AKIBAT JARINGAN AIR BAWAH TANAH RUSAK Sumber Air di Kab. Sukabumi Diprediksi akan Habis

Sukabumi-Terjadinya kekeringan sumur di berbagai wilayah di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, akhir-akhir ini dinilai karena pemerintah kurang serius dalam memelihara jaringan air bawah tanah serta belum maksimalnya fungi kawasan hutan yang baru di reboisasi akibat penjarahan. Hal itu terlihat dari tidak adanya program yang di schedulkan oleh pemerintah baik melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) setempat.

NERACA

Sekretaris Distamben, Slamet Santoso, melalui stafnya, Dany Heriyanto, kepada Neraca membenarkan hal tersebut. Menurut dia, pada tahun sebelumnya, instansinya telah mengajukan anggaran untuk perbaikan jaringan air bawah tanah, namun program itu dimentahkan,

" Kami mengajukan program perbaikan jaringan air bawah tanah itu karena kami telah mendeteksi adanya kerusakan jaringan air bawah tanah khususnya di dua titik cekungan Sukabumi," jelas Dany.

Terjadinya kekeringan sumur di berbagai daerah di wilayah Kabupaten Sukabumi, sebenarnya, sangat disesalkan mengingat wilayah Sukabumi merupakan kawasan penyuplai air terbesar di Jawa Barat, " Semua orang tahu bahwa Kab. Sukabumi memiliki segudang pabrik Air Minum Dalam Kemasan. Hasil analisis, saya menemukan simulasi merah khususnya di daerah Cicurug. 10 tahun kemudian di daerah itu kemungkinan debit air akan berkurang secara drastis,”ujar Dany.

Agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah, tambah dia, pemerintah harus segera melakukan kajian tekhnis guna mengetahui aliran jaringan air bawah tanah yang mulai rusak. Sebab dengan cepat memperbaikinya maka efisiensi dari segi anggaran dan tenaga terjadi. Sudah saatnya melakukan koreksi lapangan.

“Kami menemukan bagi daerah yang berbatuan yang masih bagus sudah mencapai angka 1 meter per detik aliran airnya. Sedangkan bagian batu yang sudah mulai rusak kecepatan aliran air bawah tanahnya 1 centimeter per jam kecepatan airnya," ungkap dia.

Akibat dari itu, urai dia, tanah dengan berbagai karekter ketika musim hujan tiba tidak mampu menampung atau meneyerap air hujan hingga maksimun, Contohnya pada sebelumnya setiap hujan turun tanah menyerap sekitar 50 air. Saat musim hujan lalu air ternyata lebih banyak mengalir ke dataran rendah karena resapan hanya menampung hingga 20 dari kapasitas tampungan 50.

Artinya, tambah dia, air hujan yang turun hanya mampu ditampung lima hingga 10 % dari curah hujan. Ini, menandakan adanya jaringan aliran bawah tanah yang sudah mengalami kerusakan. Apabila diperbaiki pada tahun ini misalnya, hasilnya bisa dilihat 30 tahun mendatang.

Tanam Vetiver Grass

Perbaikan jaringan tersebut, menurut dia, dapat dilakukan dengan cara mengembalikan kawasan hutan seperti sediakala dan melakukan perawatan dengan cara menanam tanaman yang mampu menahan laju air hingga terserap oleh tanah. Khusus di Sukabumi, sangat direkomendasikan untuk menanam rumput Vetiver Grass (rumput aka wangi/rumput aga wangi atau rumput akar wangi),

" Rumput sejenis rumput gajah ini sangat bagus menahan dan memelihara jaringan aliran air bawah tanah. Dimana rumput ini mampu bertahan pada suhu -10 hingga 40 derajat celcius,"terang dia.

Fungsi Vetiver Grass ini ternyata sangat banyak. Selain mampu menahan dan menyerap air ternyata mampu juga mencegah erosi atau longsor. Sedangkan salah satu penyebab rusaknya jaringan air bahwa tanah adalah longsor, " Kalau semua lahan yang tandus ditanamai vetiver grass, sumur warga tidak akan cepat kering ketika kemarau baru memasuki 3 bulan. Demikian halnya ketika kawasan resapan air dan hutan dihijaukan sedini mungkin,"ujar dia.

Guna mengetahui tingkat kerusakan ini, tambah dia, dibutuhkan dana yang sangat besar sekisar Rp 3,5 hingga Rp 4 miliar. Secara tekhnis melakukan penelitian ini dengan cara melakukan pengeboran geralistik, " Nah gunanya nantinya kita bisa menganalisanya dengan sekama. Dan hasilnya akan diketahui cara mitigasi pencegahan,”papar Dany.

Related posts