Kekeringan Melanda Ibu Pertiwi

Neraca. Kekeringan mulai melanda beberapa daerah di Indonesia. Hal ini terjadi karena musim kemarau yang panjang, melebihi perkiraan dari BMG. Berbagai daerah bahkan sudah mengalami kekeringan total. Masyarakat mengalami dampaknya dalam keadaan ini. Berbagai kasus gagal panen, hingga hasil budaya daya ikan tawar di beberapa tambak atau waduk mengalami kegagalan karena becana ini.

Terkait keringnya sumber air, Menko Kesra meminta masyarakat untuk efisien dalam menggunakan air, baik untuk mandi secukupnya dan jangan buang-buang air, mengingat banyak saudara lainnya yang mengalami kekeringan saat ini.

“Bagi warga di daerah yang airnya melimpah, agar hemat menggunakan air, dan mandi secukupnya,” ujarnya.

Agung menambahkan, dalam jangka pendek sosialiasi dan efisiensi penggunaan air yang mulai kering, terus disosialisasikan seperti di kawasan Pantai Utara, Yogyakata dan NTT, serta NTB. Efisiensi juga perlu dilakukan oleh Pemda dan kota. “Kita juga memanfaatkan teknologi hujan buatan untuk daerah-daerah yang mengalami kekeringan,” tambahnya.

Agung menekankan, penggunaan air sangat penting, terutama dalam penampungan air dalam jumlah besar untuk irigasi dengan memanfaatkan aliran sungai yang sudah terbatas.

Efisiensi ini perlu dilakukan melalui pemda provinsi, kab/kota. Kemudian mencari sumber-sumber mata air baru, melalui berbagai cara seperti menggali sumur. Atau bahkan memanfaatkan teknologi canggih kita hujan buatan atau Teknologi modifikasi cuaca. “Sudah tiga pesawat dikirim dalam rangka kebakaran hutan,” ujarnya. Hujan buatan dibutuhkan bantuan dari awan. Ini agak mahal biayanya. Tapi diperkirakan menurut BMKG, musim kemarau hanya sampai November 2011, lanjutnya.

Untuk angka panjang, program diversifikasi pangan sehingga tidak bergantung pada beras. Selain itu, memanfaatkan debit air sungai meskipun dalam keadaan menyusut. Namun, dengan teknologi tinggi dapat memaksimalkan penggunaan air pada irigasi, listrik dan sebagainya. Diadakan juga kerja bersama melakukan gerakan penghijauan.

Selain itu, beberapa Pemda di Indonesia mulai berusha mencari penyebab dan mengatasinya. Salah satunya, penggerusan bukit-bukit yang ada di Bandar Lampung ditengarai sebagai penyebab kekeringan yang terjadi dalam waktu beberapa bulan belakangan ini. Oleh karena itu, Pemerintah Kota (pemkot) meminta kepada masyarakat untuk menghentikan penggerusan.

Sekretaris Kota Badri Tamam mengatakan, salah satu penyebab dari kekeringan adalah gundulnya bukit-bukit. Menurutnya, bukit-bukit adalah tempat resapan air. "Oleh karena itu, saya meminta kepada masyarakat untuk menghentikan penggerusan bukit," ujarnya kepada wartawan.

Ia mengutarakan, pemkot menginginkan agar masyarakat menghentikan penambangan di bukit-bukit. Ini perlu dilakukan untuk menjagai keseimbangan alam. Sehingga, paparnya, tidak terjadi lagi kekeringan berkepanjangan.

Menurutnya, kalau bukit tidak terjaga akan berdampak pada kekeringan. Badri mengutarakan, dalam menjaga kealamian bukit-bukit bukan tugas pemerintah semata. Ia mengatakan, semua pihak harus menjaga kelestarian alam agar hal seperti kekeringan tidak terjadi.

Ia mengungkapkan, masyarakat yang ada di sekitar bukit-bukit harus menyadari tentang pentingnya keaslian bukit-bukit. Pemkot sendiri hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan penggerusan. Ini dikarenakan, bukit-bukit tersebut bukanlah lahan yang dimiliki pemkot

Sementara itu, Nurhayati, Kepala Pusat Ikim Agroklimat dan Iklim Maritim (PIKAM) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, meminta masyarakat tidak risau menghadapi kekeringan yang saat ini berlangsung. Pihaknya memperkirakan pertengahan Oktober mendatang hujan mulai membasahi Indonesia secara umum.

“Awal musim hujan umumnya terjadi Oktober besok sebanyak 131 zona musim (zom) atau 38,3%. Dan November sebanyal 121 zom (35,38%),” katanya.

Di beberapa daerah lainnya, katanya, awal musim hujan sudah terjadi pada Agustus sebanyak 9 zom, dan September 29 zom. Juga diperkirakan pada Desember sebanyak 43 zom, Maret 2012 sebanyak 6 zom, Apri 2012 sebanyak 2 zom, dan Mei 2012 sebanyak 1 zom.

Jika dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun (1981-2010), ujar Nurhayati, awal musim hujan 2011/2012 sebagian besar daerah yaitu 213 zom (62,28%) sama dengan rata-ratanya. Sementara itu, 87 Zom (25,44%) mundur terhadap rata-ratanya. Sedangkan yang maju terhadap rata-rata 42 Zom (12,28%).

Menurut dia, sifat hujan selama musim hujan 2011/2012 di sebagian besar daerah yaitu 267 zom (78,07%), diperkirakan normal dan 40 zom (11,70%) atas normal. Sedangkan yang berada di bawah normal 35 zom (10,23%)

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan krisis air di Pulau Jawa sebenarnya telah terjadi sejak lama. Krisis air ini semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, degradasi lingkungan dan menurunnya ketersediaan air.

Menurut kajian Bappenas (2005), untuk wilayah di luar Jabodetabek ditemukan bahwa sekitar 77 persen kabupaten/kota di Jawa telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun. Pada 2025 jumlah kabupaten/kota yang defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78,4 persen dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan, atau defisit sepanjang tahun.

“Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut, terdapat 38 kabupaten/kota atau sekitar 35 persen telah mengalami defisit tinggi. Khusus wilayah Jabotabek yang 60 persen pasokan dari waduk Jatiluhur, sekitar 50 persen kabupaten/kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada 2025,” paparnya.

Menurutnya, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. Upaya penyediaan air melalui pemanenan air hujan saat musim penghujan dan konservasi tanah perlu dilakukan.

Saat ini Kementrian Pekerjaan Umum, PU, telah menetapkan enam dari 16 waduk besar di Indonesia saat ini ditetapkan dalam keadaan waspada, atau satu tingkat di bawah bahaya.

'Sepuluh waduk masih dalam kondisi normal, tetapi enam masuk dalam kategori waspada, yaitu Saguling, Cirata, Jatiluhur di Jawa Barat, Sermo di Yogyakarta, Waduk Bili Bili Sulawesi Selatan dan Lahor, Karang Kates Jawa Timur,' tutur Dirjen Sumber Daya Air, Kementrian PU, Muhammad Amron kepada wartawan.

Penyebabnya adalah kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Walau dalam kondisi waspada, waduk-waduk itu masih bisa berfungsi untuk membangkitkan listrik maupun menyalurkan air bersih dan irigrasi.

'Tinggi air di enam waduk tersebut menurun. Di Jatiluhur saat ini sudah mencapai 92 meter. Lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 102 pada periode yang sama,' kata Amron. Tetapi Amron memastikan pasokan air dari enam waduk tersebut masih dalam kondisi aman.

'Contohnya Jatiluhur, pasokan air masih bisa dialirkan meski ketinggian mencapai 70 meter karena yang terendah adalah 59,' tambah Amron. Diperkirakan ketersediaan air di enam waduk ini masih mencukupi sampai bulan Oktober atau ketika mulai masuk musim hujan.

Langkah penghematan

"Tinggi air di enam waduk tersebut menurun. Di Jatiluhur saat ini sudah mencapai 92 meter. Lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 102 pada periode yang sama," ujar Muhammad Amron

Rendahnya curah hujan di puncak musim kemarau tahun ini menimbulkan kekhawatiran kekeringan di sejumlah wilayah di Indonesia mengingat pasokan air yang semakin terbatas. Menurut Muhammad Amron, teknologi modifikasi cuaca dengan membuat hujan buatan baru bisa diterapkan di akhir musim kemarau ketika sudah ada bibit uap.

Oleh karena itu, saat ini yang bisa dilakukan adalah pengelolaan waduk dengan cara penghematan. Muhammad Amron mengatakan penghematan terutama dilakukan untuk irigasi pertanian. 'Saat ini bukan pada musim tanam, jadi pasokan air untuk irigasi ke pertanian tidak menjadi prioritas, hanya di irigasi sesuai kapasitas yang ada.'

Terkait dengan bencana tersebut, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 3 triliun untuk mengatasi bencana kekeringan di sejumlah daerah di Indonesia, terutama yang mengalami defisit air.

“Dana Rp3 triliun untuk mengatasi berbagai kebutuhan selama kekeringan agar tidak menimbulkan kerawanan pangan,” ujar Menko Kesra, Agung Laksono.

Dia menambahkan, dana sebesar itu dipergunakan untuk jangka pendek dan panjang. Untuk jangka pendek akan disediakan beras sebanyak 100 ton untuk menghindari terjadinya kerawanan pangan. So, kita harus siap-siap untuk melakukan penghematan air...

Related posts