Pemerintah Janji Tingkatkan Tenaga Kerja Lokal

NERACA

Jakarta - Pemerintah perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas pekerja untuk daerah-daerah lokal sehingga dapat mengurangi kesenjangan antarwilayah dan kelompok masyarakat.

"Pemerintah berupaya meningkatkan suplai tenaga kerja untuk mendukung kegiatan ekonomi lokal seperti mengisi kegiatan ekonomi di wilayah timur," kata Deputi Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan Usaha Kecil Menengah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Rahma Iryanti, di Jakarta, Senin (2/3).

Distribusi yang tidak merata dari angkatan kerja antarpulau dan antarprovinsi, antarkabupaten dan antarkota menyebabkan ketidakseimbangan faktor produksi tenaga kerja. Oleh karena itu, investasi atau pembangunan ekonomi lokal terkonsentrasi di daerah-daerah dengan jumlah penduduk yang tinggi.

Ia mengatakan pembangunan cenderung berpusat di wilayah Barat seperti Sumatra dan Jawa sehingga wilayah barat lebih berkembang dibandingkan wilayah timur.

Penyetaraan kuantitas maupun kualitas tenaga kerja di seluruh daerah lokal akan mendorong setiap daerah bersama-sama bergerak maju dalam hal kesejahteraan masyarakat, katanya.

Selain persebaran tenaga kerja yang tidak merata, katanya, pemerintah juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menciptakan kesempatan kerja berkualitas bagi masyarakat yakni meningkatkan produktivitas dengan realokasi pekerja menuju kegiatan ekonomi dengan produktivitas tinggi.

"Tranformasi pekerja ini bergerak dari sektor produktivitas rendah ke tinggi yang menyerap lebih banyak tenaga kerja," tuturnya.

Tantangan ini berkaitan dengan transformasi struktural sektor ekonomi untuk sektor yang sangat produktif. Pertumbuhan yang diharapkan adalah pertumbuhan yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar tanpa menurunkan produktivitas, katanya.

Kemudian, pemerintah juga menghadapi tantangan untuk meningkatkan standar kehidupan pekerja melalui pekerjaan yang lebih baik, terutama bagi pekerja yang termasuk dalam 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah (termasuk pekerja miskin), dengan memberikan kesempatan kerja yang produktif.

Lebih lanjut ia mengatakan tantangan peningkatan standar kehidupan pekerja berkaitan dengan beberapa hal, yakni ketersediaan lapangan kerja baru sebagai sarana untuk meningkatkan pendapatan, penciptaan lapangan kerja baru yang membutuhkan investasi baru melalui investasi asing langsung atau lokal.

Selain itu, tantangan peningkatan standar kehidupan pekerja berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja produktif bagi pengangguran dan pekerja miskin, serta standar hidup pekerja miskin ditingkatkan dengan memberikan pekerjaan kepada pekerja yang rentan.

Ia mengatakan tenaga kerja harus diarahkan ke sektor-sektor yang upahnya jauh lebih baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat seperti sektor industri.

"Hampir 40 persen dari tenaga kerja kita berada di sektor pertanian, namun sekitar 90 persen dari pekerja di sektor ini mempunyai keterampilan rendah," tuturnya.

Ia mengatakan sektor-sektor seperti pelayanan sosial atau pribadi; listrik, gas, air; dan keuangan memerlukan lebih banyak keterampilan atau pendidikan tinggi. Sisanya didominasi oleh orang-orang dengan pendidikan dasar, ujarnya.

Selain itu , pemerintah juga menghadapi tantangan untuk meningkatkan hubungan industrial, yang berkaitan dengan hak-hak di tempat kerja, upaya mempromosikan dialog sosial atau proses perundingan bersama antara serikat pekerja dan pengusaha.

Tantangan lainnya yang juga menjadi perhatian pemerintah adalah usaha meningkatkan keterampilan pekerja. Keterampilan peningkatan angkatan kerja saat ini sangat penting dalam jangka pendek hingga menengah, katanya.

"Membangun keterampilan yang tepat untuk pekerjaan sejak usia dini dan pendidikan dasar sangat penting," katanya.

Rahma mengatakan pada kenyataannya, peningkatan kemampuan angkatan kerja akan memakan waktu, sedangkan kekurangan keterampilan terus membatasi kapasitas ekonomi Indonesia untuk tumbuh dan menciptakan lebih banyak pekerjaan yang lebih baik. [agus]

Related posts