Pasar Modal Dipastikan Tidak Terpengaruh - Nilai Tukar Rupiah Anjlok

NERACA

Jakarta – Kembali terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sempat tembus di level Rp 13.000, membuat kepanikan pelaku pasar. Namun kondisi ini, dinilai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak akan berpengaruh terhadap industri pasar modal di dalam negeri karena aktivitas transaksi di BEI di dominasi rupiah.

Menurutnya, sering kali pelemahan rupiah memengaruhi pihak asing. Namun, saat ini yang terjadi investor asing tidak terlalu memikirkan pelemahan terhadap rupiah,”Karena hanya bersifat sementara yang disebabkan nilai transaksi berjalan atau CAD lantaran impor lebih tinggi dari ekspor," jelasnya di Jakarta, kemarin.

Ito menegaskan bahwa investor asing tidak peduli karena investasi jangka panjang. Sementara, pelemahan tersebut diperkirakan dalam jangka pendek. Investor asing juga mengetahui pelemahan rupiah dikarenakan CAD.

Selain itu, investor asing juga menilai, meskipun impor Indonesia lebih tinggi, barang yang diimpor merupakan barang modal atau barang dasar,”Impornya juga barang modal. Bagi asing itu penting. Impor barang modal, mereka tidak terlalu khawatir, karena untuk investasi di masa mendatang dan menjadikan Indonesia lebih baik," pungkas dia.

Kemudian Ito juga menegaskan, kembali menguatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tembus rekor baru 5.500 yang dipicu aksi beli investor merupakan cerminan kepercayaan investor terhadap Indonesia, “Sampai kemarin (Kamis, 5/3) investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp11,547 triliun, investor asing memasukkan dananya di 'secondary market' sejak awal Januari 2015,”ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa investor asing juga tidak terlalu terpengaruh oleh sentimen dari pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS karena orientasinya yang bersifat jangka panjang."Investor asing investasinya jangka panjang, mereka tidak peduli dengan pelemahan rupiah yang sifatnya jangka pendek, mereka tahu pelemahan nilai tukar rupiah karena impor lebih tinggi daripada ekspor," katanya.

Ito Warsito menambahkan bahwa meski impor Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan ekspor, namun saat ini Indonesia lebih banyak mengimpor barang-barang modal, hal itu akan dinilai positif investor asing karena dapat diproses kembali menjadi produk jadi dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan bisa kembali diekspor ke luar negeri.

Menurut dia, situasi itu akan menopang indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI untuk mencatatkan kinerja yang positif pada tahun 2015 ini."Jika terjadi koreksi, sifatnya sehat karena dinamika pasar saham memang seperti itu, kalau harga saham naik maka akan terjadi koreksi karena investor merealisasikan keuntungan," katanya.

Sebelumnya, Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq mengatakan bahwa investor saham masih dapat melakukan strategi aktif dalam mengelola dananya di tengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang positif,”Tren inflasi yang menurun, defisit neraca perdagangan Indonesia yang mengecil menjadi salah satu faktor ekonomi kita masih kuat di tengah perlambatan perekonomian global," ujarnya. (bani)

Related posts