RS Mitra Bakal Tambah 7 Rumah Sakit Baru - Bidik Dana IPO Rp 4 Triliin

NERACA

Jakarta - PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (Mitra Keluarga) menargetkan dana segar hingga Rp4 triliun dari proses IPO 18% sahamnya. Perseroan menawarkan harga cukup tinggi untuk 261.913 ribu lembar saham itu di kisaran harga Rp14.500 - Rp15.000 per lembar saham,”Walau harga yang ditawarkan mahal, kita optimis mampu diserap karena melihat antusiasme investor dan kinerja RS Mitra selama ini. Dari harga tersebut kita perkirakan PE di kisaran 35-42 kali," ungkap Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Tbk, Michael Steven, selaku penjamin emisi IPO di Jakarta, kemarin.

Dalam masa penawaran nanti, lanjut Michael, bersama manajemen Perseroan, pihaknya akan melakukan roadshow, mulai dari local investor, kemudian ke Singapura, Hongkong, dan London. Dia menguraikan, dari total 18% saham yang di-IPO tersebut sebanyak 5% atau 72.753.600 adalah ssaham baru. Sementara 13% atau sebanyak 189.159.400 adalah saham lama yang didivestasikan yakni milik Lion Investments Partners B.V.

Michael menjelaskan, dari IPO 5% saham baru tersebut, penggunaan dananya antara lain 56% untuk pembangunan gedung RS baru, 20% untuk pembelian alat medis dan infrastruktur IT, 16% untuk biaya akusisi lahan, dan sekitar 8% untuk ekspansi RS yang sudah ada."Sementara divestasi 13% Lion itu nanti akan dibayarkan ke pemegang saham penjual," pungkas Michael.

Sementara Ir. Rustiyan Oen, MBA, Direktur Utama Mitra Keluarga, mengungkapkan dalam lima tahun ke depan pihaknya akan membangun sebanyat 7 RS baru di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. "Rencananya tahun ini 1 RS, tahun depan 2 RS, kemudian sisanya satu-satu per tahun," pungkas dia.

Adapun untuk biaya pembangunan 1 RS berkisar Rp250 miliar hingga Rp300 miliar. Sehingga untuk tahun 2015, Perseroan hanya menyiapkan belanja modal (capital ecpenditure/capex) di kisaran Rp300 miliar saja. "Capex tahun ini mendekati Rp300 miliar," ungkap Rustiyan.

Saat ini RS Mitra Keluarga beroperasi di sebelas RS – tujuh di Jakarta dan sekitarnya, tiga di Surabaya, dan satu di Tegal – dengan total kapasitas sekitar 2.000 tempat tidur."Dari jumlah bad yang ada tingkat okupansinya rata-rata 70% dengan line of stay rata-rata 3,6 hari per pasien. Ini antara pasien pribadi dan yang dicover asuransi seimbang," kata dia.

Ke depan, lanjut Rustiyan, pertumbuhan RS dalam 5 tahun ke depan bakal positif mengingat sejauh ini belum ada pemain besar di industri ini. Selain itu, dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik, tingkat pertumbuhan kelas menengah juga tinggi, namun ketersediaan RS masih minim. "Belum lagi kita liat pasien BPJS penuh di sejumlah RS. Jadi ke depan industri tetap tumbuh," pungkas dia.

Analis pasar modal dari Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada pernah bilang, kinerja fundamental emiten-emiten rumah sakit dinilai cukup defensif dari pengaruh negatif penguatan dolar AS terhadap rupiah. (bani)

Related posts