Saatnya Momentum Tepat Untuk Go Public

NERACA

Jakarta– Melesatnya pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga menembus rekor baru ke level 5.400 menjadi momentum tepat untuk melakukan aksi korporasi penawaran saham public (IPO).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwatahun inimerupakan waktu yang tepat bagiperusahaanpertambangan untuk melakukan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) karena sedang menurunnya harga komoditas tambang.

Deputi Komisioner bidang Pengawasan Sektor Riil OJK Poltak Sihotang mengatakan, pembiayaan dalam pengembangan perusahaan di sektor pertambangan membutuhkan alternatif lain selain perbankan, yaitu pasar modal.

Menurut dia, untuk mencari modal dari perbankan lebih sulit karena ketatnya likuiditas saat ini,” Pasar modal juga memiliki pendanaan yang cukup besar. Pendanaan melalui pasar modal juga bisa dilakukan, terutama untuk memenuhi kewajiban, yaitu bangun smelter. Harga penawaran saham pun masih menarik bagi investor," ujarnya di Jakarta, Kamis (26/2).

Poltak mengakui terdapat risiko bagi investor yang masuk di sektor tambang, antara lain risiko terhadap kebijakan pemerintah, dan pasar serta produk yang tidak dapat diperbaharui dan ketidakpastian penemuan cadangan produksi,”Harus menambah alat indeks untuk investor bisa memahami investasi," jelas dia.

Menurutnya, pengembangan industri di sektor pertambangan dapat berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,7% pada tahun ini.

Di samping itu, pendanaan masih dibutuhkan lantaran Indonesia akan membangun pembangkit listrik sebesar 35.000 megawatt (MW) untuk melengkapi infrastruktur listrik dan meningkatkan perekonomian,”Ini juga diharapkan dengan adanya pembiayaan di pasar modal dapat berkontribusi besar dalam mendapatkan kebutuhan pendanaan," pungkasnya

Sebelumnya, BEI mengemukakan perusahaan pertambangan masih ragu melakukan penawaran saham perdana atauinitial public offering(IPO). Saat ini, baru satu perusahaan tambang yang menyatakan minatnya melakukan IPO,”Memang masih baru satu yang menyatakan minatnya kepada kami," ujar Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Hoesen.

Dia menjelaskan, aturan yang dibuat pihaknya bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan mineral dan batu bara yang sudah mendapat Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Operasi produksi dari instansi yang berwenang, baik yang belum berproduksi maupun perusahaan yang sudah sampai pada tahap penjualan.Di tempat yang sama, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, Profesor Irwandi Arif mengatakan, saat ini dengan turunnya harga komoditas tambang sangat berpengaruh pada kinerja perusahaan. Saat ini dinilai sebagai waktu kurang tepat untuk IPO.

Turunya harga komoditas ini masih akan berlanjut hingga 2016. Selagi menambahkan bahwa aturan diatas harus di lengkapi bahwa perusahaan tambang yang dimaksud adalah yang memiliki cadangan mineral yang signifikan.

BERITA TERKAIT

Perusahaan di Papua Didorong Go Public

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua mendorong perusahaan-perusahaan lokal di wilayahnya untuk dapat "go public" melalui kerja sama dengan PT Bursa Efek…

Dirut PT SMART Disebut Setujui Suap untuk DPRD Kalteng

Dirut PT SMART Disebut Setujui Suap untuk DPRD Kalteng NERACA Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT SMART Tbk Jo Daud…

Menteri Sosial - Pengawalan Bansos untuk Capai 6T

Agus Gumiwang Kartasasmita Menteri Sosial Pengawalan Bansos untuk Capai 6T  Jakarta - Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kerja sama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…