Pala Indonesia Ditolak Uni Eropa - Perlu Tingkatkan Mutu Produk Ekspor

NERACA

Jakarta - Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa komoditas pala asal Indonesia ditolak Uni Eropa karena dinilai mengandung aflatoksin yang melebihi batas yang ditentukan. Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini mengatakan persyaratan kandungan aflatoksin yang ditentukan Uni Eropa adalah 15 ppb.

Namun, katanya di sela pemusnahan 36,3 ton apel berbakteri asal Amerika Serikat, kandungan aflatoksin pada buah pala asal Indonesia mencapai 200 ppb. "Beberapa kali terjadi penolakan terutama oleh Brusel," katanya, seperti dikutip dari Antara, akhir pekan kemarin. Oleh karena itu, menurut Banun, pihaknya meminta kepada OKPD (Otoritas Keamanan Pangan Daerah) untuk meningkatkan sistem jaminan mutu pada pala yang dieskpor ke Eropa.

Selama ini, tambahnya, petani belum terbiasa mengolah pala agar kadar airnya menjadi rendah sehingga mudah ditumbuhi jamur aflatoxin, terlebih lagi jika penyimpanan dan pengangkutan di kapal juga kurang bagus. Mengenai nilai komoditas ekspor yang ditolak Eropa itu, Banun mengatakan sangat rendah dibandingkan keseluruhan ekspor produk pertanian nasional. "Nilainya sekitar 0,0004 persen dari seluruh ekspor pertanian kita, jadi sangat rendah," katanya.

Ada sistem pemberitahuan ke Indonesia adanya penolakan ekspor dari Indonesia ke EU yang disebut Indonesia Rapid Alert System for Food and Feed (INRASFF). Terkait pangan segar sebagai contact poin adalah Kementerian Pertanian. Menurut Direktur Mutu dan Stadarisasi Kementerian Pertanian Gardjita Budi mengatakan penolakan ekspor produk pertanian ke EU untuk komoditi pala (nutmeg) telah terjadi berulangkali dengan kasus yang sama yaitu cemaran alfatoxin melebihi batas maksimum standard EU.

Tahun 2015, tercatat empat kali untuk kasus penolakan pala dan satu kasus untuk penolakan Kayu manis yang tercemar kapang. Upaya yang dilakukan untuk mencegah kasus penolakan ekspor pala belum menunjukan hasil yang memuaskan. Pelaku usaha/eksportir mesti mengupayakan perbaikan untuk memenuhi persyaratan yang diminta Negara tujuan ekspor. Saat ini untuk pengambilan dan pengujian sampel pala mesti memenuhi persyaratan EU.

Sehingga, sambung dia, bila masih ditemukan paparan alfatoxin melebihi ambang batas, ditenggarai cemaran tersebut berasal saat pengapalan atau dalam perjalanan. Pelaku usaha/eksportir kayu manis dapat mencontoh eksportir lainnya yang sebelumnya mampu mengekspor kayu manis tanpa penolakan. Penolakan karena cemaran kapang, ditenggarai pengepakan masih belum memenuhi syarat, sehingga tumbuh kapang.

Menurut dia, perlu kesepakatan seluruh pihak terkait untuk mengambil langkah konkrit penanganan kasus penolakan ekspor agar tidak terjadi hal serupa dikemudian hari. Apabila ada pelaku usaha/ekportir tidak berkomitmen melakukan perbaikan, maka Kementerian Pertanian dapat melakukan upaya lain misalnya mengumumkan perusahaan eksportir tersebut bermasalah lewat media atau bahkan sampai pencabutan rekomendasi ekspor. "Jangan sampai karena tindakan satu eksportir akan mencemari nama Indonesia di Negara tujuan, sehingga merugikan eksportir lainnya," imbuhnya.

Ekspor Andalan

Bagi Sulawesi Utara, biji pala merupakan komoditas yang penting karena pala merupakan andalan ekspor daerah. Komoditas biji pala produksi petani Sulawesi Utara (Sulut) diekspor ke empat negara yakni Belanda, Italia, Spanyol, dan Vietnam selang Juni 2014. "Keempat negara tersebut yakni Belanda, Italia, Spanyol dan Vietnam yang membeli komoditas biji pala Sulut sebanyak 114 ton," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut Olvie Atteng.

Rincian pembelian empat negara itu yakni Belanda sebanyak 10 ton dengan nilai US$186 ribu, Italia 75 ton senilai US$966.500, Spanyol 15 ton senilai US$183.750, dan Vietnam 14 ton senilai US$173 ribu. Ekspor pala ke empat negara tersebut, kata Olvie, semakin mengokohkan pala sebagai salah satu komoditas penyumbang devisa cukup signifikan bagi Sulut.

"Komoditas biji pala dan bunga pala asal Sulut memang diminati Belanda bahkan negara-negara di Uni Eropa, sejak dulu karena sangat banyak manfaatnya bagi masyarakat, antara lain untuk rempah-rempah karena rasanya yang sangat khas," katanya.

Hal tersebut, katanya lagi, harus bisa dimanfaatkan para petani untuk meningkatkan produksinya dan menghasilkan tanaman pala yang berkualitas baik agar makin disukai di seluruh dunia. Pala produksi Sulut bukan hanya diminati empat negara tersebut tetapi juga berhasil menarik minak pasar Afrika. "Minat tersebut ditandai dengan makin banyaknya permintaan ekspor pala dan bunganya ke berbagai negara di dunia, ini menunjukan mutu komoditas pala daerah ini cukup baik," ujar Olvie.

Ia juga mengatakan pala Sulut yang banyak diekspor ke Eropa, Amerika, dan Afrika tersebut, berasal dari Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud.

Related posts