Lagi, Faktor Global Dituding Penyebab Rupiah Loyo

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil, menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini lebih karena faktor eksternal dan kemungkinan permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang meningkat. "Yang melemah bukan rupiah saja, semua mata uang di dunia melemah terhadap dolar AS," kata dia di Jakarta, Rabu (4/3).

Sofyan menyebutkan kondisi makro ekonomi internal Indonesia saat ini baik seperti inflasi turun, arus masuk modal asing positif, IHSG naik dan imbal hasil surat utang negara turun. "Apapun indikatornya, cukup baik, kemudian pengelolaan ekonomi kita jauh lebih baik, fiskal kita jauh lebih sehat karena tidak tersandera lagi oleh harga minyak," paparnya.

Dia menyebutkan terkait sistem, saat ini Indonesia menganut sistem devisa bebas di mana nilai tukar rupiah tergantung permintaan dan penawaran. "Yang penting kondisi ekonomi diperbaiki, tidak ada gunanya kita lakukan intervensi pasar. Kalau kita intervensi dan cadangan devisa habis sementara rupiah tidak bisa menguat, tidak ada gunanya, maka yang perlu diperbaiki kondisi perekonomian kita," tandas Sofyan.

Menurut dia, kurs rupiah yang melemah akhir-akhir ini kemungkinan karena banyak yang membutuhkan dolar AS untuk membayar bunga utang, dividen, utang dan sebagainya. "Jadi karena faktor penawaran dan permintaan saja," tambahnya.

Sementara itu mengenai penurunan suku bunga, Sofyan Djalil mengatakan Bank Indonesia merupakan lembaga independen. Menurut dia, pemerintah tidak bisa mencampuri kebijakan moneter BI. Kalau Presiden Joko Widodo memanggil BI itu untuk menginformasikan kepada pemerintah apa yang dilakukan, mengapa kurs melemah, dan BI menjelaskan dari sisi kebijakan mereka, asesmen terhadap perekonomian.

"Jadi keputusan menaikkan atau menurunkan suku bunga itu kebijakan independen BI," katanya. Sementara itu mengenai penyerapan anggaran, Sofyan mengatakan sekarang ini baru Maret jadi masih sedikit penyerapan anggarannya sehingga Presiden Joko Widodo meminta agar kontrak-kontrak dipercepat supaya uang beredar di masyarakat.

"Itu akan meningkatkan daya beli masyarakat dan akan menghidupkan industri karena ada permintaan dari masyarakat," katanya.

Dia menyebutkan jika dahulu tender-tender baru didakan bulan Juni, Juli dan Agustus maka tahun ini dipercepat pada Maret dan April. "Diharapkan penyerapan anggaran bisa mencapai 95% penyerapan lebih besar dan kualitas lebih baik karena waktu pelaksanaan seperti pembangunan sarana fisik lebih lama," kata Sofyan Djalil.

Picu inflasi

Di kesempatan terpisah, Ekonom Universitas Sam Ratulangi Manado, Joubert Maramis mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp13.000 per dolar AS bisa memicu inflasi di Indonesia. "Dampak langsung pelemahan rupiah adalah seluruh sektor ekonomi yang menggunakan bahan baku impor dan ini bisa memicu inflasi baik nasional maupun daerah," kata Joubert, di Manado, Sulawesi Utara.

Dia mengatakan logikanya jika kurs tidak diturunkan pada level Rp12.000 per dolar AS maka dalam jangka panjang akan memicu inflasi di Indonesia karena memang Indonesia masuk dalam "middle income trap". Sudah pasti barang impor, lanjut Joubert, akan melambung harganya jika pelemahan rupiah dibiarkan minimal dua bulan saja.

"Kalau hanya temporer maka pengusaha akan menunda pemesanan bahan baku impor, namun lepas dari dua bulan mereka pasti akan tetap memaksakan membeli karena stok menipis di gudang, pada kondisi ini harga barang impor akan naik," jelasnya.

Dengan demikian, kata dia, akan mempengaruhi inflasi karena kelompok orang berpendapatan menengah kita menyukai barang impor dan barang berteknologi tinggi. Dalam jangka panjang, harga barang dengan bahan baku lokal juga secara psikologis akan naik.

“Nah, pada kondisi ini pasar uang akan mempengaruhi pasar barang dan pasar modal, seperti pada kasus krisis ekonomi di tahun 1997. Solusinya adalah Bank Indonesia harus secepatnya lakukan operasi pasar valuta asing, khususnya mengantisipasi kelebihan permintaan dolar di Indonesia," kata dia. Kemudian untuk menambah cadangan devisa kita, maka perlu direformasi struktur industri ke arah ekspor dan mengurangi defisit APBN kita sehingga utang berkurang.

Ekonom DBS Group, Gundy Cahyadi, memperkirakan penguatan kurs dolar AS terhadap mata uang global akan terus terjadi, sehingga mengakibatkan pelemahan rupiah berkepanjangan yang harus diantisipasi oleh Bank Indonesia.

"Itu karena dampak pasar finansial global. Penguatan dolar AS terus berlanjut seiring dolar Amerika juga menguat ditambah sejumlah bank sentral juga mulai melemahkan nilai mata uangnya terhadap dolar AS," ujarnya, belum lama ini.

Gundy menuturkan memang sinyalemen perang kurs dalam perekonomian global semakin terlihat setelah Bank Sentral Eropa (Europan Centra Bank/ECB) dan Bank Sentral Jepang (BoJ) memulai pelonggaran kebijakan moneternya yang diikuti sejumlah bank sentral dari Kanada, Australia, Singapura, bahkan India.

Dampak terhadap kurs rupiah sudah terlihat sejak akhir 2014, di mana rupiah yang saat itu berada di level Rp11.500 terus melemah hingga saat ini yang di kisaran Rp12.900. Pelemahan kurs secara global terhadap dolar AS, menurut dia, dilakukan untuk memberikan stimulus kepada ekspor, terutama ekspor sektor manufaktur.

Tetap kompetitif

Sayangnya, kata Gundy, pemerintah Indonesia tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkan pelemahan rupiah tersebut karena harga komoditas ekspor andalan yang masih lesu di samping turunnya permintaan negara-negara mitra dagang.

"Jadi kita tidak dapat membiarkan rupiah itu terus melemah, karena tidak efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," tuturnya. Di sisi lain, menurut Gundy, BI telah menopang "real exchange rate" (RER) rupiah sehingga meskipun melemah terhadap dolar AS, rupiah tetap kompetitif dibandingkan mata uang asing lainnya.

"Secara implisit, BI menyadari. Maka itu, rupiah sejatinya masih cukup kuat dalam “basket” mata uang global. Tapi tetap saja rupiah harus dijaga agak tidak semakin melemah," ujarnya. Gundy mengatakan jika BI gagal menjaga kurs rupiah terhadap dolar dan mata uang asing lainnya, kata Gundy, dampak negatifnya akan sangat terasa pada laju pertumbuhan ekonomi.

Apabila rupiah terus melemah dan melampaui Rp13 ribu per dolar AS, maka laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin jauh dari target 5,7% seperti dalam APBN-P 2015. "Rupiah tidak bisa terlalu melemah karena bisa jadi bumerang untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," ujarnya. [ardi]

Related posts