Industri Kemasan Targetkan Penjualan Naik 10%

NERACA

Jakarta - Industri kemasan dalam negeri menargetkan pertumbuhan penjualan tahun ini mencapai 10% menjadi Rp77 triliun, meningkat dari realisasi tahun lalu sebesar Rp70 triliun. “Target pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan permintaan dari berbagai produk yang membutuhkan kemasan. Saat ini, kebutuhan kemasan terus bertumbuh, kendati kondisi ekonomi sedang melambat dan pelemahan rupiah terus terjadi sejak awal tahun ini,” kata Executive Director Federasi Pengemasan Indonesia atau Indonesian Packaging Federation (APF), Hengky Wibawa di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sepanjang tahun lalu, menurut Hengky, target pertumbuhan 10% belum dapat dicapai. Sepanjang Januari hingga Desember 2014, penjualan kemasan meningkat sebesar 7% menjadi Rp 70 triliun dari penjualan 2013. “Dari nilai tersebut, sebagian besar ditopang oleh penjualan dari segmen kemasan plastik mencapai 60%. Untuk kemasan karton hanya 27% dan sisanya dari segmen kemasan kaleng dan gelas,” paparnya.

Dari total penjualan tersebut, lanjut Hengky, serapan domestik masih mendominasi yakni sebesar lebih dari 90%. Sementara untuk serapan ekspor terbilang sangat kecil, yakni kurang lebih hanya 10%. “Untuk penjualan, hampir seluruhnya memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor masih terbilang kecil kurang lebih 10%. Ekspor juga secara tidak langsung, seperti contohnya perusahaan konsumer yang menggunakan kemasan domestik untuk mengekspor produknya ke luar,” ujarnya.

Hengky menambahkan, target pertumbuhan tahun ini tidak lepas dari harapan asosiasi terkait tuntutan kepada pemerintah untuk menurunkan minimal 5% atau pembebasan bea masuk untuk bahan baku industri hilir plastik. “Saat ini beban bahan baku memegang porsi mencapai 60% dari total biaya produksi kemasan. Kebutuhan bahan baku di industri kemasan plastik 50% masih dipenuhi dari pasokan impor,” tandasnya.

Sementar itu, Jelang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, industri kemasan di Tanah Air diyakini bisa tumbuh lebih pesat dibanding saat ini. Hal ini lantaran beberapa investor asing mulai menjajaki untuk menanamkan modalnya pada industri kemasan di Indonesia.

Business Development Director Indonesia Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti mengatakan, hal ini tidak lepas dari kondisi politik di Thailand beberapa waktu lalu sehingga memberikan keuntungan untuk Indonesia. Karena sejak itulah investor kemasan mulai melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi. "Kami lihat banyak dapat keuntungan dari situasi Thailand, jadi pada melirik ke sini. Makanya kita juga perlu jaga kestabilan," ujarnya.

Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu, para pelaku industri asal Thailand, Jepang, dan telah menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di industri hulu kemasan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Menurut Ariana, setidaknya hingga saat ini lebih dari 10 investor asing tertarik kepada industri kemasan dalam negeri. Meski demikian, para calon investor tersebut masih menunggu arah kebijakan pemerintahan baru. "Kalau kita punya politik dan kebijakan industri yang lebih stabil, makin banyak investor yang masuk. Tahun depan saya rasa akan lebih banyak dari tahun ini," tandasnya.

Rupiah Melemah

Pelaku usaha industri kemasan dalam negeri pesimistis industri tersebut dapat tumbuh secara signifikan pada tahun ini. Hal ini lantaran kondisi rupiah yang masih mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sehingga membuat harga plastik impor terus naik. Ariana mengatakan, awalnya para pelaku industri kemasan yakin industri ini dapat tumbuh hingga 11% tahun ini. Akan tetapi, diperkirakan hanya bisa tumbuh sebesar 8%.

Hal dapat dilihat dari posisi pada kuartal IV-2014 pemesanan terus menurun karena harga yang terus naik, akibat merosotnya nilai rupiah. "Melihat kondisi saat ini kami tidak begitu yakin. Tahun ini maunya tentu ada investasi, tapi kondisi rupiah terus menurun. Kami sedang menunggu kondisi rupiah membaik," ujarnya.

Menurut Ariana, pertumbuhan 11% dapat tercapai jika kondisi rupiah dapat kembali ke angka Rp 11 ribu per dollar AS. Namun dia tetap berharap, pada Maret tahun ini, investasi baru di industri mulai terlihat. "Seperti 2014 saja, dengan kondisi rupiah di tahun itu industri pengemasan tumbuh signifikan," lanjutnya.

Related posts