Menyusuri Sejarah Tinta

NERACA. Sejarah alat tulis manusia dalam menyampaikan pikiran, perasaan, bahkan daftar belanjaan merupakan rangkaian panjang dari sejarah keberadaan tinta. Penggunaan tinta secara komersial, sebenarnya sudah dilakukan 500 tahun silam dalam sebuah pencetakan dalam dunia Barat.

Perkembangan tinta di Cina diwali dengan ditemukannya kertas dari serat kayu pada tahun 105, dan diikuti Jepang pada tahun 700. Penemuan ini sempat dibawa bangsa Spanyol. Sekitar tahun 711, orang-orang Arab mulai mengenal tulis menulis menggunakan kulit kayu dan binatang. Selanjutnya secara luas, pada abad ke-14 di Eropa dibangun pabrik kertas skala besar dan komersil. Ini dibuktikan dengan tersebar bukti sejarah disepanjang rute Timur ke Barat, dan dikenal di daratan Eropa pada sekitar tahun 1400.

Pada tahun 1450, Johann Gutenberg sebenarnya telah mengadaptasi percetakan sekrup, yakni system cetak dari mesin press anggur, dan menggunakan tinta berbahan dasar minyak. Caranya? Ketika mesin ditekan, maka minyak akan tersebar mencetak dalam bentuk halaman-halaman teks.

Terobosan gemilang adalah penemuan tinta printer pada sekitar tahun 1460. Tinta pada printer pertama ini, mampu menempel ke permukaan logam yang diberi panas minyak biji Rami. Namun hasil cetakan dari biji Rami hanya mampu bertahan satu tahun, lalu berlendir dan luntur.

Untuk mengatasinya, beberapa peneliti sempat mampu mempertahankan adonan biji Rami dengan menambahkan litharge (monoksida timbal), yang sekaligus dapat mempercepat proses pengeringan.

Pada tahun 1799, Alois Senefelder, seorang peneliti asal Austria Austria mampu menciptakan mesin litografi, yang mampu mencetak gambar dan teks pada permukaan datar dan halus pada batu kapur. Selanjutnya beberapa penyempurnaan hingga hadirnya mesin cetak ukuran kecil digunakan hingga sekarang.

Pada tahun 1772, paten pertama untuk membuat tinta berwarna dikeluarkan di Inggris. Dan pada abad ke-19, sebuah agen pengeringan kimia didirikan. Sejak itu, penggunaan berbagai pigmen untuk tinta berwarna mulai meluas digunakan.

Ada pula tinta berdasar amonia baru dengan pewarna aniline, teknologi ini muncul pada pertengahan tahun 1800-an. Tinta ini dapat dikonversi menjadi array, namun saat tinta berbasis minyak menembus kertas koran dengan cepat segera dikeringkan.

Dengan awal abad ke-20, pembuatan tinta kian rumit, Bahkan sebuah percetakan mini dalam bentuk printer terdapat disetiap rumah. Di negara maju, memang sebagian besar tempat tinggal dan bisnis memiliki kemampuan pencetakan. Oleh karenanya, membeli tinta dalam bentuk kartrid cetak telah menjadi bagian dari pengalaman belanja sehari-hari.

Dan saat ini, sekitar 250.000 ton tinta digunakan setiap tahun di Amerika Serikat, bahkan ketika kekurangan minyak bumi pada pertengahan 1970-an, penggunaan tinta berbasis minyak kedelai mulai diperkenalkan. Bahkan Asosiasi Kedelai Amerika sejak tahun 1980, gencar mempromosikan penggunaan minyak kedelai dalam tinta cetak. Sedangkan di Eropa, penggunaan minyak digantikan dengan lobak atau bunga matahari.

BERITA TERKAIT

Sejarah Baru, Saham Freeport Kini Milik Indonesia

Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Proses divestasi saham senilai US$3,85 miliar telah…

Situs Gunung Padang, Misteri Pengubah Sejarah Dunia

Situs Gunung Padang digadang-gadang sebagai salah situs tertua di dunia. Situs berusia 10 ribu tahun ini disebut semasa dengan situs…

Sukses Pelaksanaan T+2 - Industri Pasar Modal Cetak Sejarah Baru

NERACA Jakarta –Sempat dikhawatirkan ada potensi gagal pelaksanaan implementasi penyelesaian transaksi T+2, namun akhirnya pada saat pembukaan perdagangan Senin kemarin…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…