PDAM-ku Sayang, PDAM-ku Malang…

Neraca. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya mengusulkan kenaikan tarif Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk mengantisipasi kekurangan air bersih.

Kenaikan tarif tersebut rencananya akan diterapkan untuk konsumen dengan penggunaan di atas 10 meter kubik per bulan. Kenaikan tarif tersebut diyakini dapat menghemat penggunaan air bersih di masyarakat. Hal tersebut dipaparkan Danny Sutjiono, selaku Direktur Air Minum Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta.

Danny menyatakan pihaknya telah mengajukan usulan tersebut ke pemerintah daerah. Namun menurutnya hanya sebagian pemerintah daerah yang menerima usulan tersebut. Sejumlah provinsi, menurutnya, menolak usulan kenaikan tarif air karena tidak mendapat persetujuan dari DPRD.

Menurutnya, penyesuaian tarif tersebut merupakan satu-satunya alternatif solusi yang tepat dan cepat untuk diterapkan di tengah kondisi krisis air bersih yang tengah dihadapi masyarakt saat ini. Mengingat upaya penanganan yang dilakukan kementerian Pekerjaan Umum sulit untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat setiap tahunnya. Usulan kenaikan tarif yang diajukan bergantung besaran penggunaan air di masing-masing pemerintah daerah.

"Salah satu cara menghemat penggunaan air ya dengan menaikkan tarif. Masyarakat tentu akan berpikir ulang untuk pemakaian yang boros kalau bayarnya mahal. Kami sudah usulkan ke pemda, sayangnya hanya sebagian yang menerima. Sisanya menolak karena tidak disetujui dewan. Mereka beralasan air merupakan kebutuhan dasar," kata Danny.

Selain itu, penyesuaian tarif juga bertujuan untuk menyehatkan kinerja Perusahaan Daerah Air Minum. Karena saat ini, dari 380 Perusahaan Daerah Air Minum yang ada di Indonesia, hanya 140 perusahaan yang berada dalam kondisi sehat. Padahal pemerintah menargetkan 180 Perusahaan Daerah Air Minum memiliki kinerja sehat pada 2012.

Dia menyatakan, saat ini terdapat 8.776 jumlah desa yang dalam kondisi rawan air dan 77 titik di antaranya berada di Pulau Jawa. Salah satu wilayah yang terkena dampak cukup besar adalah Makasar yang debit airnya menurun drastis dari 1.000 liter per detik menjadi 400 liter per detik saat musim kemarau. Adapun langkah dari pemerintah yaitu menyiapkan penanganan dengan penyuntikan volume air dari Waduk Bili-bili.

"Selain itu kami bersama PDAM juga telah menyiapkan mobil-mobil tangki sejumlah 724 buah yang disebar ke pemukiman di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi. Sebanyak 400 di antaranya kami operasikan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Serta mobil instalasi pengolahan air di Bantul, Yogyakarta, untuk menangani kondisi itu," tukas Danny.

Hanya saja, usulan yang diajukan oleh perusahaan daerah tersebut tidak diimbangi oleh pelayanan yang memuaskan. Selain itu, jawaban yang diberikan saat ada keluhan hanya sekedar asal jawab saja. Juga terkesan mencari kambing hitam.

Sadli (30), warga Kelurahan Air Itam, menilai, kekeruhan air terbilang parah. "Telapak tangan yang diletakkan di ember berkapasitas 20 liter tidak terlihat jelas karena air terlalu keruh. Tinggi ember tidak lebih dari 50 sentimeter, tetapi air terlalu keruh sampai dasar ember tidak terlihat jelas," ujarnya di Pangkal Pinang.

Kepala Bagian Teknik PDAM Pangkal Pinang Suyadi mengatakan, pihaknya memang sudah mendapat laporan soal kualitas air. Pihaknya masih meneliti kualitas air di sumber air baku.

Bahkan di Bali, ada penemuan yang mengejutkan. Dinas Kesehatan Provinsi Bali menemukan air minum produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Klungkung tercemar bakteri E Coli. Berdasarkan pengambilan sampel uji petik dari 16 sampel air yang diambil sejak tahun 2000 hingga April 2011 dan diperiksa secara bakteriologis, hasilnya adalah semua sampel positif (100 persen) mengandung E Coli. Karenanya, masyarakat diimbau waspada saat mengkonsumsinya.

Namun, pihak PDAM Klungkung membantah adanya hasil pencemaran tersebut. Selain itu, PDAM Klungkung menyatakan tidak pernah mendapatkan pemberitahuan soal penelitian dari Dinas Kesehatan Bali.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Sutedja, di Denpasar, Senin (23/5/2011), sempat menyarankan agar tidak mengkonsumsi air tersebut. Alasannya, air tersebut berpotensi menjadi sumber penularan penyakit yang sangat mengkhawatirkan seperti diare, kholera, disentri, hepatitis, dan lainnya.

"Tetapi, kami juga belum tahu penyebab utama tercemarnya pasokan air minum PDAM Klungkung. Hanya saja, pencemaran bisa terjadi karena berbagai hal seperti kebocoran pipa saluran air yang menyebabkan merembesnya air yang tidak steril ke dalam saluran air," kata Sutedja.

Ia menambahkan, pencemaran juga dimungkinkan terjadi akibat meluapnya air hujan hingga masuk ke dalam reservoar (sumber air). Saat musim hujan, lanjutnya, dimngkinkan air hujan merembes masuk ke dalam reservoar yang bisa saja bocor atau hal lain.

Menurut Sutedja, pihaknya sudah menyurati semua pihak terkait untuk meningkatkan pengawasannya terhadap sumber-sumber air yang dikelola PDAM Klungkung. Ia pun akan memperketat pengawasan terutama pada pengelolaan sumber air.

Direktur Utama PDAM Klungkung Gede Darsana, mengaku kaget dengan hasil temuan Dinas Kesehatan Bali itu. Ia pun meragukan hasil penelitian tersebut. "Kami merasa tak tercemar karena setiap bulannya, kami pun memeriksa dan meneliti airnya dan hasilnya nol persen pencemaran. Kalau memang tercemar, seharusnya dari dulu di rumah sakit sudah banyak orang diare setelah menkonsumsi air ini," ujar Darsana.(Noor/dbs)

Related posts