Kekeringan di Negeri Yang Subur

Neraca. Bencana kekeringan mengancam sawah petani. Meski musim kemarau belum berlangsung lama, namun dampaknya sudah dirasakan oleh para petani di beberapa daerah. Jawa Timur misalnya, 11 kabupaten kota telah mengalami paceklik air. Ratusan hektare sawah petani gagal panen. Begitu juga di banyak daerah di Jawa Tengah.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menegaskan, pemerintah berada dalam posisi siaga menghadapi kondisi terburuk musim kemarau tahun ini. "Kita dalam posisi siaga menghadapi kekeringan," kata Suswono.

Namun Suswono mengaku, belum mendapat laporan persis lokasi mana saja lahan-lahan sawah yang mengalami dampak kekeringan. Hingga kini pihaknya masih menunggu peran aktif melalui laporan pemerintah daerah yang lahan pertaniannya mengalami kekeringan.

"Prinsipnya kita menunggu laporan pemerintah daerah, untuk data yang membutuhkan bantuan dari pusat seperti bantuan pompa, perbaikan irigasi, prinsipnya ada dana darurat yang bisa dimafaatkan untuk kondisi darurat sekitar Rp 2 triliun, seperti pergantian lahan puso gagal panen Rp 380 miliar. Itu sudah di kementerian pertanian tinggal laporan ada gagal panen," jelas Suswono.

Ia menjelaskan bantuan itu adalah bantuan tunai yang diberikan kepada petani yang mengalami gagal panen termasuk dampak dari kekeringan. Antara lain bantuan pupuk Rp 1,1 juta per hektar, bantuan pengolahan lahan Rp 2,6 juta per hektar. "Saya belum mendapat laporan dari Dirjen Sarana Pertanian. Saya sudah minta pendataan dan percepatan laporan," katanya.

Ratusan hektare sawah petani di Kabupaten Tegal terpaksa memanen dini tanaman padi mereka, menyusul kekeringan yang makin parah melanda kawasan tersebut. Sebagian besar dari mereka hanya bisa memanfaatkan setengah dari hasil panennya dari setiap petak sawah.

Sementara itu Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) mencatat, luas lahan puso alias yang rusak pada periode Januari hingga Agustus 2011 naik 73,91% dari periode yang sama tahun lalu. Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir, mengatakan, sejak Januari hingga Agustus 2011, luas sawah yang puso sudah mencapai 400.000 ha, padahal tahun lalu hanya sekitar 230.000 ha.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Winarno mencatat pada Januari hingga Juli 2011, luas sawah yang terganggu mencapai 189.295 ha dan lahan puso 18.493 ha. Angka ini turun 41,11% dari tahun 2010 seluas 321.491 ha, dan yang puso 95.501 ha.

KTNA mencatat puso ini membuat produksi lahan turun 75% dari rata-rata produksi 5 ton per ha. Seluas 400.000 ha sawah yang seharusnya bisa memproduksi 2 juta ton gabah kering giling (GKG), hanya memproduksi 500.000 ton GKG. Namun begitu, meski lahan puso meluas, Winarno optimis target produksi 68,6 juta ton GKG bisa tercapai. “Ini masih ada panen gadu ke dua, saat ini saya sedang di Kalimantan Timur, sudah panen dan sudah mau tanam gadu ke dua. Di sini hujan sudah mulai turun,” kata Winarno.

Kepala Pusat Iklim Agroklimat dan Iklim Maritim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Nurhayati, mengatakan, iklim pada bulan Agustus 2011 hingga Mei 2012 akan kembali normal.

“Agustus ini puncak musim kemarau sudah dilewati dan September kekeringan sudah membaik. Oktober kita perkirakan sudah mulai membaik, artinya sudah mulai turun hujan,” kata Nurhayati dalam konferensi pers Prakiraan Musim Hujan 2011/2012 di Kantor Pusat BMKG, Jakarta kemarin.

Related posts