Pendapatan Tower Bersama Tumbuh 23%

NERACA

Jakarta – Tahun 2014 berhasil dilalui PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sebagai perusahaan jasa menara telekomunikasi dengan performance kinerja keuangan yang tumbuh agresif dengan berbagai rencana bisnis yang besar, seperti berhasil merampungkan akuisisi Miratel anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Berdasarkan siaran persnya di Jakarta, Selasa (3/3), Tower Bersama berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,3 triliun atau tumbuh 23% dibandingkan tahun 2013. Sementara EBITDA perseroan juga tumbuh 23% menjadi Rp2.717 triliun untuk periode satu tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014.

Keberhasilan perseroan tidak hanya sebatas pendapatan, tetapi juga portofolio menara BTS. Kata CEO Tower Bersama, Hardi Wijaya Liong, tahun 2014 perseroan berhasil menambahkan 1.959 menara telekomunikasi secara organik ke dalam portofolio,”Kami terus mendapatkan dukungan dari para kreditur seperti bank dan pemegang obligasi dalam menumbuhkan bisnis kami,”ujarnya.

Perseroan juga membukukan marjin EBITDA juga meningkat menjadi 82,2% pada akhir 2014 dibandingkan dengan 82% pada akhir 2013. Jika hasil triwulan keempat disetahunkan, maka total pendapatan Perseroan mencapai Rp3.500 miliar dan EBITDA mencapai Rp2.876 miliar.

Per 31 Desember 2014, total pinjaman (debt) perseroan, jika bagian pinjaman dalam dollar Amerika yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, adalah sebesar Rp14.835 miliar dan total pinjaman senior (gross senior debt) sebesar Rp11.522 miliar. Dengan saldo kas yang mencapai Rp901 miliar, maka total pinjaman bersih (net debt) menjadi Rp13.934 miliar dan total pinjaman senior bersih (net senior debt) Perseroan menjadi Rp10.621 miliar.

Rasio pinjaman senior bersih (net senior debt) terhadap EBITDA triwulan keempat yang disetahunkan adalah 3,69x, dan rasio pinjaman bersih (net debt) terhadap EBITDA triwulan keempat yang disetahunkan adalah 4,84x. Ini berarti TBIG masih mempunyai ruang untuk pendanaan lebih lanjut berdasarkan rasio yang disyaratkan dalam perjanjian pinjaman perseroan serta obligasi bedenominasi Dollar Amerika dan Rupiah.

Per 31 Desember 2014, TBIG memiliki 19.076 penyewaan dan 11.820 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri dari 10.825 menara telekomunikasi, 941 shelter-only, dan 54 jaringan DAS. Dengan total penyewaan pada menara telekomunikasi sebanyak 18.081, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) Perseroan menjadi 1,67.

Belum lama ini, Tower Bersama menerbitkan obligasi global US$ 350 juta melalui anak usahanya TBG Global Pte Ltd. Dana tersebut untuk membiayai kembali alias refinancing utang. Manajemen TBIG lebih memilih menerbitkan obligasi dollar AS lantaran lebih mudah diserap pasar. Kalau dirupiahkan, surat utang tersebut bernilai Rp 4,3 triliun. "Dengan jumlah sebanyak itu, di Indonesia agak susah penyerapannya,”kata Helmi Yusman Santoso, Direktur Keuangan TBIG.

Obligasi TBIG tersebut memberi bunga 5,25% dan jatuh tempo 2022. Utang TBIG adalah jenis revolving senilai US$ 300 juta. Nah, sisa dana obligasi untuk ekspansi.(bani)

Related posts