BTN Bayar Kupon Obligasi Rp 38,14 Miliar

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) telah resmi membayar kupon bunga surat utang atau obligasi berkelanjutan I Bank BTN I Tahun 2012 untuk yang ke-11. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Corporate Secretary BBTN, Eko Waluyo mengatakan, kupon bunga obligasi dibayarkan perseroan melalui PT Kustordian Sentral Efek Indonesia. Adapun total pembayaran kupon bunga tersebut mencapai Rp38,14 miliar, dengan tingkat bunga sebesar 7,9%. Sementara itu, jumlah pemegang obligasi yang berhak atas bunga tercatat sebanyak 70. KSEI telah melakukan pembayaran melalui sistem C-BEST ke subrekening dari pemegang saham rekening pada Kamis, 5 Maret 2015.

Adapun jumlah obligasi yang tercatat pada recording date sebesar Rp2 triliun, bunga gross obligasi mencapai Rp39,5 miliar dan pajak bunga obligasi mencapai Rp1,35 miliar. Sekadar informasi, BTN merupakan bank yang bergerak di Sektor pembiayaan KPR dan perbankan konsumer. Produk kredit konsumer terbagi menjadi empat yaitu KPR bersubsidi, KPR nonsubsidi, kredit perumahan lainnya, dan kredit konsumer.

Sementara untuk produk simpanan juga terbagi menjadi tiga yaitu giro, tabungan, dan deposito. BTN berdiri dengan nama "Postpaarbank" pada masa Pemerintah Belanda pada 1897. Kemudian berubah nama menjadi Bank Tabungan Pos pada 1950 dan pada 1963 barulah menjadi BTN.

Tahun ini, perseroan menargetkan laba bersih sekitar Rp 2 triliun sampai Rp 2,2 triliun dengan pertimbangan kondisi makro ekonomi membaik dan terlaksananya rencana Program Sejuta Rumah,”Kondisi makro ekonomi 2015 akan lebih baik dan ada Program Sejuta Rumah, maka laba bersih kami tahun ini bisa mencapai Rp2-2,2 triliun,”kata Direktur Utama Bank BTN, Maryono.

Menurut Maryono, penurunan laba bersih Bank BTN di 2014 sebesar 28% menjadi Rp1,1 triliun diakibatkan oleh memburuknya kondisi makro ekonomi, kenaikan bunga dana pihak ketiga dan adanya pengetatan likuiditas perbankan.

Upaya lain yang dilakukan BTN untuk mencapai laba Rp2 triliun adalah meningkatkan net interest margin (NIM) berkisar 5,3%--5,4% pada tahun ini. Dalam paparan kinerja kuartal IV/2014, Maryono mengungkapkan penyaluran fungsi intermediasi mencapai Rp119,91 triliun dengan pertumbuhan kredit 15,38%. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) perseroan sepanjang 2014 mencapai Rp106,47 triliun atau tumbuh 10,67% secara year on year.

Maryono juga mengungkapkan keberhasilan BTN karena telah berhasil melakukan recovery aset senilai Rp1,3 triliun dalam rangka memperbaiki kualitas kredit perseroan. Dia mengungkapkan recovery aset juga akan dilakukan pada tahun ini dengan target Rp1,2 triliun.

Dia memperkirakan bahwa pasar properti di tahun ini akan lebih baik dibanding 2014, sehingga akan menumbuhkan total aset di 2015 berkisar 18-20% dari realisasi setahun sebelumnya yang hanya Rp144,58 triliun. Maryono mengungkapkan, pertumbuhan aset di 2015 tersebut akan ditopang oleh penyaluran kredit yang diperkirakan bertumbuh 17-19% dan DPK berkisar 19-20%.

Dia menambahkan, pihaknya menargetkan rasio kredit bermasalah (NPL) 2015 berada di bawah 3%. “Pada 2014, tren NPL industri naik, tetapi Bank BTN berhasil menurunkan NPL menjadi 4,01% (gross) dan NPL net 2,79%,” katanya. (bani)

Related posts