Tantangan Suku Bunga

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Saat ini bank sentral di banyak negara berkembang dan emerging sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan dinamis. Di satu sisi mereka harus membuat kebijakan moneter yang dapat meredam risiko capital outflow akibat dihentikannya stimulus moneter di AS dan kenaikan suku bunga The Fed. Di sisi lain kebijakan tersebut juga perlu melihat dampaknya terhadap perekonomian domestik utamanya pertumbuhan ekonomi dan sektor riil. Over likuiditas akibat diterapkannya quantitative easing di Amerika Serikat membuat dana asing yang bersifat jangka pendek deras mengalir ke negara berkembang dan emerging. Derasnya aliran dana jangka pendek semakin meningkatkan risiko guncangan di pasar keuangan apabila terjadi sudden reversal.

Meski Bank Sentral Eropa dan Bank of Japan juga melakukan stimulus moneter non-konvesional saat ini, hal tersebut belum dapat menghapuskan risiko guncangan pasar keuangan dunia kalau The Fed pada akhirnya memutuskan menaikkan suku bunga. Salah satu instrumen moneter yang digunakan oleh bank sentral untuk mengurangi risiko capital outflow, termasuk oleh Bank Indonesia, adalah kebijakan penetapan suku bunga. Melalui dinaikkanya suku bunga maka imbal hasil investasi di dalam negeri akan menjadi lebih menarik. Sehingga hal ini mengurangi derasnya aliran dana keluar ketika penyesuaian suku bunga dilakukan oleh The Fed.

Memang menaikkan suku bunga dapat mengurangi risiko pembalikkan modal kembali ke Amerika Serikat, namun akibat dari menaikkan suku bunga juga berdampak pada pelemahan perekonomian suatu negara. Di sinilah tantangan kebijakan suku bunga yang sedang dihadapi atau akan dihadapi oleh banyak bank sentral di berbagai negara berkembang. Bank Indonesia sendiri beberapa waktu yang lalu telah menurunkan BI Rate 25 basis poin menjadi 7,5%. Selain melihat pengendalian inflasi di dalam negeri cukup terkendali dalam beberapa bulan yang lalu, penurunan BI Rate ini juga dapat diartikan sebagai memberikan ruang bagi penyesuaian ketika The Fed menaikkan suku bunga. Sehingga ketika penyesuaian BI Rate dilakukan sebagai langkah respon terhadap kenaikan suku bunga The Fed tidak akan terlalu membebani ekonomi domestik dan sektor riil kita.

Sepanjang tahun 2015 sudah dapat dipastikan kebijakan suku bunga di banyak negara berada dalam kewaspadaan yang sangat tinggi. Otoritas moneter akan terus melihat langkah-langkah yang akan ditempuh oleh The Fed. Risiko pembalikkan modal keluar dari pasar modal, pasar obligasi dan pasar valas mendapatkan perhatian khusus. Utamanya mengendalikan aliran modal jangka pendek yang sewaktu-waktu dapat keluar dengan cepat. Sehingga dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan domestik. Pengalaman Indonesia pada 1997-1998 perlu kita waspadai.

Namun pada krisis ekonomi dunia 2008 akibat Supbrime Mortgage kita relatif berhasil meredam gejolak pasar keuangan domestik.Tentunya kita optimistis bahwa koordinasi yang baik antara Pemerintah dan BI akan mampu merumuskan kebijakan yang tepat untuk memitigasi risiko yang akan muncul akibat kenaikan suku bunga The Fed apabila hal tersebut dilakukan pada tahun ini.

Related posts