Downtrend Perdagangan dan Rupiah

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO BondRI, Pengajar IPMI International Business School

Boleh jadi banyak yang belum menyadari pola dan tren pergerakan yang sedang berlangsung pada figur ekspor dan impor nusantara di 3(tiga) tahun terakhir (2012 s.d 2015 awal). Baik ekspor maupun impor, total volume masing-masing sedang berkurang konsisten signifikan di periode ini. Sebagai gambaran data,volume ekspor Januari 2012 adalah US$ 15.570 juta, volume impor US$ 14.455 juta. Jadi ada balance of trade US$ 1.115 juta alias surplus neraca perdagangan. Sementara di Januari 2015 total volume ekspor adalah US$ 13.301 juta dan total impor adalah US$ 12.592, jadi ada surplus neraca perdagangan US$ 709 juta. Secara total, masing-masing volume ekspor dan/atau impor telah konsisten mengalami penurunan, demikian juga dengan selisih volume total ekspor-impor pada periode yang sama, figurnya berkurang. Ada suatu tren kelesuan laten yang sedang berlangsung dalam aktivitas perdagangan di nusantara.

Tak sedap berdagang tanpa Rupiah. Yang lebih tak mengenakkan lagi adalah fakta bahwa di periode yang sama, IDR konsisten terdepresiasi signifikan terhadap US$. Sebagai gambaran data, di akhir Januari 2012 Rupiah (mid price) adalah Rp 9.000 per US$- nya. Sementara di akhir Januari 2015, Rupiah Rp 12.625 per US$. Sebagai tambahan informasi, kurs masih konsisten terdepresiasi di akhir Februari 2015 menjadi Rp 12.863 per US$, seakan siap menerjang level Rp 13.000/US$ at anytime. Ekspektasi klise otoritas moneter pasca pelemahan kurs adalah terdongkraknya ekspor sebagai dampak semakin murahnya(relatif) harga barang kita oleh mancanegara. Sebagai catatan : ekspektasi itu tak tercapai hingga kini karena Rupiah malah melemah saat perdagangan melesu, terutama di sisi ekspor.

Otoritas fiskal dan moneter harus segera mengubah standpoint dalam menilai dinamika tren perekonomian untuk memperoleh perspektif yang berbeda sebelum merumuskan kebijakan berskala agregat. Perekonomian adalah suatu sistem raksasa yang bergerak secara agregat. Apapun kebijakan yang diterapkan Pemerintah, sulit memastikan dengan cepat/dini bahwa inisiatif itu sedang mengarahkan perekonomian ke gunung atau ke jurang. Ini bukan masalah kompetensi, lebih tepat perihal fleksibilitas otoritas dalam proses problem solving. Dinamika perdagangan dan Rupiah sedang bergerak dalam tren yang berpotensi out of controldalam jangka menengah.Hati-hati! Pergerakan neraca dan tren Rupiah adalah hal yang mengandung risiko eksternalitas.

Pengelolaan mekanisme transmisi moneter dan fiskal adalah baik jika dilakukan secara well-coordinated antara kedua pihak otoritas. Jika tidak bisa, ya lupakan saja! Proposisi nilai BondRI bagi Pemerintah untuk memperbaiki unfavorable trend yang sedang berlangsung pada perdagangan dan Rupiah kita adalah: (1) dukung totalkegiatan industri sektor riil untuk memproduksi barang bermutu (bukan hanya kuantitas)yang memenuhi permintaan pasar di negara-negara tujuan ekspor utama RI; (2) efektifkan marketing strategy yang koordinatif untuk dilansir oleh para representatif pemerintah dan industri nusantara di mancanegara; (3)turunkan figur import-conten nusantara secara efektif dan bertahap dalam perspektif economies of scope.

BERITA TERKAIT

Oktober 2017, Rupiah Terdepresiasi 1,27%

      NERACA   Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1,27 persen…

Kembangkan Asuransi Kredit Perdagangan - Asuransi Simas Gandeng Atradius

NERACA Jakarta - Perluas layanan produk asuransi, PT Asuransi Sinar Mas (Simas) melakukan penandatanganan kerjasama dengan Atradius Crédito y Caución…

Globalisasi, Demokratisasi, Liberalisasi, dan Digitalisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Empat kata yang menjadi judul tulisan ini telah menjadi realitas yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Terus Hisap Dana Rakyat - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Yang terbaru, guna menutup penerimaan pajak yang jeblok (sampai akhir September masih kurang sekitar Rp500 triliun), maka pemerintah kembali memalaki…

Reformasi Integritas Aparatur Negara

  Oleh: Yanti Mayasari Ginting Indef School of Political Economy Tidak ada yang meragukan bahwa Indonesia merupakan Negara yang besar…

Globalisasi, Demokratisasi, Liberalisasi, dan Digitalisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Empat kata yang menjadi judul tulisan ini telah menjadi realitas yang…