Dukung TKDN Ponsel 40% - Hipmi Jaya Ingatkan Kualitas Produk Harus Dijaga

NERACA

Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia DKI Jakarta mendukung kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 40% ponsel. Hipmi berharap agar pemerintah konsisten menerapkan kebijakan ini. Meski demikian, Hipmi mengingatkan target (40% TKDN) tersebut tetap mempertimbangkan sisi kualitas produk kandungan dalam negeri. “Mengenai TKDN sampai 40% itu mungkin pemerintah sudah mempunyai hitungan tersendiri, kira-kira apa-apa saja yang sudah sanggup untuk diproduksi ditingkat lokal. Meski demikian kita juga harus memastikan dan menjamin kualitas dari produk tersebut. Jangan sampai karena untuk memaksakan target TKDN, lalu muncul banyak produsen dengan produk yang mengesampingkan kualitas. Sehingga nantinya yang akan dirugikan adalah kita juga yakni konsumen,” ujar Ketua Umum BPD Hipmi DKI Jakarta, Rama Datau Gobel, di Jakarta, Selasa (3/3).

Dia juga membeberkan, Hipmi Jaya mendukung sepenuhnya kebijakan TKDN 40% tersebut. Sebab selain akan memicu peluang usaha di industri kreatif, TKDN ini juga akan memberikan dampak positif untuk industri telekomunikasi di Tanah Air. Seperti diketahui jumlah pengguna jasa telekomunikasi di indonesia sangat besar. “Apalagi, pengguna ponsel di Indonesia rata-rata mempunyai lebih dari satu ponsel,” paparnya. Jika digabung menjadi satu, total pelanggan operator telekomunikasi melalui ponsel pada 2014 sekitar 251 juta pengguna. Dari jumlah tersebut, ujar Rama, sekitar 30-40 juta merupakan pengguna ponsel pintar (smartphone). “Jadi diperkirakan ke depan akan lebih banyak lagi pengguna handphone yang akan hijrah dari featured phone ke smartphone,” jelas Rama. Teknologi inti Terkait kandungan lokal ponsel, Rama mengatakan, tidak harus pada teknologi inti ponsel. Bisa juga dari desain, kemasan (packaging), dan aksesoris seperti charger, handsfree, buku panduan dan sebagainya. Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan, agar di industri ini nantinya terjadi transfer knowledge dan knowhow, khususnya teknologi ponsel. “Selain itu juga industri turunannya mungkin bisa juga di masukan lokal kontennya misalkan seperti jasa kreatif untuk iklan pemasaran, aplikasi mobile yang di masukan langsung di dalam handset tersebut dan lain-lain. Ini sangat bisa mendukung berkembangnya industri kreatif juga,” tukasnya. Rama menilai sudah saatnya pemerintah memajukan industri telekomunikasi nasional. Sebab selama ini yang dimajukan adalah bisnis telekomunikasi.”Dulu kita sibuk mencari investor telekomunikasi. Supaya bisnisnya jalan dulu. Sekarang kita bangun industri telekomunikasi di dalam negeri beserta turunan-turunannya. Kalau bisnis telekomunikasi, hanya bisa di nikmati oleh para pemilik operator saja, yang mana kita ketahui hampir semua di kuasai oleh asing,” papar Rama. Dia mengatakan, potensi industri telekomunikasi Indonesia sangat besar. Sebab jumlah pelanggan atau pengguna telekomunikasi di indonesia masuk dalam lima besar dunia. “Tetapi sayangnya industri telekomunikasi kita bisa di bilang cukup jauh dibelakang negara-negara yang bisa di bilang jumlah pelanggannya jauh di bawah kita seperti Taiwan, Malaysia dan lain-lain,” imbuh Rama.

Keterbelakangan industri telekomunikasi di Tanah Air dapat terlihat dari minimnya kehadiran produk pendukung jasa telekomunikasi asal indonesia baik penyedia hardware atau software di pameran-pameran internasional. “Kita lihat saja di pameran telekomunikasi tingkat international baik itu Communicasia maupun GSM Conference yang ada di Barcelona, Spanyol. Sangat jarang kita temui perusahaan pendukung jasa telekomunikasi asal indonesia baik penyedia hardware atau software. Saatnya kita memikirkan industri ini,” tutup Rama. [ardi]

Related posts