Menakar Daya Serap IPO RS Mitra Keluarga

NERACA

Jakarta – Menyusul kesuksesan IPO Rumah Sakit (RS) Siloam dan Omni Internasional, kali ini ada Rumah Sakit Mitra Keluarga, unit usaha Grup Kalbe yang juga melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di pasar modal. Bahkan dalam pelaksanaanya, perseroan menaikkan target perolehan dana penawaran umum perdana (IPO) saham menjadi US$ 300-400 juta (Rp 3,8 triliun- Rp 5 triliun) dari sebelumnya US$ 200-300 juta. Aksi korporasi itu digadang-gadang menjadi calon IPO terbesar di Indonesia tahun ini.

Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk, Michael Steven, selaku penjamin emisi IPO menegaskan, walau harga yang di tawarkan mahal, dirinya optimis mampu diserap pasar,”Kita yakin aksi korporasi penawaran saham perdana RS Mitra Keluarga bakal terserap pasar karena melihat antusiasme investor dan kinerja RS Mitra yang cukup baik. Maka dari harga itu, kita perkirakan PE di kisaran 35-42 kali,”ujarnya.

Disebutkan, perseroan menawarkan harga cukup tinggi untuk 261.913 ribu lembar saham itu di kisaran harga Rp14.500 - Rp15.000 per lembar saham. Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang berpendapat, harga awal penawaran IPO saham PT Mitra Keluarga Karya sehat pada kisaran Rp 14.500-18.000 terlalu mahal. Penilaian tersebut didasarkan pada potensi gain dan dividennya, terutama jika dibandingkan rumah sakit selevel seperti PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO),”Harga Mitra Keluarga Rp 14.500-18.000 itu terlalu mahal. Bandingkan dengan SILO yang masih ditutup Rp 12.225 akhir pekan lalu. Jadi, idealnya kalau pun mau beli, harga ideal saham Mitra Keluarga adalah Rp 12.000. Pada akhirnya, harga saham Mitra Keluarga akan ditentukan ketika book building dan premarketing kepada para pemilik modal, termasuk dana pensiun dan asuransi,” ujar Edwin.

Menurut Edwin, harga ideal saham Mitra Keluarga sekitar Rp 12.000 agar menarik dan tidak terlalu jauh dengan SILO Rp 12.225. Dalam jangka pendek, jika harga saham Mitra Keluarga dipaksakan misalnya pada Rp 14.500 per saham kemungkinan sulit terserap pasar. “Sebab, harga sahamnya diperkirakan sulit bergerak menguat dalam jangka pendek, sehingga investor kurang menyukainya,” tutur dia.

Dibanding Siloam, kata Edwin, Mitra Keluarga kalah agresif dalam rencana ekspansinya. Karena itu, menurut Edwin Sebayang, Siloam menjadi lebih menarik karena akan menambah dan membuka lebih dari 30 rumah sakit baru hingga 2017. Saat ini, Siloam telah mengoperasikan sekitar 20 rumah sakit. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis, pendapatan, dan laba Siloam lebih prospektif. Dampaknya, harga sahamnya pun berpotensi ikut terangkat lebih cepat dan memberikan potensi dividen lebih besar kepada investor.

Meski demikian, Edwin mengakui, ada hal yang cukup menarik pada Mitra Keluarga. Selama periode 2009–2013, Mitra Keluarga mencatatkan pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 20,3% untuk pendapatan, 28,7% untuk laba operasional, dan 33,2% untuk laba bersih. Apalagi Mitra Keluarga disebut tidak memiliki utang signifikan.

Menjadi Terbesar

Hal senada dikemukakan Kepala Riset NongHyup Korindo Securities, Reza Priyambada, analis Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, dan analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Mitra Keluarga membidik dana hasil IPO senilai Rp 3,7–4,7 triliun. Jika terealisasi, IPO saham Mitra Keluarga akan menjadi yang terbesar setelah penawaran perdana PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) pada 2011 senilai Rp 4,75 triliun. Mitra Keluarga akan menawarkan hingga 261,9 juta saham atau setara 18% dari modal ditempatkan. Jumlah itu terdiri atas 72,7 juta (5%) saham baru dan 189,1 juta (13%) saham divestasi induk usaha. Adapun harga indikasi ditetapkan pada kisaran Rp 14.500–18.000.

Asal tahu saja, nantinya penggunaan dana IPO antara lain 56% untuk pembangunan gedung RS baru, 20% untuk pembelian alat medis dan infrastruktur IT, 16% untuk biaya akusisi lahan, dan sekitar 8% untuk ekspansi RS yang sudah ada.

Ir. Rustiyan Oen, MBA, Direktur Utama Mitra Keluarga mengungkapkan, dalam lima tahun ke depan pihaknya akan membangun sebanyat 7 RS baru di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. "Rencananya tahun ini 1 RS, tahun depan 2 RS, kemudian sisanya satu-satu per tahun," pungkas dia.

Adapun untuk biaya pembangunan 1 RS berkisar Rp250 miliar hingga Rp300 miliar. Sehingga untuk tahun 2015, perseroan hanya menyiapkan belanja modal (capital ecpenditure/capex) di kisaran Rp300 miliar saja. "Capex tahun ini mendekati Rp300 miliar," ungkap Rustiyan.

Saat ini RS Mitra Keluarga beroperasi di sebelas RS – tujuh di Jakarta dan sekitarnya, tiga di Surabaya, dan satu di Tegal – dengan total kapasitas sekitar 2.000 tempat tidur."Dari jumlah bad yang ada tingkat okupansinya rata-rata 70% dengan line of stay rata-rata 3,6 hari per pasien. Ini antara pasien pribadi dan yang dicover asuransi seimbang," kata dia.

Ke depan, lanjut Rustiyan, pertumbuhan RS dalam 5 tahun ke depan bakal positif mengingat sejauh ini belum ada pemain besar di industri ini. Selain itu, dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, tingkat pertumbuhan kelas menengah juga tinggi, namun ketersediaan RS masih minim. "Belum lagi kita liat pasien BPJS penuh di sejumlah RS. Jadi ke depan industri tetap tumbuh,”tandasnya. (bani)

Related posts