Kualitas Produk Penentu Daya Saing di Pasar Bebas ASEAN - Perikanan Budidaya

NERACA

Bogor – Produksi perikanan budidaya terus ditingkatkan untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi serta untuk meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya dan masyarakat sekitarnya yang juga bergerak di sub sektor perikanan budidaya. Peningkatan produksi perikanan budidaya yang di target mencapai 17,9 juta ton pada tahun 2015, salah satunya memerlukan benih dan induk unggul.

“Benih dan induk unggul diperlukan untuk menghasilkan produk perikanan budidaya yang berkualitas. Dengan produk yang berkualitas maka kita akan mampu bersaing di pasar bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA),” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, di Bogor, Jawa Barat, pekan lalu, seperti dilansir dalam keterangan resmi yang sampai ke meja redaksi.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa benih dan induk unggul selain akan meningkatkan produktivitas juga akan meningkatkan efisiensi dalam budidaya, baik itu dalam penggunaan pakan, pertumbuhan yang cepat dan juga lebih tahan terhadap serangan penyakit. “Apabila kita mulai berbudidaya dengan menggunakan benih unggul yang dihasilkan oleh induk yang unggul, maka budidaya akan lebih efisien dan selanjutnya produk perikanan budidaya tersebut akan lebih memiliki daya saing baik dari harga maupun kualitas. Ini selaras dan mendukung kebijakan pembangunan perikanan budidaya yaitu Pembangunan Perikanan yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan,” kata Slamet.

Pembangunan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan harus diimplementasikan dalam usaha pembenihan perikanan. “Mandiri untuk menghasilkan benih dan induk unggul, artinya dalam suatu kawasan budidaya tidak lagi tergantung dari wilayah lain, tetapi bisa memenuhi kebutuhan benih berkualitas secara mandiri. Kemudian dari kemandirian ini akan meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya dalam bersaning di pasar global. Dan yang perlu juga diperhatikan, sesuai dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, usaha budidaya harus ramah lingkungan sehingga dapat dilakukan secara terus-menerus dan tidak merusak lingkungan untuk mendukung keberlanjutan,” papar Slamet.

Target produksi pada 2015 sebesar 17,9 juta ton memerlukan dukungan kebutuhuan induk sebanyak 15,8 juta ekor dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan benih sebanyak 90,2 milyar ekor. “Pemenuhan kebutuhan benih ini merupakan tanggung jawab kita bersama baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat dan stake holder lainnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan mendorong pemenuhan induk-unduk unggul untuk disebarkan kepada masyarakat. Disamping itu juga DJPB akan terus meningkatkan jumlah unit pembenihan bersertifikat sehingga akan mendukung pemenuhan benih-benih berkualitas yang sesuai dengan standar,” ungkap Slamet.

Usaha perikanan budidaya yang didalamnya juga terdapat usaha pembenihan harus menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. “Sesuai dengan arahan Ibu Susi, bahwa pembudidaya akan didorong untuk meningkat kelasnya menjadi pengusaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Sehingga dalam melakukan usahanya, harus mampu memiliki marjin yang cukup. Peningkatan marjin ini tidak hanya untuk membiayai operasionalnya, tetapi juga akan mengembalikan modal atau investasi yang telah dilakukan. Jika marjin ini telah tinggi, tentunya bisnis ikan ini akan terus berkembang dengan baik. Penggunaan benih dan induk unggul juga diperlukan dalam upaya peningkatan margin tersebut,” tukas Slamet.

Asal tahu, sebelumnya, Slamet menyebut, di samping mandiri dalam hal pakan, Kemandirian juga dalam hal penyediaan induk dan benih unggul. “Beberapa komoditas budidaya air tawar saat ini sudah dapat menyediakan induk unggul, seperti ikan nila, lele, mas dan patin. Ke depan, kita akan dorong kemandirian induk dan benih unggul untuk komoditas lain seperti udang vaname, dan juga komoditas lainnya,” tutur Slamet.

Kemandirian yang dimaksud disini adalah bahwa dalam satu wilayah atau kawasan dapat memenuhi kebutuhan benih dan induk unggul secara cukup dan berkelanjutan, sehingga tidak mendatangkan induk atau benih dari daerah lain. “Ketersediaan induk dan benih mandiri akan mendorong percepatan peningkatan produksi, karena induk dan benih tersebut sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga pertumbuhaanya akan lebih cepat dan penggunaan pakannya akan lebih efisien,” kata Slamet.

Slamet mengungkapkan bahwa kemandirian akan menjadi kunci utama dalam peningkatan produksi perikanan budidaya dan peningkatan perekonomian suatu daerah. “Perikanan Budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan, akan mendorong pembudidaya untuk lebih kreatif dan inovatif memanfaatkan sumberdaya alam dan menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar bebas serta memperhatikan lingkungan dalam melakukan usaha perikanan budidaya”, pungkas Slamet.

Related posts