Beban Penjualan Picu Laba Japfa Anjlok 44,2%

Produsen pakan ternak yang terintegrasi, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan laba bersih sebesar Rp 332,4 miliar atau anjlok 44,2% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 595,5 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Anjloknya laba bersih perseroan disebabkan oleh tingginya beban pokok penjualan yang naik 18% menjadi Rp 21 miliar dibandingkan pada 2013 yang hanya sebesar Rp 17,8 triliun. Sehingga, meski pertumbuhan penjualan bersih (net sales) perseroan tahun lalu mencapai 14%, penurunan laba bersih tidak dapat terelakkan.

Sementara untuk penjualan Japfa Comfeed meraup bersih Rp 24,4 triliun. Sedangkan pada 2013 perolehan penjualan bersih perseroan yakni sebesar Rp 21,4 triliun. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat sepanjang tahun 2014 yang mencapai 3% begitu berdampak pada perseroan. Hal ini mengingat bahan baku produksi pakan ternak yang dibutuhkan oleh perseroan seperti jangung dan bungkil kacang kedelai merupakan barang komoditas impor.

Sehingga, penurunan juga terlihat pada semua komponen laba lainnya. Pertama, laba kotor Japfa Comfeed yang sepanjang tahun lalu tercatat turun 5% menjadi Rp 3,42 triliun dari perolehan laba kotor 2013 sebesar Rp 3,6 triliun. Kedua yakni perolehan laba sebelum pajak 2014 yang mengalami penurunan sebesar 40% menjadi Rp 542,5 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2013 yang mencapai Rp 896 miliar.

Selanjutnya, laba per saham dasar perseroan per ialah sebesar sebesar Rp 31 per 31 Desember 2014 atau turun 44,6% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 56. Sementara itu, liabilitas perseroan per 31 Desember 2014 mencapai Rp 10,44 triliun atau tumbuh 8% dari sebelumnya Rp 9,67 triliun.

Sedangkan, total aset emiten yang bergerak di bidang produksi pakan ternak tersebut pada 2014 mencapai Rp 15,73 triliun naik 4,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 15 triliun. Ekuitas yang dimiliki perseroan pun tumbuh tipis 1,14% menjadi Rp 5,3 triliun dari sebelumnya Rp 5,24 triliun. (bani)

Related posts