Deflasi dan Negara Maju

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Menurunnya harga minyak mentah dunia saat ini semakin memperburuk akselerasi pemulihan ekonomi di sejumlah negara maju. Di zona Eropa dan Jepang menghadapi tantangan yang tidak ringan untuk menggerakkan perekonomian mereka. Tingkat inflasi yang sangat rendah dalam jangka menengah dan panjang memberikan disinsentif kepada investor untuk berinvestasi. Selain itu juga, rumah tangga juga menahan belanja sebagai respon terhadap ketidakpastian ketersediaan lapangan kerja akibat berkurangnya insentif pengembangan bisnis baru. Tidaklah mengherankan apabila deflasi menjadi pusat perhatian tidak hanya bagi otoritas moneter tetapi juga otoritas fiskal di banyak negara OECD.

Menurut perhitungan dari Eurostat, tingkat inflasi di zona Eropa pada Februari 2015 mencapai -0,3% setelah mencatatkan -0,6% pada bulan sebelumnya. Untuk sepanjang tahun 2015, tingkat inflasi di zona Eropa diproyeksikan mencapai 0%. Rendahnya tingkat inflasi di Eropa dalam beberapa tahun terakhir juga membuat target pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja menjadi terhambat.

Sementara ekonomi Eropa saat ini sangat membutuhkan stimulus dari sisi permintaan untuk memulihkan perekonomian mereka sejak krisis utang yang dialami kawasan ini. Tidaklah mengherankan apabila Bank Sentral Eropa melakukan quantitative-easing setelah kebijakan menurunkan suku bunga dipandang tidak terlalu efektif.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Jepang dimana sepanjang tahun 2015, tingkat inflasi Jepang ditargetkan sebesar 2%. Untuk mendorong perekonomian Jepang, Bank of Japan juga melakukan stimulus moneter untuk menambah likuiditas di pasar melalui program pembelian aset sebesar 80 juta yen. Sementara itu, kebijakan moneter longgar telah dilakukan oleh Bank of Japan sejak 23 April 2013 dan sepertinya masih akan dipertahankan untuk semakin menggairahkan perekonomian Jepang. Infasi yang terlalu rendah (low-inflation) sangat tidak diinginkan oleh otoritas moneter maupun fiskal di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.

Tantangan negara maju untuk keluar dari zona inflasi yang sangat rendah menghadapi tantangan cukup besar di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia. Inflasi yang sangat rendah di permukaan merupakan indikasi yang baik untuk sementara waktu bagi konsumen seiring menurunnya harga.Namun di sisi yang lain, hal ini membuat investasi tidak bergerak dan bahkan penundaan ekspansi bisnis terjadi akibat mis-match pengembalian hasil investasi. Akibatnya, dalam jangka panjang sektor ketenaga kerjaan dan total output nasional akan terganggu. Mengakibatkan tingkat pendapatan rumah tangga menjadi berkurang dan memberikan insentif untuk melakukan penundaan konsumsi. Spiral inilah yang membuat otoritas moneter dan fiskal di banyak negara maju perlu melakukan langkah-langkah non-konvensional untuk memutus mata rantai yang sangat tidak diharapkan terjadi.

Related posts