Kebutuhan Terus Meningkat, Indonesia Terancam Krisis Gas

NERACA

Kebutuhan energi gas terus meningkat setiap tahunya, bahkan Indonesia mengancam krisis energi fosil seperti bahan bakar minyak. Gas yang selama ini digadang-gadang pemerintah sebagai energi alternatif mengurangi konsumsi BBM pun terancam defisit. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Naryanto Wagimin memprediksi, Indonesia bakal krisis gas pada tahun 2028.

Naryanto menghitung, empat belas tahun mendatang Indonesia akan mengalami defisit gas 7.600 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Pada 2015 saja, defisit pasokan diperkirakan mencapai 837 juta mmscfd. Menurutnya, hal itu terjadi akibat beberapa proyek hulu gas molor. Padahal, pertumbuhan kebutuhan gas naik 4 persen per tahun.

"Proyek banyak yang mundur. Misalnya Kepodang, Indonesia Deep Water Development (IDD), Masela, dan Blok Mahakam. Di sisi lain produksi eksisting terus turun," paparnya di Jakarta.

Selain itu, infrastruktur menjadi faktor yang mempengaruhi defisit. Menurutnya, suplai di beberapa wilayah Indonesia sebenarnya meningkat. Hanya saja, Naryanto mengakui, hingga saat ini masih terjadi keterbatasan infrastruktur gas. Akibatnya, wilayah yang surplus gas sulit membantu daerah defisit.

Dia mengatakan, proyeksi neraca gas 2025 menyatakan wilayah yang membutuhkan gas merupakan daerah padat penduduk. Salah satunya Jawa bagian timur yang terdiri atas Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Defisit di daerah tersebut diperkirakan mencapai 499 mmscfd. Sedangkan defisit di Jawa bagian barat diproyeksi 1.270 mmscfd.

Di sisi lain, wilayah-wilayah surplus di Indonesia pada 2025 ada di Kalimantan. Kelebihan pasokan diperkirakan mencapai 1.388 mmscfd. Kemudian surplus wilayah Papua bisa 806 mmscfd. Kalau semua itu bisa dipakai menutupi wilayah lain, total defisit paling hanya 249 mmscfd. Bahkan bisa surplus 462 mmscfd.

“Faktor vital untuk menyelesaikan hal tersebut adalah infrastruktur gas yang memadai. Namun, hal tersebut tak bakal terjadi jika sektor hulu, tengah, dan hilir migas tak bisa bersinergi,” ujarnya.

Terkait dengan ancaman defisit gas yang kian membayangi dunia usaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah menjamin kepastian. Koodinator Gas Industri Kadin Achmad Wijaya menegaskan, kepastian tersebut penting bagi kalangan bisnis untuk menjamin kelangsungan operasional. Menurutnya, ketersediaan gas untuk jangka panjang selalu terkoreksi. Sementara itu ia mengingatkan, industri tidak bisa jalan tanpa ada kepastian.

“Bagaimana industri dapat berupaya memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dapat berkompetisi di pasar internasional kalau suplainya saja kurang. Apalagi saat ini saja harga gas bumi telah berbeda jauh dengan LNG,” kata Achmad.

Sementara itu, Indonesian Gas Society (IGS) menilai solusi untuk mengatasi defisit gas di masa datang adalah dengan konsep gas terintegrasi. Komunitas yang diketuai Hari Karyuliarto, mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mempercepat penggunaan energi gas dengan mengembangkan konsep bisnis gas terintegrasi. Konsep tersebut menyatu mulai dariupstream,midstreamdandownstream.

“Jika tiga sektor terkoordinasi dan terintegrasi, gas akan menjadi sumber energi yang tepat, sehingga kita akan mampu mengatasi krisis energi di masa depan,” kata Hari.

Dia yakin apabila ketiga sektor dikembangkan secara simultan dan tidak saling menghalangi, maka kedepan gas menjadi sumber energi yang dapat diterima pasar. Terlebih lagi, suplai akan selalu tersedia dan mampu mempercepat monetisasi sektor hulu. Tidak itu saja, Indonesia juga dapat mengurangi porsi penggunaan BBM secara signifikan dari 47% hingga 25%.

Related posts