Mengawali Pekan Ini, IHSG Masih Menguat

NERACA

Jakarta – Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sempat nyaris tembus Rp 13.000 per dollar AS, namun tidak membuat laju indeks harga saham gabungan (IHSG) bergeming dan sebaliknya IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin kembali mencetak rekor baru 5.500 yang di picu aksi beli investor asing.

Kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, IHSG BEI kembali bergerak menguat, salah satunya ditunjang oleh dana investor asing yang kembali melakukan akumulasi beli saham di dalam negeri,"Penguatan IHSG BEI juga seiring dengan nilai tukar rupiah yang kembali mengalami peningkatan terhadap dolar AS pada akhir pekan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat sore bergerak menguat sebesar 48 poin menjadi Rp12.927 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp12.975 per dolar AS. Sementara itu investor tercatat membukukan beli bersih sebesar Rp165,759 miliar di BEI.

Reza Priyambada menambahkan bahwa data dari Bank Indonesia mengenai posisi cadangan devisa per akhir Februari 2015 yang meningkat menambah sentimen positif bagi investor saham untuk melanjutkan akumulasi beli saham.

Tercatat, posisi cadangan devisa Indonesia per Februari 2015 sebesar 115,5 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.501,5 triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS), meningkat 1,3 miliar dolar AS atau Rp169 triliun dari posisi akhir Januari 2015 sebesar 114,2 miliar atau Rp1.484,6 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menilai bahwa mengalirnya dana investasi asing ke pasar saham domestik merupakan cerminan kepercayaan investor terhadap Indonesia."Investor asing masih terus memasukan dananya di 'secondary market' sejak awal Januari 2015," ujar Ito Warsito.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diperkirakan masih akan melanjutkan penguatan. Asal tahu saja, mengakhiri perdagangan Jum’at akhir pekan, IHSG ditutup melonjak 63,840 poin (1,17%) ke level 5.514,787. Sementara Indeks LQ45 ditutup melompat 14,210 poin (1,5%) ke level 960,781.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 222.087 kali dengan volume 5,735 miliar lembar saham senilai Rp 6,656 triliun. Sebanyak 150 saham naik, 127 turun, dan 108 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan mixed. Momentum penguatan Wall Street hanya bisa terserap oleh pasar saham Jepang dan Singapura.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Unilever (UNVR) naik Rp 1.550 ke Rp 37.800, Siloam (SILO) naik Rp 600 ke Rp 13.100, Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 435 ke Rp 2.700, dan Indocement (INTP) naik Rp 400 ke Rp 24.300. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 200 ke Rp 9.800, Multi Bintang (MLBI) turun Rp 175 ke Rp 9.975, Astra Agro (AALI) turun Rp 150 ke Rp 26.150, dan Acset (ACST) turun Rp 150 ke Rp 5.500.

Perdagangan sesi pertama, IHSG dibuka naik 34,147 poin (0,63%) ke level 5.485,094. Sementara Indeks LQ45 menanjak 8,104 poin (0,86%) ke level 954,675. Saham-saham lapis dua naik cukup tingi, bersama saham-saham unggulan di sektor perbankan dan konsumer. Sektor agrikultur, industri dasar, dan konstruksi terkena aksi ambil untung.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat 16,20 poin (0,30%) menjadi 5.467,15, sedangkan kelompok 45 saham unggulan(indeks LQ45) naik 4,09 poin (0,43%) ke level 950,67,”Faktor dari bursa regional menjadi salah stau sentimen positif bagi pergerakan IHSG pada perdagangan saham di akhir pekan ini," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Dia mengemukakan bahwa bursa saham Eropa bergerak menguat pada Kamis (5/3) seiring sikap positif investor terhadap hasil pertemuan kebijakan bank sentral Eropa (ECB). Investor di Eropa nampaknya menanti rincian program pembelian obligasi senilai 1 triliun euro.

Dari dalam negeri, ia menambahkan bahwa Bank Indonesia yang menyatakan tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak berdampak buruk bagi APBN. Pasalnya penghapusan subsidi BBM tidak lagi membebani APBN. Adapun dana subsidi untuk BBM dalam APBN Perubahan 2015 menyusut tajam menjadi Rp81 triliun, atau sekitar 70,6% dari periode sebelumnya yang mencapai Rp276 triliun.

Selain itu, lanjut dia, pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal, bukan karena faktor negatif fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini membuat IHSG tetap menguat meskipun rupiah mengalami tekanan.

Analis Asjaya Indosurya Securities,William Suryawijaya menambahkan, IHSG kembali berhasil bertahan di area positif, pola tren penguatan masih terlihat cukup kuat, apalagi didukung ekspektasi data ekonomi domestik yang akan dirilis seperti cadangan devisa Indonesia periode Februari 2015 berpotensi naik seiring dengan data neraca perdagangan yang terus mengalami surplus,”Di tengah ekspektasi rilis data ekonomi mengenai cadangan devisa yang masih baik serta tren perbaikan defisit neraca keuangan Indonesia yang berlanjut akan mendopang IHSG bertahan di jalur penguatan," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 16,82 poin (0,07%) ke 24.209,86, indeks Bursa Nikkei naik 159,92 poin (0,85%) ke 18.911,76, dan Straits Times menguat 17,21 poin (0,53%) ke posisi 3.412,10. (Bani)

Related posts