Air, Sumber Kehidupan Manusia

Neraca. Kekeringan melanda Indonesia. Beberapa daerah masyarakat mengalami penderitaan dikarenakan kekurangan salah satu unsure terpenting dalam kehidupan, yaitu air. Air merupakan unsur kedua di dalam tubuh manusia yang sangat dibutuhkan setelah oksigen. Bisa dibayangkan jika di dalam tubuh manusia tidak ada air.

Sekitar 80% tubuh manusia terdiri dari air. Otak dan darah adalah dua organ penting yang memiliki kadar air di atas 80%. Otak memiliki komponen air sebanyak 90%, sementara darah memiliki komponen air 95%. Fungsi air sangatlah esensial dalam membantu proses pencernaan,secara normal kita butuh 2 liter sehari atau 8 gelas sehari, air juga bermanfaat untuk membuang racun dalam tubuh, yang dikeluarkan lewat urine, keringat dan kotoran.

Air juga membantali sendi untuk terhindar dari shock, air hadir dalam darah dengan memberi manfaat oksigen dan menutrisi seluruh sel dalam tubuh. Air juga diperlukan dalam kelenjar getah bening yang akan membantu tubuh bertarung menghadapi berbagai virus penyakit. Air juga mengatur dan mnenyeimbangkan suhu dalam tubuh (hal ini menjelaskan kain yang dibasahi air digunakan untuk menyembuhkan demam). Tidak berhenti di situ, air jelas berfungsi sebagai pencegah dehidrasi dan kehausan, serta berperan mengatur proses metabolisme dengan baik dalam tubuh.

Anda bayangkan jika dalam sehari saja kita tidak ketemu sama unsur ini? Selain air, tentu masyarakat perlu mewaspadai beberapa penyakit yang timbul karena kekurangan air bersih. Tanpa akses air minum yang bersih, menurut organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO), 3.800 anak meninggal tiap hari oleh penyakit. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan 2 miliar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di 40 negara, dan 1,1 miliar tak mendapat air yang memadai.

Di Indonesia, 119 juta rakyat belum memiliki akses terhadap air bersih. Baru 20 persen, itu pun kebanyakan di daerah perkotaan, sedangkan 82 persen rakyat Indonesia mengkonsumsi air yang tak layak untuk kesehatan. Menurut badan dunia yang mengatur soal air, World Water Assessment Programme, krisis air memberi dampak yang mengenaskan: membangkitkan epidemi penyakit. Dampaknya akan muncul penyakit kolera, hepatitis, polymearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow fever, dan penyakit cacingan.

BERITA TERKAIT

Bantuan 50 Ekor Ayam Kementan Bantu Kehidupan Masyarakat

    NERACA Tasikmalaya - Kehidupan Cicih, seorang buruh tani di Desa Kiarajangkung, Kec. Sukahening, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi…

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

BPS: Pertambangan Sumber Utama Pertumbuhan Ekonomi Sumsel

BPS: Pertambangan Sumber Utama Pertumbuhan Ekonomi Sumsel NERACA Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan sektor pertambangan dan penggalian di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Literasi Tangkal Hoaks

Literasi atau pengetahuan/kemampuan terkait bahasa dan membaca bisa menjadi daya pertahanan bagi bangsa berkenaan maraknya kabar bohong atau hoaks. Namun…

Waspadai Manuver Gunakan Modus Hoaks

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta masyarakat mewaspadai berlanjut manuver politik yang menggunakan modus kabar bohong atau hoaks karena kemungkinan…

Jernih Berpikir Menyongsong Pilpres 2019

Di tengah maraknya penghalalan segala cara untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan, perlulah bagi pihak-pihak yang berkompetisi untuk mengikhtiarkan kejernihan berpikir,…