Presiden: Sinyal BI Rate Diturunkan Lagi - RUPIAH SEMPAT TEMBUS LEVEL RP 13.000 PER US$

NERACA

Jakarta -

Jakarta - Presiden Joko Widodo menilai jika deflasi terus terjadi maka suku bunga acuan (BI Rate) berpotensi diturunkan lagi, sementara pelemahan nilai terhadap dolar AS diperkirakan bersifat sementara sebagai dampak penguatan mata uang di negara Paman Sam itu. Kurs rupiah kemarin (2/3) sempat menembus level Rp 13.000 per US$.

NERACA

"Ada yang sudah dlakukan BI (Bank Indonesia), itu nanti dilihat lagi inflasi akan turun terus. Kalau deflasi terus sinyal untuk menurunkan lagi (BI Rate) akan ada," ujar Presiden Jokowi di press room Kepresidenan, Jakarta, Senin.

Sebelumnya BPS melaporkan, selama bulan Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,36%, atau secara year on year (Februari 2015-Februari 2014) mencapai 6,29%. Dengan demikian, tingkat deflasi tahun kalender (Januari-Februari) 2015 sebesar 0,60%.

Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya deflasi, menurut data BPS, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, 70 kota mengalami deflasi, serta sisanya 12 kota mengalami inflasi, dengan deflasi tertinggi terjadi di kota Bukittinggi sebesar 2,35%, dan terendah terjadi di Jayapura sebesar 0,04%. Sementara Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 3,20% dan terendah terjadi di Manokwari (0,04%).

Menurut Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Sasmito, terjadinya deflasi pada bulan Februari tersebut merupakan deflasi yang tertinggi kedua dalam Februari selama 50 tahun terakhir. “Deflasi tertinggi terjadi pada Februari 1985, sebesar minus 0,5%," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tersebut, kondisi ekonomi Indonesia pada Januari - Februari 2015 mengalami deflasi. Dengan begitu, Bank Indonesia diminta untuk kembali menurunkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 7,25%. Sebelumnya BI Rate pada Februari 2015 sudah turun 0,25% menjadi 7,5%.

Terhadap pelemahan rupiah, Jokowi mengatakan tekanan terhadap rupiah terus terasa sebagai dampak penguatan dolar Amerika Serikat. Namun Kepala Negara menambahkan sesuai dengan laporan dan informasi yang didapatkan baik dari BI, ekonom maupun para investor, Indonesia sendiri sudah cukup melakukan sejumlah perbaikan dalam fundamental ekonominya.

"Nilai tukar juga terjaga dan tadi semuanya disampaikan gubernur BI data-data tadi ada, kita sudah pada track yang benar. Ini hanya karena tekanan dari luar dari euro ke US dan ada perbaikan ekonomi di Amerika sehingga ada sedikit tekanan," katanya.

Sebelumnya, Menkeu Bambang PS Brodjonegoro meyakini, melemahnya nilai tukar rupiah pada awal pekan ini, akibat proyeksi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Menurut dia, proyeksi itu berdampak terhadap nilai mata uang negara-negara yang berkaitan dengan Tiongkok, termasuk Indonesia. "Memang kondisi hari ini ada proyeksi yang negatif terhadap pertumbuhan China, jadi mata uang negara-negara yang punya kaitan dengan China yang besar termasuk Indonesia ya melemah," ujarnya di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Senin.

Dengan kondisi seperti ini, Bambang menduga Bank Indonesia akan melakukan intervensi pasar jika memang diperlukan. Pada awal perdagangan di pasar spot, kemarin, nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh level Rp 13.000 per US$.

Meski demikian, perbaikan fundamental ekonomi juga terlihat dari makin bertambahnya jumlah cadangan devisa Indonesia yang kini mencapai US$ 114,3 miliar, dan derasnya aliran modal yang cukup tinggi masuk ke Indonesia. Pada rentang waktu yang sama aliran modal asing masuk ke Indonesia mencapai Rp 57 triliun, lebih tinggi dibandingkan 2014 sebesar Rp 30 triliun.

Momen Tepat

Dosen FEUI Telisa Aulia Falianty menuturkan, saat ini momen yang tepat bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga acuan mengingat pada Januari dan Februari ini terjadi deflasi. "Di tengah tren deflasi saat ini, merupakan momen yang tepat agar BI bisa kembali menurunkan BI Rate," katanya kepada Neraca, di Jakarta, kemarin.

Mengingat, lanjut dia, pemerintah ingin melaju kencang menuju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tentu perlu dukungan dari BI juga untuk dapat menurunkan suku bunga acuan agar sektor riil dan perbankan bisa berjalan.

Apalagi sekarang menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun ini, semua sektor harus bisa bersaing secara kompetitif. Oleh karenanya tentu perlu juga dukungan dari BI. "Kita ingin semua sektor kompetitif tapi jika terpencara akan suku bunga yang tinggi akan sulit berjalan. Untuk itu perlu juga dukungan dari BI agar bisa menurunkan BI Rate saat ini," ujarnya.

Meskipun wacana akan adanya kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Rate) di semester II 2015 memang menjadi salah satu peringatan terhadap BI. Tapi jika BI terus menahan BI Rate, dan nanti The Fed menaikan suku bunga maka pasti BI reaktif menaikan kembali BI Rate. Bulan ini minimal BI bisa kembali menurunkan 25 bps, atau lebih baik sebesar 50 bps.

"Meski, bulan kemarin BI sudah menurunkan 25 bps menjadi 7,5%. Tidak ada salahnya jika BI kembali menurunkan kembali BI Rate," tegas Telisa.

Pada kesempatan terpisah, Chief Economist South East Asia and Pacific ANZ, Glenn Maguire menuturkan hal yang sama. Dirinya mengatakan tren penurunan inflasi atau deflasi yang berlanjut pada Februari menurutnya membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali memotong suku bunga acuan. Meskipun pada Februari lalu BI telah memotong suku bunga acuan sebesar 25 bps.

“Kami melihat tambahan pemotongan bisa 50 bps sampai 75 bps lagi tahun ini. Bagaimana pun pertimbangan paling utama adalah “timing“nya,” ujar Glenn. Dia mengatakan, tren inflasi yang menurun tajam pada Februari yaitu di level 6,3% secara tahunan (year on year / yoy) bisa berlanjut. Meski ke depan besarnya penurunan mungkin lebih kecil. Namun itu membuka peluang bagi Bank Sentral untuk mengendorkan kebijakan moneternya.

Ke depan, kata Glenn, kemungkinan bank sentral bisa memotong kembali BI Rate 25 basis poin sebelum The Fed melakukan normalisasi kebijakan. Dia mengatakan BI dapat memotong kembali BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17 Maret 2015 mendatang, namun bisa juga mundur pada April atau Mei 2015.

Pada bulan ini terjadi deflasi didorong oleh inflasi makanan dan transportasi. Turunnya inflasi (-1,5% month to month / mom) dalam transportasi dan komunikasi lantaran didorong oleh penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sementara penurunan harga pangan juga menimbulkan deflasi 1,5% disebabkan oleh penurunan harga pertanian. Selain itu karena masa panen yang telah tiba, outlook harga pangan diperkirakan akan terus positif. Sementara untuk harga beras yang diberitakan naik baru-baru ini justru lebih banyak terjadi di Jakarta.

Selain itu, dampak gabungan antara kebijakan Presiden Joko Widodo yang meminta Bulog untuk mendistribusikan langsung stok berasnya pada masyarakat dan masa panen yang telah tiba seharusnya dapat menekan inflasi akibat kenaikan harga beras.

Kendati demikian, dampak kenaikan harga beras akhir-akhir ini dapat menyebabkan kenaikan inflasi pada bulan Maret. "Harga beras saat ini berpotensi menimbulkan inflasi pada bulan Maret, tapi tidak menutup kemungkinan bakal kembali deflasi. Jika pemerintah sigap mengendalikan harga-harga dengan cepat," tandas Glenn. agus/ardi

Related posts