Laba Astra Terkerek Lesunya Bisnis Otomotif

NERACA

Jakarta- Bisnis Astra Internasional yang masih mengandalkan di sektor otomotif menjadi alasan, laba perseroan sepanjang tahun 2014 turun tipis 1,21% lantaran lesunya penjualan sektor otomotif. Per akhir Desember 2014, PT Astra Internasional Tbk (ASII) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 19,18 triliun. Sedangkandi akhir 2013, laba bersih ada di angka Rp 19,41 triliun. Adapunpendapatan bersih sedikit saja meningkat dari Rp 193,88 triliun menjadi Rp 201,7 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan, semua sektor bisnis mengalami peningkatan kinerja, kecuali sektor otomotif dan infrastruktur, logistik, serta lainnya. Laba bersih di divisi otomotif turun hingga 14% menjadi Rp 8,5 triliun. Prijono Sugiarto, Presiden Direktur ASII mengatakan, perang diskon yang terjadi di pasar mobil berdampak negatif terhadap margin profit.

Terlebih, penjualan mobil ASII pun turun sebesar 6% menjadi hanya 614.000 unit. Mengkerutnya penjualan mobil terjadi seiring dengan penurunan penjualan secara nasional yang sebesar 2%. Sepanjang2014, penjualan mobil nasional tercatat sebanyak 1,2 juta unit. Penurunan penjualan ini membuat pangsa pasar mobil Astra turun dari 53% menjadi 51%. Sementara itu, penjualan kendaraan roda dua naik sekitar 8% menjadi 5,1 juta unit.

Kontribusi laba dari PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) juga melemah, dari Rp 948,01 miliar menjadi Rp 871,65 miliar. Selanjutnya, pada divisi jasa keuangan terjadi kenaikan sebesar 11,11% menjadi Rp 4,74 triliun. Kenaikan ini dipicu adanya akuisisi 50% saham PT Astra Aviva Life yang memberikan kontribusi sebesar Rp 440 miliar.

Jika mengesampingkan Astra Aviva Life, laba divisi jasa keuangan Grup Astra hanya naik sebesar 1%. Kinerja di sektor alat berat dan pertambangan juga berkontribusi positif terhadap kinerja ASII secara keseluruhan. Laba konsolidasi pada divisi ini meningkat sebesar 10% dari Rp 2,97 triliun menjadi Rp 3,26 triliun.

Sementara pendapatan bersih Astra Internasional meningkat tipis sebesar 4% pada tahun buku keuangan 2014 menjadi Rp201,70 triliun dibandingkan 2013 sebesar Rp193,88 triliun,”Kinerja bisnis Grup Astra 2014 cukup bervariasi. Divisi agribisnis dan kontrak penambangan batu bara membukukan kinerja yang solid, namun diimbangi oleh penurunan kontribusi dari divisi otomotif dan adanya pembebanan biaya non kas atas penurunan nilai properti pertambangan batu bara," kata Prijono Sugiarto.

Dalam jangka pendek, lanjut dia, perseroan masih berhati-hati dengan adanya ketidakpastian kondisi makro eksternal, kompetisi di pasar penjualan mobil dan kemungkinan penurunan harga batu bara. Namun demikian, Grup Astra memiliki fundamental keuangan yang solid dan kualitas bisnis yang baik, yang menjadi dasar untuk prospek yang sangat baik dalam jangka panjang.

Asal tahu saja, utang bersih konsolidasi Astra International, tidak termasuk bisnis jasa keuangan tercatat sebesar Rp3,3 triliun atau menurun 10% dibandingkan dengan akhir tahun 2013. Tahun ini, perseroan akan mengusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada bulan April 2015 untuk melakukan pembayaran dividen final sebesar Rp152 per saham. (bani)

Related posts