Industri Butuh Rupiah Stabil

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami gonjang-ganjing akhir-akhir ini. Di saat nilainya terus mengalami pelemahan, dampaknya terhadap industri yang berbahan baku impor pasti menjadi beban. Begitu pula terhadap barang dan bahan untuk keperluan masyarakat dan pembangunan pasti akan mengalami tekanan pula.

Kondisi seperti ini bebannya akan menjadi berat manakala barang dan bahan impor di pasar internasional harganya mengalami kenaikan. Karena beban domestiknya menjadi bersifat ganda, yaitu harga internasional yang naik, dan nilai tukar yang melemah. Rugi dua kali sehingga apapun kalkulasinya, daya saing terhadap industri dan ekonomi pada umumnya mengalami tekanan yang cukup berat.

Soal hitung menghitung dampak atas berbagai kondisi yang menghadang industri nasional pasti sudah ada yang melakukan, baik oleh pemerintah maupun dunia usaha sendiri. Yang justru sering terlambat adalah langkah antisipasinya. Pemerintah tidak dapat segera menentukan tindakan remedynya dengan cepat dan tepat untuk mencegah dampak ikutannya, yakni inflasi, tekanan terhadap neraca transaksi berjalan dan sebagainya.

Kondisi domestik Indonesia yang telah secara aktif menjalankan kebijakan ekonomi terbuka menghadapi tekanan impor yang berlapis-lapis yang menyebabkan nilai tukar rupiahnya terhadap dolar AS gampang melemah karena fenomenya bersifat unik.

Keunikan tersebut adalah membangun ekonomi domestik tetapi basisnya impor, baik berupa bahan baku/penolong/suku cadang/komponen, barang modal, dan barang konsumsi. Contoh, untuk memenuhi kebutuhan industri saja, angkanya cukup besar,yakni mencapai sekitar 80% lebih kebutuhan materialnya berasal dari impor. Semakin pertumbuhan domestiknya mengalami boming, pasti kebutuhan valuta asingnya kian membengkak, dan dampaknya nilai tukarnya akan melemah.

Celakanya, cadangan devisa juga ikut terkuras karena kebutuhan untuk belanja barang dan bahan impor membengkak. Belum lagi untuk membayar jasa-jasa yang juga masih kita impor. Masuk ke jaringan sistem ekonomi global memang akan menjadi masalah jika negara kita tidak memiliki kebijakan dan strategi yang komprehensip dan tepat.

Sehebat apapun Bank Indonesia mampu meredam gejolak moneter, daya sapunya juga terbatas karena sumber daya yang bisa digerakkan oleh Bank Indonesia kekuatan jelajahnya terbatas. Fundamental makro kita baik, tetapi fondamental mikro kita berdarah-darah dan rujukannya adalah impor. Sampai hari ini, kita berada dalam jebakan jaringan impor karena fundamental mikronya hanya bisa tumbuh kalau ada impor, dan syaratnya adalah "harganya murah", dan nilai tukar mata uangnya stabil supaya industri dan kegiatan ekonomi lainnya tetap dapat beroperasi.

Jalan yang bisa kita lalui tidak ada rute lain yang dapat kita lewati, kecuali negeri ini harus memperbaiki postur kebijakan perdagangan internasional yang tujuannya adalah menciptakan surplus ekspor dalam jumlah yang masif.

Related posts