Pengembangan Ekonomi Pesantren - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Betapa pentingnya pesantren mengembangkan ekonomi, ternyata sudah semakin dirasakan dan disadari oleh banyak kalangan pesantren sendiri. Dahulu, tatkala orang masih mudah mendapatkan pekerjaan dan atau mencukupi kebutuhan hidup, sekalipun tidak memiliki ketrampilan yang memadai, pesanren tidak begitu peduli terhadap kegiatan ekonomi. Apalagi, bekerja sebagai petani, peternak, nelayan tradisional, dan sejenisnya masih bisa mencukupi kebutuhan.

Namun setelah semua sudah menuntut adanya ketrampilan dan lebh-lebih apa saja harus melibatkan teknologi, maka lembaga pendidikan Islam tradisional dimaksud tidak akan mungkin menghindar dari tuntutan modern itu. Berekonomi harus menggunakan ilmu. Bertani saja, agar mendapatkan hasil maksimal, maka harus memilih bibit ungul, pemupukan, pencegahan hama, petawatan yang intensif, dan seterusnya. Santri pesantren harus menyesuaikan dengan tuntutan itu.

Pada hari Sabtu tanggal 28 Pebruari 2015, bertempat di Pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, saya bersama Kyai Mahfudz Shaubari, pengasuh pesantren Riyadul Jannah, Pacet, Mojokerto, diundang untuk memberikan masukan terkait pengembangan ekonomi di lingkungan pesantren. Pada acara itu hadir tidak kurang dari 100 pengasuh pesantren dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Acara dikemas dalam bentuk dialog bersama di antara para ulama dan atau kyai yang hadir.

Melalui dialog itu, dengan jelas sekali bahwa ketertinggalan di bidang ekonomi sudah dirasakan oleh banyak pesantren. Mereka mengakui bahwa para kyai tidak sebagaimana dahulu, memiliki tanah perkebunan luas, tambak, dan lain-lain sehingga dari hasil usahanya itu, bisa membiayai operasional pesantrenya. Sekarang ini, sudah tidak banyak lagi, kyai yang memiliki sumber-sumber ekonomi sebagaimana yang disebutkan di muka. Dahulu para kyai, selain kaya ilmu agama juga kaya sumber-sumber ekonomi sehingga mampu mandiri dan bisa bersikap independen dengan siapapun.

Seharusnya, sebagaimana disuarakan dalam dialog dimaksud, kyai sekarang ini juga memiliki perusahaan, pabrik, dan sumsber-sumber ekonomi modern yang halal. Dengan begitu, maka kegiatan pesantrennya akan tetap berjalan dan tidak terganggu hanya oleh karena keterbatasaan pendanaan. Mereka juga merasa prihatin, untuk melakukan kegiatan atau menambah fasilitas pesantren, pengasuh pesantren harus membuat proposal untuk mendapatkan sumbangan dari berbagai pihak. Akibat dari keadaan seperti itu, para kyai kehilangan independensinya.

Dalam dialog itu, dijelaskan bahwa sebenarnya pesantren bisa melakukan kegiatan ekonomi tanpa mengganggu kegiatan pokoknya, yakni memberikan pendidikan agama kepada para santrinya. Diberikan beberapa contoh pesantren yang sukses dalam mengembangkan ekonomi, misalnya pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan pesantren Riyadul Jannah Pacer, Mojokerto. Pesantren Sudogiri, Pasuruan berhasil mengembangkan BMT dan koperasi. Sedangkan pesantren Riyadul Jannah, Pecet, Mojokerto, berhasil mengembangkan usaha ekonomi kuliner, rumah makan, pertanian, peternakan, dan lain-lain.

Sesuatu hal penting dan menarik, lewat usaha-usaha dimaksud, pesantren bisa memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan ekonomi kepada santri-santrinya. Para santri, selain belajar di pesantren juga diajak untuk membantu kegiatan ekonomi yang dikembangkan di lembaga pendidikan itu. Para santri diajari bekerja secara profesional, dan bahkan sebagai imbalan dari keterlibatannya dalam kegiatan ekonomi itu, tatkala tamat dan keluar dari pesantrennya, mereka diberikan modal usaha. Dengan demikian, sementara pesantren, ternyata mampu menjawab persoalan pengangguran terdidik yang selama ini menjadi beban masyarakat maupun pemerintah yang tidak mudah dipecahkan. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts