Memacu Transaksi Bursa Lewat Produk Derivatif

NERACA

Jakarta- Meningkatkan likuiditas dan transaksi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di tuntut untuk terus mengembangkan berbagai produk investasi baru agar minat investor berinvestasi ke bursa semakin tumbuh. Maka menjawab tuntutan tersebut, kini pihak BEI terus melakukan inovasi dalam pengembangan produk dan teranyar bakal merilis produk derivative sebagai salah satu cara meramaikan pasar modal di 2015.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Samsul Hidayat mengatakan, pengembangan produk derivatif terus dimatangkan dan diramu lebih baik agar minat investor tumbuh, “Dalam kajian, kami menemukan bahwa produk derivatif sebelumnya memiliki kekurangan dari produk spesifikasi yang tidak lazim digunakan di negara lain. Hal ini sudah kami perbaiki pada produk yang kami kembangkan saat ini," ujar di Jakarta, kemarin.

Dia mengharapkan, setelah kajian itu, produk yang akan diaktifkan kembali akan menjadi jawaban dari kebutuhan pasar modal Indonesia akan instrumen lindung nilai. Disebutkan, produk derivatif berupa Index LQ45 Futures telah dikembangkan Bursa Efek Surabaya pada 2001 dan kontrak opsi saham dikembangkan Bursa Efek Jakarta pada 2004.

Dalam perkembangannya produk-produk ini kurang mendapatkan respon positif dari pelaku pasar. Oleh karena itu, BEI telah melakukan kajian dan penyesuaian atas produk derivatif berdasarkan 'common practice', sehingga produk derivatif yang akan diluncurkan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Berkaca pada apa yang sudah dilakukan di 2001 dan 2004, Samsul mengemukakan ada beberapa hal yang menjadi kendala untuk pengembangan produk ini. Terutama dari sisi spesifikasi produk yang kurang menyesuaikan dengan produk yang sudah diperdagangkan di bursa luar negeri,”Dari sisi kesiapan pasar, saat ini, kami rasa sudah tepat dan produk derivatif mulai dicari oleh investor institusi untuk melakukan lindung nilai atas portofolio mereka," ujarnya.

Menurut dia, kedua produk derivatif itu direncanakan akan "go-live" pada semester pertama 2015. Selain itu, pihak BEI juga tengah mengkaji pembentukan pasar katalis untuk menampung perusahaan yang membutuhkan pembiayaan dan investor secara spesifik. Di beberapa negera, seperti Kanada, Australia, sudah menampung perusahaan tambang yang sedang dalam tahap eksplorasi."Wacana tersebut juga berdasarkan saran dari pelaku pertambangan di Tanah Air, di mana aturan yang ada saat ini, yakni Nomor I--A.1 hanya mengizinkan perusahaan tambang yang telah melakukan eksplorasi," ujar Direktur Penilaian BEI, Hoesen.

Dia menerangkan, pelaku tambang saat eksplorasi justru membutuhkan dana besar. Hal ini mengacu terhadap bursa saham di beberapa negara, pada sektor pertambangan yang telah berlangsung lama. Nantinya, di dalam pasar katalis tidak hanya berisikan perusahaan tambang pada tahapan eksplorasi. Tapi, juga berisikan perusahaan bergerak di energi baru, serta terbarukan, dan perusahaan farmasi. (bani)

BERITA TERKAIT

Lagi, ICDX Bakal Luncurkan Kontrak Baru - Geliat Transaksi Bursa Komoditi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan transaksi di bursa komoditi, Indonesia Commodity & Derivative Exchange atau ICDX dalam waktu dekat bakal…

Implementasi SDGs Lewat Pengembangan Geopark

    NERACA Jakarta - Geopark adalah sebuah wilayah geografi yang memiliki warisan geologi dan keanekaragaman geologi yang bernilai tinggi,…

Jamkrindo Jaring Startup Bidang Pangan Lewat Kompetisi

      NERACA   Jakarta - Sebanyak 10 startup bersaing kuat di acara final penjurian Jamkrindo Startup Challenge (JSC)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…