Beban Ekonomi Rakyat Kian Berat Akibat Kebijakan Pemerintah

NERACA

Jakarta - Beban ekonomi rakyat Indonesia kini semakin berat. Setelah harga beras melonjak belum lama ini, masyarakat sekarang menghadapi kenaikan harga BBM dan Elpiji secara bersamaan. Belum lagi dalam waktu dekat Pemerintah akan menaikkan lagi tarif tol (plus PPN) dan tarif KA Jarak jauh. Jelas, kenaikan harga-harga tersebut merupakan inisiatif dari Pemerintah dalam bentuk administered price yang tentu berpotensi meningkatkan inflasi di tengah pelemahan daya beli masyarakat saat ini.

Menurut guru besar ekonomi Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika, saat ini masyarakat sedang mengalami tekanan ekonomi yang berat akibat melambungnya tingkat inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga beras, BBM dan Elpiji ditambah lagi rencana kenaikan tarif tol di 12 ruas jalan bebas hambatan dan tarif KA jarak jauh.

"Kenaikan itu menyebabkan timbulnya inflasi berasal dari administered prices yaitu inflasi yang disebabkan oleh shocks berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan dan lain-lain,"ujarnya saat dihubungi Neraca, Senin (2/3).

Menurut Erani seperti kita tahu nflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

"Nilai inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin,"paparnya.

Erani mengatakan inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

"Tak ayal lagi hal ini sangat memberatkan masyarakat terutama golongan menengah kebawah yang pendapatannya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya. Belum lagi adanya kebutuhan dana tambahan seperti kebutuhan berobat, biaya sekolah, modal usaha dan sebagainya. Salah satu golongan masyarakat yang harus memikul beban inflasi yang tinggi ini adalah para pensiunan,"ujarnya.

Apalagi dengan tipe pensiunan yang berusia lanjut dan memiliki uang pensiun yang jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan besar gaji ketika mereka masih dinas, padahal masih banyak dari mereka yang masih harus menanggung kehidupan keluarganya.

Pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsy menilai, kenaikan harga BBM Premium dan gas elpiji ukuran 12 kilogram tak lepas dari fluktuasi fundamental ekonomi Indonesia yang lemah. Dia berpendapat, Indonesia akan terus mengalami fluktuasi, dan harga di pasaran makin tak terkontrol. “Sayangnya, kondisi abnormal itu terus berulang dan menjadi sebuah normalitas yang nantinya harus dibiasakan oleh masyarakat. Padahal itu karena fundamental ekonomi Indonesia yang lemah,” ucapnya.

Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia bergantung pada dua indikator. Pertama, pada sektor keuangan tampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat menduduki posisi mendekati Rp 13 ribu. “Kondisi ini menunjukkan fundamental ekonomi makro Indonesia mengalami kerapuhan. Tahun lalu nilai tukar masih dikisaran Rp11 ribu per dolar namun sekarang sudah mendekati Rp12 ribu. Itu artinya semakin kesini ekonomi makin rapuh,” katanya.

Kedua, lanjut dia, perekonomian Indonesia buruk disebabkan pemerintah tidak bisa mengendalikan inflasi. Sehingga, dengan mudah mengimpor barang yang menjadi hajat hidup orang banyak seperti BBM dan gas. Bahkan, lanjut dia, Indonesia juga mengimpor bahan pangan, seperti garam dan beras. Karena sikap Indonesia yang mengimpor barang kebutuhan pokok inilah, ada biaya yang meningkat untuk membiayai impor. “Ini disebut imported inflasion Dari kedua hal tersebut menyebabkan fundamental ekonomi Indonesia menjadi terus buruk. Hal yang abnormal selalu berulang sehingga menjadi sebuah yang normal. Padahal, Indonesia sedang sakit,” ujarnya.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, kenaikan harga BBM, elpiji 12 kilogram (kg), dan beras di waktu yang hampir bersamaan akan membuat rakyat menjerit. Pasalnya, rakyat akan semakin terbebani dengan kenaikan harga ke tiga komoditas tersebut.

"Pasti akan menambah beban masyarakat (kenaikan harga BBM, elpiji 12 kg, dan beras). Jadi dengan kenaikan beras, elpiji, dan BBM akan menambah pengeluaran," kata dia.

Dia pun menyarankan kepada pemerintah agar tidak menaikkan harga BBM secara bersamaan dengan kenaikan harga yang lainnya. Kenaikan harga BBM akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi terutama daya beli kebutuhan pokok masyarakat yang menurun. Sehingga hal itu akan berdampak pada inflasi.

"Hal inikan berkaitan dengan daya beli masyarakat dan inflasi, jadi alangkah baiknya jika kenaikan dilakukan beda waktu," ujar Tulus. iwan/bari/mohar

Related posts