ESDM: Pertamina Siapkan Dana Rp315 Triliun - Blok Mahakam

NERACA

Jakarta – Teka teki siapa yang selanjutnya mengelola Blok Mahakam mulai menemui titik cerah. Seperti dilansir dari situs Setkab, Senin (9/3), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan bahwa pengelolaan Blok Mahakam di Kalimantan Timur akan diserahkan kepada PT Pertamina. “Semua pihak butuh kejelasan, pemerintah sudah kasih arah jelas. Arahannya kasih ke Pertamina,” ucapnya.

Kontrak Blok Mahakam akan habis pada 2017 setelah Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation mengelola blok tersebut dari 1967. Ia pun mengatakan PT Pertamina akan menyiapkan dana sekitar US$25,2 miliar atau setara dengan RP315 triliun untuk mengelola blok tersebut selama 20 tahun kedepan. “Setelah Pertamina mempresentasikan proposal kesiapannya mengelola Mahakam, pemerintah berkeyakinan Pertamina mampu mengelola blok tersebut,” katanya.

Namun demikian, Sudirman belum memberi kejelasan berapa persen saham Mahakam yang akan dikuasai Pertamina. Pemerintah dalam hal ini menyerahkan negosiasi antara Pertamina dengan pengelola blok yang lama. Tidak dipungkiri, Pertamina saat ini meminta pengelolaan 100 persen atau mayoritas.

Sudirman berjanji akan mempertemukan Pertamina dengan Total untuk mencari jalan tengah. Sudirman percaya antara Pertamina, Total maupun Pemda Kalimantan Timur menginginkan produksi Blok Mahakam itu berjalan stabil. “Saya rasa gini, sejak November kita sudah bicara pada keduanya. Kepada Total kita sampaikan sinyal itu, kepada Pertamina juga begitu, jadi seharusnya bukan mulai dari nol sama sekali. Jadi Selama ini Pertamina mampu membuat proposal karena dasar-dasarnya dari mereka, jadi hubungan antara keduanya seharusnya sudah oke,” tegasnya.

Sesuai Pasal 28 ayat 9 dan 10 Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, Pertamina dapat mengajukan pengelolaan blok habis kontrak kepada Menteri ESDM. Dan, Menteri ESDM bisa menyetujui permohonan itu sepanjang Pertamina 100 persen dimiliki negara.

“Sesuai aturan, begitu blok habis kontrak, kalau mau melanjutkan, Pertamina harus memberikan proposal untuk dipertimbangkan pemerintah. Setelah mendengar presentasi Pertamina dan juga ada tanya jawab, di challenge dan ditanya berbagai hal, maka pemerintah merasa yakin Pertamina memiliki kesiapan untuk menjadi operator Mahakam sesudah selesai kontrak dengan Total,” ujar Sudirman.

Ia melanjutkan, sejak November 2014, pihaknya sudah menyampaikan keinginan memberikan pengelolaan Mahakam ke Pertamina. Selanjutnya, pada periode November 2014 sampai Februari 2015, dilakukan dialog secara berkala antara Kementerian ESDM, Pertamina, dan Total agar transisi dari Total ke Pertamina sampai 2017 dapat berjalan dengan baik.

Persiapan Matang

Namun begitu, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagyo menuntut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) migas tersebut memiliki persiapan matang dari segala aspek. “Saya sebenarnya setuju saja nasionalisasi migas atau tambang apapun. Tapi tidak harus dipaksa, karena ini terkait hubungan multilateral,” kata Agus.

Namun keraguannya muncul kala teringat pernyataan Direktur Utama Pertamina sebelumnya Karen Agustiawan soal ketidaksanggupan Pertamina mengelola Blok Mahakam. “Pertanyaan saya ke Pertamina, sanggup nggak? Bu Karen saja pernah bilang nggak sanggup. Ingat tidak. Kalau sanggup sih oke saja,” ucapnya. Agus menyarankan agar Pertamina mempersiapkan segala sesuatu untuk mencaplok Blok Mahakam dalam kurun waktu tiga tahun ini. Mulai dari sumber daya manusia, kilang pengolahan gas, sampai pasar penjualan gas tersebut.

Blok Mahakam merupakan salah satu ladang gas terbesar di Indonesia. ‎Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 triliun kaki kubik (TCF). Dari jumlah itu diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF. “Nggak mudah menangani produksi gas sebesar itu. Buat PT Total E&P Indonesie menguntungkan, tapi belum tentu diambilalih Pertamina menguntungkan kalau mereka nggak siap dengan segala sesuatunya. Jangan sampai pendapatan negara malah turun,” tegas Agus.

Persiapan yang dibutuhkan Pertamina dalam mengakuisisi Blok Mahakam, sambung dia, antara lain sumber daya manusia, kekuatan pendanaan karena praktis itu akan menjadi beban perusahaan pelat merah tersebut, dan kilang gas yang sanggup mengolah produksi gas.

Paling penting, tambahnya, mencari jaringan penjualan. Sebab Agus menjelaskan, Pertamina harus memastikan bahwa pasar Total E&P Indonesie mau membeli produksi gas Pertamina dari Blok Mahakam. Gas yang sudah dieksplorasi harus segera dijual. “Pastikan pasar Total masih mau beli gas kita, ini nggak mudah karena harus dibicarakan lagi karena terkait fee dan mekanisme lain. Jangan sampai kayak gas dari Tangguh, sudah dibawa kapal ke mana-mana tapi Amerika Serikat nggak mau beli karena sudah ada shale gas,” tegas dia.

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengaku pihaknya siap mengambilalih lapangan yang hasilkan gas terbanyak di Indonesia tersebut.

Related posts