Indonesia-Selandia Baru Perkuat Kerjasama - Perdagangan Internasional

NERACA

Jakarta - Indonesia berkeinginan untuk memperkuat kerja sama dengan Selandia Baru dalam sektor peternakan sapi dan pasokan daging, kata Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dalam kunjungan kerja ke Selandia Baru. Hal itu disampaikan dalam keterangan pers dari Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Selasa. Menlu RI mengunjungi peternakan sapi Whenuanui di Helensivlle, Auckland menjelang pertemuan "Joint Ministerial Commission" dengan Menlu Selandia Baru Murray McCully di Auckland.

“Indonesia mengakui kapasitas dan pengalaman Selandia Baru dalam budidaya ternak, yakni sektor yang ingin dipelajari lebih lagi oleh Indonesia dalam upaya mencapai keberlanjutan produksi daging sapi dan ketahanan pangan,” ujar Menlu Retno, seperti dikutip dari laman Antara, kemarin. Menurut dia, penguatan kerja sama di sektor ternak sapi akan memungkinkan Indonesia untuk memvariasikan suplai ternak dan daging sapi serta memampukan Indonesia untuk memperoleh sumber-sumber daging yang lebih luas.

Dia mengungkapkan sebenarnya sudah ada keterhubungan yang kuat antara Selandia Baru dan Indonesia dalam sektor peternakan sapi. Indonesia memasok 49,7 persen kebutuhan "palm kernel expeller" di Selandia Baru. "Palm kernel expeller" adalah produk limbah dari produksi minyak sawit yang merupakan sumber penting pakan tambahan untuk ternak, terutama untuk peternakan industri susu.

Sementara itu, 43 persen ekspor produk susu dari Selandia Baru ditujukan ke Indonesia. Selandia Baru adalah salah satu produsen terbesar sapi perah dan sapi potong secara global, dengan pasokan sekitar 6,7 juta sapi perah dan sekitar 3,7 juta sapi potong pada 2014. Total perdagangan antara Selandia Baru dan Indonesia mencapai sekitar 1,3 miliar dolar AS pada 2014. Dalam kerja sama pertanian, Indonesia juga mencari akses pasar yang lebih luas di Selandia Baru khususnya untuk buah-buahan tropis, seperti manggis, salak dan mangga.

Tak hanya soal peternakan, Indonesia juga menjalin kerjasama dengan Selandia Baru di bidang media. Kerja sama Indonesia dengan Selandia Baru yang telah terjalin selama ini akan semakin mantap jika masyarakat kedua negara juga menjalin hubungan baik. “Kadang kerja sama antar pemerintah yang begitu bagus kurang terefleksi dalam hubungan antar masyarakat. Hanya medialah yang bisa menjadi jembatan kuat," ujar Yuri O. Thamrin, Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri.

Selandia Baru langsung menyambut baik usul Indonesia dan akan mengirimkan wartawan ke beberapa negara ASEAN, khususnya Indonesia. Diharapkan, lebih banyak wartawan Indonesia juga dapat berkunjung ke Negeri Kiwi tersebut. Menurut Yuri, kerja sama media juga bisa memperkuat demokrasi yang sudah terbangun di ke kedua negara. Ia berpendapat, hal ini akan lebih baik lagi bila dilengkapi kerja sama antar lembaga anti-korupsi. Selain urusan media dan anti-korupsi, pertemuan juga membahas kerja sama politik, pertahanan, maritim, ekonomi, pendidikan serta isu bilateral lainnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, mengatakan, ada tautan yang menyebabkan Indonesia dan New Zealand cocok untuk menjalin kemitraan. Ia menyebutkan bahwa Indonesia merupakan pasar ekspor 10 terbesar di dunia bagi New Zaeland, sedangkan ekspor New Zaeland ke Indonesia sebesar NZ$ 870 juta (Rp 6,53 triliun). Jadi hubungan bilateral antara keduanya mencapai NZ$ 1,52 miliar (Rp 11,4 triliun). Untuk impor Indonesia mencapai NZ$ 704 juta (Rp 5,28 triliun) per Desember 2011. “Seperti yang kita ketahui di beberapa sektor, New Zaeland terlihat sangat unggul. Maka kita perlu tingkatkan kemungkinan kerja sama itu. Terutama karena kita memiliki sumber daya geothermal, dan New Zaeland memiliki teknologi,” jelas Suryo.

Di sektor pangan, kemitraan dilakukan dalam rangka menjamin food security. “Yang sangat ingin kami dorong sebenarnya investasi New Zealand ke Indonesia. Karena kalau kita lihat dari perdagangannya saja, hanya baru NZ$ 1,1 miliar. Itu masih kecil. Kami masih melihat lebih banyak invetasi dari New Zaeland ke indonesia, terutama di bidang-bidang tersebut. Pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan kita bisa tanda tangan MOU tersebut dengan beberapa pengusaha,” ujar Suryo berharap.

Sementara itu, Free Trade Asean sudah berjalan dan sudah ditandatangi antara Asean, New Zaeland, dan Australia, sama seperti halnya antara Asean dan Cina. Hal ini dinilai sebagai upaya untuk berbagi keuntungan dan jaminan bagi terus tumbuhnya kemitraan bisnis perdagangan dan investasi antara kedua belah pihak.

Related posts