Rekor IHSG Kerek Imbal Hasil Reksadana

NERACA

Jakarta – Meskipun laju indeks harga saham gabungan (IHSG) Jum’at akhir pekan kemarin sempat terkoreksi tipis, namun IHSG masih melanjutkan rekor baru dengan kenaikan tipis. IHSG menguat 3,57 poin atau 0,07% ke level 5.454,99.

Menurut pengamat pasar modal Andreas Yasakasih, pertumbuhan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memicu imbal hasil dari produk reksadana semakin menarik,”Rata-rata kinerja reksadana saham dalam menghasilkan 'return' (imbal hasil) melampaui kenaikan IHSG sehingga instrumen investasi itu akan diminati investor dan memiliki peluang mencatatkan dana kelolaan bertambah pada tahun ini," ujar Andreas Yasakasih yang juga Director of Investment of PT Valbury Asia Asset Management di Jakarta, kemarin.

Dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tercatat total dana kelolaan reksadana pada tahun 2014 sebesar Rp228,351 triliun dengan jumlah unit sebanyak 141,755 miliar, sementara pada bulan Januari 2015 dana kelolaan tercatat Rp234,525 triliun dengan jumlah unit sebanyak 145,381 miliar. Sementara itu, pertumbuhan IHSG BEI selama 2015 mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,27%.

Andreas Yasakasih mengharapkan bahwa investasi reksadana dapat dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat sesuai dengan profil risikonya masing-masing. Investasi yang dilakukan secara rutin akan menghasilkan imbal hasil yang tinggi di dalam jangka panjang.

Kendati demikian, menurut dia, pada tahun ini diperkirakan penerbitan produk baru reksadana, terutama jenis saham akan minim menyusul ekspektasi pelaku pasar saham bahwa volatilitas IHSG BEI pada tahun ini akan mudah berubah atau volatilitas tinggi karena adanya faktor kenaikan suku bunga AS atau Fed fund rate yang diprediksi pada pertengahan tahun ini."Rata-rata perusahaan pengelola investasi telah mengeluarkan produk-produk reksadananya, terutama jenis saham pada tahun 2014. Jadi, pada tahun ini mereka tinggal me-'running' produk yang sudah ada," ucapnya.

Andreas Yasakasih mengaku bahwa pada tahun ini pihaknya lebih cenderung menerbitkan reksadana jenis proteksi menyusul rencana pemerintah yang akan menerbitkan surat utang sekitar Rp424 triliun pada tahun ini,”Aset dasar reksadana terproteksi yang utama, yakni surat utang atau obligasi, dan risiko reksadana terproteksi juga memiliki risiko yang minim," katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan bahwa pada tahun 2015 pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai Rp424 triliun, yang terdiri atas SBN dalam mata uang rupiah sebesar Rp338 triliun dan SBN dalam mata uang asing sebesar Rp86 triliun. Dari total penerbitan SBN tersebut, ditargetkan sebanyak 84--92 persen dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN), dan sisanya dalam bentuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). (bani)

BERITA TERKAIT

Naik 18 Persen, Industri Manufaktur Kerek Ekspor RI ke Australia - Niaga Internasional

NERACA Jakarta – Industri manufaktur berperan besar dalam mendongkrak peningkatan nilai ekspor Indonesia, salah satunya ke negara tujuan seperti Australia.…

CLEO Serap Seluruh Dana Hasil IPO

PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) telah menggunakan seluruh dana yang didapat dari hasil penawaran umum perdana saham alias initial public…

Laju IHSG Awal Pekan Terkoreksi 0,65%

Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/7) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…