Segera Siapkan Opsi Hadapi Krisis Eropa

Segera Siapkan Opsi Hadapi Krisis Eropa

Jakarta----Krisis ekonomi global tak boleh dianggap remeh. Karena itu demi mengantisipasi berbagai dampak di dalam negeri. Maka pemerintah menyiapkan sejumlah opsi khusus untuk menyiasati dampak krisis tersebut, melalui penyiapan stimulus ekonomi pada semester I-2012.

“Kita sudah memikirkan untuk adanya stimulus yang kita perkirakan akan dilakukan di semester I-2012. Sekarang kita sudah persiapkan diri, kalau kondisi buruk itu berdampak ke Indonesia, kita akan mempersiapkan, kita akan selalu siaga dengan memberikan stimulus," kata Menteri Keuangan Agus Martowardoyo di Jakarta,15/9

Menurut mantan Dirut Bank Mandiri, beberapa kejadian yang selama ini mengguncang guncangan ekonomi di tingkat global cepat atau lambat bisa berimbas pada perekonomian Indonesia. "Yang kita perlu soroti adalah kondisi global yang ada itu lebih serius dari yang kita amati dan kita ikuti,”tambahnya.

Diakui Agus, imbas krisis Eropa sangat besar pengaruhnya, termasuk yang berdagang dengan Indonesia. “Jadi kami melihat bahwa kalau di Eropa seperti sekarang ini itu besar sekali pengaruhnya juga itu akan bisa besar pengaruhnya bagi negara yang bermitra dagang dengan kita atau dengan negara yang investasi di kita," papar Agus.

Apalagi, kata Agus, ekspor Indonesia ke Eropa termasuk cukup besar. Bahkan sebagian besar ekspor tersebut merupakan bahan mentah. "Dengan kondisi global itu bisa berdampak pada negara mitra kita, dan harus diakui kita ekspornya masih banyak yang bahan baku, makanya bisa berpengaruh ke kita," imbuhnya.

Hal yang sama diakui Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro yang menilai krisis global yang terjadi saat ini akan sangat berpengaruh terhadap Indonesia, bahkan krisis ini akan lebih berat dari krisis yang terjadi pada tahun 2008. "Kondisi global pasti ada manfaatnya dalam capital inflow yang besar, mirip krisis 2008 dan akan terjadi lagi 2012. Krisis global (2012) bisa menjadi lebih berat dari 2008," ungkapnya

Lebih lanjut kata mantan Dekan FEUI ini menambahkan pengaruh krisis global ini memang tidak akan berdampak langsung kepada Indonesia, tetapi akan berdampak kepada negara tujuan ekspor Indonesia. "Akibatnya, Indonesia kena sendiri dan akan berpengaruh terhadap (perekonomian) kita," jelasnya.

Intinya, lanjut Bambang, Indonesia bisa kena dampak tidak langsung. "Nah kalau itu terjadi maka kita akan kena second round effect, bukan dampak langsng tapi negara yang tergantung pada ekspor yang kena," tambahnya.

Berdasarka data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kemenkeu, tercatat dana Asing sekitar Rp 5,31 triliun lari dari Surat Utang Pemerintah Kejadian ini kemungkinan mengikuti sentimen negatif di pasar modal akibat kekhawatiran krisis di Eropa, investor asing juga menarik investasinya di instrumen surat utang negara (SUN).

Dalam lima hari dana asing di SUN berkurang Rp 5,31 triliun, dari Rp 251,23 triliun di 9 September 2011 menjadi Rp 245,92 triliun di 14 September 2011. Meskipun menurun, asing masih menjadi pemegang terbesar instrumen SUN. Porsi asing dalam kepemilikan SUN adalah sebesar 35,37%.

Total surat utang negara (SUN) yang diperdagangkan hingga 9 September 2011 mencapai Rp 695,23 triliun. Porsi terbesar saat ini dipegang oleh investor asing. Kemudian perbankan memiliki SUN sebesar Rp 228,07 triliun. Bank Indonesia (BI) memiliki SUN sebesar Rp 1,42 triliun.Lalu industri reksa dana memiliki SUN sebesar Rp 46,67 triliun, industri asuransi Rp 93,01 triliun, industri dana pensiun Rp 35,35 triliun, industri sekuritas Rp 50 miliar, dan lain-lain Rp 44,75 triliun. **cahyo

Related posts