari luar negeri. Mayoritas berasal dari Amerika Serikat dan negara Eropa. "Biaya komponen pesawat memakan porsi sekitar 25% dari total beban operasional," kata Arif.

Untuk itu, INACA mengajukan usulan penghapusan bea masuk komponen pesawat ke pemerintah. Tahap awal, paguyuban maskapai ini sudah mengajukan sebanyak 27 komponen ke Kementerian Perhubungan (Kemhub). Instansi ini pun langsung menyetujui usulan INACA.

Setelah disetujui, usulan tersebut langsung diserahkan ke Kementerian Perindustrian untuk finalisasi. Sayang, dari total 27 komponen usulan penghapusan bea masuk, cuma empat komponen saja yang disetujui. Sayangnya, Arif tidak memerici jenis komponen ini.

Sebagai perbandingan, negara tetatang seperti Thailand, Singapura dan Thailand sudah membebaskan beas masuk atas komponen pesawat demi menunjang industri penerbangan di negara bersangkutan. Sedangkan Indonesia masih menerapkan bea masuk suku cadang pesawat berkisar 5%-8%.

Inilah yang membuat biaya operasional maskapai semakin berat. Apalagi sekitar 85% biaya opersional tergantung dari nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sedangkan untuk biaya avtur memakan porsi sebesar 45% sampai 50%-nya.

Nah, biaya untuk membeli komponen bisa mencapai 25% dari total beban operasional. Maklum, importir komponen pesawat sejauh ini masih harus menanggung bea masuk impor sebesar 7%-8% dari harga komponen. Padahal harga komponen pesawat relatif mahal, terlebih dengan kondisi rupiah yang belum terlalu kuat saat ini.

Menurut Arif, peran pemerintah dalam membantu industri penerbangan domestik sangat krusial. Soalnya tahun depan maskapai domestik bersiap hadapi ASEAN Open Sky Policy pada 2015. Arif juga meminta komitmen serius pemerintah untuk menciptakan atmosfir lebih baik bagi industri penerbangan.

Hal itu mengingat sejumlah persoalan krusial yang menimpa anggota INACA sehingga berpotensi menganggu kelancaran operasional ke depan. "Saatnya pemerintah memberikan kepastian bagi INACA mengingat tantangan industri penerbangan ke depan semakin berat terutama menjelang pemberlakuan ASEAN Open Sky Policy pada 2015, dan juga belum siapnya industri strategis aviasi nasional dalam dukung bisnis penerbangan," kata Arif.

Menurut Arif, sejumlah persoalan krusial yang dihadapi antara lain depresiasi nilai rupiah semakin membebani biaya operasional, meroketnya harga avtur, bea masuk suku cadang pesawat yang tinggi hingga pelaksanaan audit dan fasilitas kebandaraan.

"Industri penerbangan merupakan industri strategis terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Untuk itu perlu kebijakan strategis pula. Dalam pandangan INACA, saat ini pemerintah semestinya mengeluarkan kebijakan yang terkoordinasi dan tidak sektoral," kata Arif.

Seperti diketahui, sekitar 85% biaya operasional pesawat tergantung pada dolar. Biaya untuk membeli komponen bisa mencapai 25% dari beban operasional. Sedangkan biaya avtur mencapai 45-50% biaya operasional penerbangan.

Importir komponen selama ini menanggung bea masuk 7 -8% dari harga komponen. Padahal harga komponen pesawat relatif mahal, terlebih di tengah nilai tukar rupiah yang melorot atas dolar AS.

Saat ini, INACA telah mengajukan 300 jenis komponen pesawat mayoritas diproduksi di Amerika Serikat dan Eropa ke Kementerian Perhubungan untuk mendapatkan pembebasan bea masuk.

Related posts