Pertamina Gelar Operasi Pasar Serentak Elpiji Subsidi - Pastikan Stok Aman

NERACA

Jakarta – PT Pertamina (Persero) menggelontorkan 37.700 tabung elpiji subsidi tiga kg dalam operasi pasar serentak di 74 titik untuk menjamin ketersediaan bahan bakar tersebut bagi masyarakat miskin dan usaha mikro. Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Ali Mundakir, mengatakan, pihaknya menggelar operasi pasar secara serentak di 74 titik untuk memastikan stok elpiji tiga kg aman memenuhi permintaan masyarakat.

Menurut dia, pihaknya akan terus memonitor kondisi riil di masyarakat, sehingga pengguna elpiji tiga kg bisa memperolehnya dengan mudah dan harga normal. Ia mengatakan, operasi pasar di 74 titik itu mencakup 21 kabupaten dan kota di Sumatera dan Jawa. Pasokan 37.700 tabung elpiji 3 kg yang setara dengan 113,1 metrik ton, lanjutnya, disalurkan sebanyak 2.320 tabung di Binjai, Sumatera Utara dan 8.960 tabung di Jabodetabek. Sedangkan, 23.520 tabung lainnya untuk Jawa Barat yang mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang, serta 2.900 tabung di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Ali menjelaskan operasi pasar secara serentak merupakan kelanjutan sebelumnya yang digelar di beberapa wilayah Jawa bagian barat. Namun, berdasarkan evaluasi hasil penyaluran operasi pasar yang telah dilakukan tersebut, realisasi pembelian elpiji tiga kg ternyata rendah. "Rata-rata hanya sekitar 10 persen tabung terserap. Kesimpulan kami, pasokan sudah cukup, sehingga isu kelangkaan adalah aksi para spekulan yang ingin ambil untung dengan menaikkan harga," kata Ali dikutip dari Antara, Kamis.

Dugaan tersebut, tambahnya, mengingat sifat komoditas elpiji berbeda dibandingkan beras atau minyak goreng. Jika ada operasi pasar minyak goreng atau beras, maka biasanya tingkat penyerapan masyarakat masih tetap tinggi, karena keduanya bisa disimpan. "Sedangkan elpiji, jika belum habis, maka masyarakat tidak akan bisa membeli karena tidak ada tabung yang dapat ditukarkan," ujarnya.

Selain operasi pasar, menurut Ali, Pertamina juga telah menggelontorkan elpiji tiga kg ke SPBU. Elpiji tiga kg yang dikhususkan untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro tersebut dijual di SPBU dengan harga sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah daerah setempat.

Ia juga meminta masyarakat yang mengalami kekurangan elpiji, agar melaporkannya kepada Pertamina melalui kontak 500000 (GSM: 021-500000) atau pesan singkat ke 0815-9-500000. "Sementara itu, jika masyarakat menemukan hal-hal yang mencurigakan terkait penimbunan ataupun penyimpangan lain yang melanggar hukum, bisa juga langsung melaporkan kepada pihak yang berwajib," ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Pertamina dan Hiswana Migas Kota Tangerang, Banten, menggelar operasi pasar elpiji ukuran tiga kilogram untuk mengantisipasi kelangkaan. Sekretaris Hiswana Migas Tangerang Ahmad Tomie di Tangerang, Kamis, mengatakan jumlah tabung yang disediakan dalam operasi pasar ini yakni sebanyak 560 tabung. "Untuk satu tabung dijual dengan harga Rp16 ribu sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET)," kata Tomie saat menggelar operasi pasar di Agen LPG 3 Kilogram di pangkalan PT Raffi Gasindo, Kp. Nagrak RT 1.5, Periuk, Kota Tangerang.

Tomie mengatakan Operasi Pasar dilakukan serentak di lima wilayah Tangerang seperti Kota Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya kelangkaan gas elpiji. Sebab, sebelumnya ada kabar bila di wilayah Tangerang terjadi kekurangan pasokan elpiji. "Sebenarnya di wilayah Tangerang itu untuk pasokan elpiji masih aman dan tidak terjadi kekurangan. Maka itu, kami bantu dengan operasi pasar," ujarnya.

Mila Suciani selaku Asisten Manager Eksternal Relationship Marketing Operasional 3, menambahkan operasi pasar untuk mengendalikan harga. Harga di agen dan pangkalan telah diatur dan tidak boleh melebihi. Tetapi, jika ada perbedaan harga di setiap pengecer, itu adalah permainan pasar. "Pascaoperasi pasar ini akan kami evaluasi. Pasokan Pertamina untuk lpiji sudah sesuai dan tidak ada yang dikurangi. Maka itu, kami juga lakukan kroscek ke warga dalam operasi pasar ini," ujarnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pihaknya meminta Pertamina menjamin pasokan LPG tabung ukuran 3 kg. Namun tidak bisa dihindari, ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan dengan adanya disparitas harga yang tinggi antara elpiji tabung ukuran 12 kg dan 3 kg. Ke depan, Pemerintah akan melakukan penertiban dan PT Pertamina serta BPH Migas diharapkan mulai memikirkan sistem distribusi tertutup.

Pelaksana Tugas Dirjen Migas IGN. Wiratmadja menambahkan, tim yang ditunjuk Pemerintah untuk melakukan kajian sistem distribusi tertutup, saat ini masih bekerja dan diharapkan pada pekan depan hasilnya telah diperoleh. Mengenai opsi-opsi pengendalian yang dilakukan, kata Wiratmadja, belum dapat dikemukakan karena masih didiskusikan. “Banyak alternatifnya. Kalau saya bilang sekarang, kan mengarah. Ini supaya tim yang mengkaji tidak bias dulu,” tambahnya.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya W. Yudha mengatakan tidak baik dalam satu komoditas ada dua harga yang berbeda. Harusnya, ada satu kebijakan supaya tidak ada perdagangan yang "ilegal". Kalau seperti ini, pasti orang memilih yang lebih murah. Apalagi, tidak ada larangan bagi warga untuk membeli elpiji 3 kg, meski statusnya mampu. Di Permen ESDM 26/2009 juga hanya menyebut rumah tangga dan usaha mikro boleh menggunakan elpij bersubsidi. "Sekarang, orang pakai mobil, ambil 4 tabung nggak ada yang ngelarang," katanya.

Kalau tidak ada aturan yang tegas, negara jelas rugi. Beban subsidi membengkak kalau pengguna elpiji 3 kg terus meningkat.

Related posts