Pasar Modal Syariah Tumpuan Infrastruktur - Diklaim Memiliki Kontribusi Besar

NERACA

Jakarta – Meskipun penetrasi pasar modal syariah belum berkembang pesat seperti pasar modal konvensional, namun kontribusinya terhadap pembangunan infrastruktur bisa diperhitungkan. Pasalnya, kontribusi pasar modal syariah terhadap sektor infrastruktur dinilai cukup besar seiring dengan meningkatnya dan bertambahnya nilai penerbitan surat utang syariah atau Sukuk.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto memperkirakan, porsi sukuk yang diterbitkan pemerintah pada 2015 ini dapat mencapai 20% dari total penerbitan surat berharga oleh pemerintah Indonesia yang diproyeksikan sebesar Rp451 triliun,”Tahun lalu, sekitar 18% dari total Rp430 triliun 'gross issuer' atau surat utang negara diterbitkan,”ujarnya di Jakarta, kemarin

Dia mengemukakan, saat ini pemerintah sedang menawarkan sukuk ritel (sukri) seri SR 007 tahun 2015 bertenor tiga tahun yang mulai dipasarkan pada 23 Februari-6 Maret 2015. Dalam tiga hari, sejak 23-25 Februari, sudah terpesan sekitar Rp11,9 triliun atau sekitar 60% dari target total yang diterbitkan sebesar Rp20 triliun dari sekitar 18.000 investor,”Pembeliannya berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP), minimum pesanan sebesar Rp5 juta dan maksimum Rp5 miliar per orang. Tingkat imbal hasil sukri SR 007 sebesar 8,25% per tahun" ucapnya.

Dia memaparkan dana dari penerbitan sukri SR 007 itu akan digunakan untuk proyek infrastruktur seperti pelebaran jalan, pembangunan "fly over", "underpass", pembangunan jembatan baru, pembangunan atau pelebaran jalan di kawasan strategis, perbatasan, dan beberapa proyek lainnya.

Suminto menambahkan bahwa agen penjual sukri SR 007 terdiri atas 17 bank, baik konvensional maupun syariah dan lima perusahaan efek (sekuritas)."Diharapkan penerbitan sukri dapat mengubah pola masyarakat dari 'saving oriented society' menjadi 'investment oriented society'. Jadi ada misi 'financial inclusion'-nya dalam rangka membangun masyarakat keuangan modern,”ungkapnya.

Suminto menilai bahwa likuiditas sukri di pasar reguler hampir sama dengan obligasi ritel. Rata-rata transaksi harian sukri di pasar sekunder baik di BEI maupun luar bursa sekitar Rp500 miliar. Keberadaan pasar modal syariah sudah cukup lama, tetapi secara kuantitas jumlahnya masih kecil.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nurhaida, rendahnya kepercayaan sementara masyarakat terhadap pasar modal syariah menjadi salah satu hambatan dalam berkembangnya pasar modal syariah,”Jika dibandingkan dengan pasar modal konvensional, syariah ini masih lebih kecil. Hal itu karena kepercayaan masyarakat yang masih kurang terhadap produk-produknya," katanya.

Nurhaida menambahkan, faktor lain yang turut menghambat berkembangnya pasar modal syariah ialah masih sedikitnya suplai, produk dan saham yang ditawarkan, infrastruktur yang belum memadai, hingga kurangnya pemahaman SDM mengenai produk tersebut.

Oleh sebab itu, OJK akan membantu mengembangkan industri pasar modal syariah dalam mengenalkan produk dan jasa mereka melalui peningkatan pemahaman masyarakat (awareness) dan memasuki pasar yang lebih jauh (outreach),”Peningkatan penetrasi pasar modal syariah tentu bersifat mutlak dilakukan. Otoritas Jasa Keuangan akan terus melakukan sosialisasi dan mengupayakan ketersediaan produk-produknya," ujarnya. (bani)

Related posts