Antam Bukukan Rugi Rp 775,28 Miliar - Buntut Penjualan Anjlok 15,56%

NERACA

Jakarta – Kilaunya bisnis tambang emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam (ANTM) tidak berbanding lurus dengan performance kinerja keuangan perseroan. Pasalnya, Antam sepanjang 2014 membukukan rugi bersih senilai Rp 775,28 miliar, dibandingkan raihan tahun sebelumnya di mana Antam masih bisa mencatatkan keuntungan Rp 409,94 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, kerugian yang di derita perseroan disebabkan oleh penjualan yang turun tahun lalu sebesar 16,56% menjadi Rp 9,42 triliun, dari tahun sebelumnya senilai Rp 11,29 triliun. Penurunan penjualan didorong oleh pelemahan harga komoditas, terutama nikel dan emas. Selain itu, kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bijih mineral mentah turut berdampak pada kinerja perseroan.

Adapun berdasarkan jenis komoditas, penjualan bersih untuk nikel sepanjang 2014 tercatat sebesar Rp 4,06 triliun, turun 33,66% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 6,12 triliun. Sementara penjualan emas dan permurnian (gold and refinery) sepanjang tahun lalu naik 2,4% menjadi Rp 5,14 triliun dari sebelumnya Rp 5,02 triliun.

Saat ini, Antam tengah mengkaji pemangkasan penawaran umum terbatas saham (rights issue) menjadi sekitar Rp 5,3 triliun, dari rencana semula Rp 10,77 triliun. Hal tersebut seiring dengan penurunan rencana Penyertaan Modal Negara (PMN) menjadi Rp 3,5 triliun, dari Rp 7 triliun.

Direktur Keuangan Aneka Tambang Djaja Tambunan mengatakan, kepastian rencana rights issue masih perlu melewati sejumlah tahap. Selain di DPR, aksi rights issue juga wajib mendapatkan persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan Maret 2015.

Saat ini, negara menguasai saham emiten berkode ANTM tersebut sekitar 65%, dan sisa 35% dimiliki investor publik.“Untuk menentukan kepastian size rights issue, kami juga perlu melihat respons investor nanti ketika roadshow. Masing perlu usaha panjang,” jelas dia.

Namun, kata Djaja, pihaknya optimistis rights issue bisa digelar pada tahun 2015. Karena pemangkasan PMN, perseroan pun perlu menghitung ulang penggunaan dana rights issue untuk ekspansi. Pihaknya akan melihat lagi, proyek mana yang bakal menjadi prioritas.

Semula, Antam berencana menggarap tiga mega proyek senilai total US$ 3,8 miliar. Pertama, Proyek pengolahan bauksit menjadi grade alumina Mempawah diperkirakan membutuhkan dana keseluruhan US$1,7 miliar-US$1,8 miliar atau Rp22,5 triliun.

Kedua, Proyek pengolahan bijih nikel menjadi feronikeldi Halmahera Timur. Proyek itu diestimasikan membutuhkan dana investasi total sebesar US$1,6 miliar setara Rp20 triliun. Investasi tersebut termasuk untuk pembangunan power plant. Kapasitas produksi pada pabrik ini ditargetkan mencapai 40.000 ton nikel per tahun.

Ketiga, proyek pengolahan anode slime yang diproyeksikan bakal rampung dalam dua tahap. Pada tahap pertama, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 500 ton per tahun. Kemudian pada tahap kedua menjadi 1.500 ton per tahun sehingga total kapasitas 2.000 ton per tahun. Investasi pembangunan proyek ini diperkirkan seluruh dananya akan berasal dari ekuitas perseroan.“Kami akan lihat kembali dari ketiga proyek ini, mana yang secara ekonomis lebih menjanjikan. Kami juga akan pertimbangakan saran dari para kreditur, mereka lebih tertarik terhadap proyek yang mana,” pungkas Djaja. (bani)

Related posts