Menuju Qualified ASEAN Bank - Perbankan Didorong Lakukan Konsolidasi

NERACA

Jakarta - Anggota Komisi XI DPR, Andreas Eddy Susetyo, menilai Indonesia harus mempunyai banyak bank berskala ASEAN agar perekonomian nasional terdongkrak serta mampu menghadapi era kompetisi yang sengit dengan bank-bank asing. "Kalau tidak, ekonomi Indonesia akan selalu kalah dari negara ASEAN, terutama Singapura dan Malaysia. Itulah kenapa perlunya bank-bank melakukan konsolidasi dengan banyak bank. Dalam menghadapi kompetisi tersebut, Indonesia harus memiliki bank besar yang kuat," katanya di Jakarta, Rabu (4/3).

Indonesia, lanjut Andreas, membutuhkan bank besar agar dapat menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, bila ekonomi nasional kuat, Indonesia maka bisa menjadi negara perekonomian terbesar ketujuh dunia. "Sangat perlu. Kita harus memenuhi persyaratan Qualified ASEAN Bank (QAB) menyongsong tahun 2020," tegas dia.

Andreas menuturkan, meski saat ini perekonomian Indonesia masuk 15 besar, Indonesia belum memiliki bank berskala besar yang mampu menyaingi bank-bank Singapura ataupun Malaysia. Sedangkan, Singapura dan Malaysia, meski tidak masuk perekonomian 15 besar dunia, bank- bank dari kedua negara itu justru lebih besar dari Indonesia.

"Maka dari itu, supaya bisa unggul dari Malaysia dan Singapura, harus bisa menetapkan kebijakan konsolidasi melalui perkembangan nonorganik (merger antar bank swasta dan bank BUMN)," ujar Andreas. Di Singapura dan Malaysia, skala bank kian membesar dan mampu bersaing di tingkat regional akibat proses konsolidasi yang dilakukan oleh pemerintahnya.

Menurut dia, sejak 1990 - 2013, pemerintah Singapura mengonsolidasikan jumlah perbankannya dari 13 bank menjadi tinggal tiga bank yang besar-besar, yakni DBS Bank, OCBC Bank, dan UOB Bank. Sementara itu. Malaysia juga melakukan hal serupa sepanjang periode 1990 - 2013, di mana jumlah bank mereka dikonsolidasikan dari 28 bank menjadi tinggal delapan bank besar.

Gelombang MEA, kata Andreas, dapat dikatakan menggerus pangsa pasar bank-bank nasional karena bisa saja terjadi saling sikut antar pemain di dunia perbankan. Semua bank, nasional maupun internasional, dapat memainkan strategi mengamankan konsumennya masing-masing. Artinya, bank-bank akan saling ambil pelanggan dari bank lain.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang periode 1999-Juni 2013, pangsa pasar aset bank asing dan usaha patungan naik dari 11,6% menjadi 36,5%. Sementara kredit juga naik dari 20,3% menjadi 35,1%. Sedangkan pangsa pasar bank BUMN dan bank swasta nasional domestik menurun signifikan.

Indonesia dinilai akan semakin `dijajah’ oleh bank-bank asal Malaysia dan Singapura, jika tidak memiliki bank berskala regional yang masuk kategori QAB. Pasalnya, bank-bank yang masuk kategori QAB, akan dibebaskan dan diberi leluasa untuk berekspansi ke negara-negara ASEAN tanpa ada pembatasan sama sekali.

Modal dan efisien

Saat ini, meski QAB belum diberlakukan, bank-bank asal Malaysia dan Singapura telah memiliki banyak jaringan kantor di Indonesia. Sebut saja, PT Bank CIMB Niaga Tbk yang memiliki 968 jaringan, BII-Maybank 426 kantor, PT Bank Danamon Indonesia Tbk 1.509 jaringan, Bank UOB Buana sebanyak 215 cabang, dan PT Bank OCBC NISP Tbk 334 cabang.

Bahkan, CIMB Niaga mencanangkan visi menjadi perusahaan ASEAN terkemuka dengan misi menyediakan layanan perbankan universal di Indonesia dengan kinerja unggul di kawasan ASEAN dan mendukung percepatan integrasi ASEAN.

Pada kesempatan terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Berly Martawardaya, menilai perbankan Indonesia, khususnya pelat merah, sejatinya harus memperkuat struktur permodalannya dan melakukan efisiensi guna menghadapi persaingan dengan bank-bank asing dalam lima tahun ke depan.

"Pangsa pasar bank-bank asing akan semakin membesar jika industri perbankan nasional tidak berupaya meningkatkan daya saingnya," ujar Berly di Jakarta, baru-baru ini. Menurut dia, merger atau akuisisi adalah cara ampuh untuk meningkatkan efisiensi. Hal itu akan membuat komposisi direksi lebih ramping dan pemangkasan kantor cabang.

Selain itu, kata Berly, pemerintah juga harus membenahi regulasi di bidang perbankan. Berly mencontohkan Singapura, dimana bank asing boleh membuka cabang namun tidak boleh menerima nasabah lokal.

"Jika kita berlakukan itu sudah sangat terlambat, namun diperlukan. Bank berkembang secara organik membutuhkan waktu dan kita tidak punya waktu banyak. Saat ini terlalu banyak bank di Indonesia," ujar Berly.

Sebagai informasi, jumlah bank yang eksis di Indonesia saat ini sebanyak 119 bank, dan rencananya pada tahun-tahun mendatang jumlah tersebut akan menyusut menjadi 60 bank saja. Khusus pasar Indonesia, sambung Berly, bank-bank lokal harusnya bisa lebih siap karena sudah memiliki cukup segmentasi.

Sedangkan bank asing masih membutuhkan waktu untuk menggarap pasar Indonesia. Meski demikian, pemerintah harus memikirkan agar bank-bank lokal tidak hanya menguasai pasar lokal, tapi juga bisa berekspansi di ASEAN.

Untuk itu, dirinya lebih menyarankan agar perbankan nasional dikonsolidasikan di mana seharusnya lebih mudah dilakukan antara bank BUMN mengingat pemegang saham mayoritasnya sama, yakni pemerintah.

"Kita sudah punya API (Arsitektur Perbankan Indonesia), sudah dirumuskan bank-bank tier 1 dan 2, bank internasional dan regional. Namun implementasinya sulit. Harus diingat. Dengan atau tanpa adanya pasar bebas ASEAN (MEA), Indonesia tetap memerlukan konsolidasi perbankan. Salah satu tujuannya adalah menghindari inefisiensi,” tegas Berly.

Belum mampu

Dosen Ekonomi Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengatakan bahwa bank di Indonesia belum mampu bersaing dengan bank di Singapura dan Malaysia karena perbedaan sisi sektor riil. "Indonesia negara besar tetapi perekonomiannnya tidak merata, sedangkan Singapura wilayahnya kecil namun pusat keuangan di Asia,record data keuangannya pun lebih jauh dari Indonesia," kata Telisa.

Selain itu, lanjut Telisa, Indonesia adalah negara berbasis agraris, sementara Singapura sebagai negara jasa. "Jadi wajar saja jika GDP-nya jauh berbeda," ujar Telisa. Oleh karena itu, menurut dia, Indonesia membutuhkan bank besar yang stabil dan kuat secara fundamental agar kondisi perekonomiannya mampu berkembang lebih baik.

"Visi masuk nomor tujuh perekonomian besar dunia memang penting dan perlu didukung sektor perbankan yang kuat. Tapi tidak hanya besar namun juga stabil," katanya. Telisa menambahkan, jumlah bank di Indonesia terlalu banyak yang membuat perekonomian kurang stabil. Selain itu, bank-bank di Indonesia seringkali terjebak persaingan yang ketat antarbank, sehingga mereka saling memakan konsumen di pasar.

"Makanya konsolidasi bank jadi penting," ujar Telisa. Apalagi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, lanjut Telisa, Indonesia perlu membentuk satu bank berskala regional untuk meningkatkan citra Indonesia di mata ASEAN.

"Selain itu, bank kita harus berdaulat di negeri sendiri,” tegasnya. Menurut Telisa, salah satu caranya yakni melakukan konsolidasi terhadap bank-bank yang ada. Hanya saja dalam melakukan pembangunan, bank-bank di Indonesia mengalami kendala regulasi yang sangat ketat. Dia lalu mencontohkan untuk infrastruktur, di mana perbankan akan sulit membiayai karena berisiko tinggi.

Chief Economist Samuel Sekuritas Indonesia,Lana Soelistianingsih menegaskan, konsolidasi perbankan amat dibutuhkan untuk menghadapi liberalisasi perbankan MEA 2020 di mana nanti bank-bank berstatus Qualified ASEAN Banks (QAB) akan bebas berekspansi ke berbagai negara ASEAN.

Menurut Lana, sebagai pemegang saham, pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur aset dan pengelolaan bank-bank milik negara. Untuk itu, pemerintah harus mencari kandidat dirut bank BUMN yang mampu menjawab tantangan zaman dalam 10 tahun ke depan."Saya yakin pemerintah tentu akan memilih orang yang sesuai dengan visi konsolidasi perbankan," ujarnya. [ardi]

Related posts